<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271</id><updated>2012-02-16T16:43:28.677+07:00</updated><title type='text'>ARTIKEL ISLAM</title><subtitle type='html'>ini adalah kumpulan artikel-artikel dari  Jalaluddin Rakhmat</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-1094899378541090191</id><published>2010-08-12T10:51:00.000+07:00</published><updated>2010-08-12T10:52:07.863+07:00</updated><title type='text'>Mencari kenikmatan shalat</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, Verdana; font-size: 14px; color: rgb(61, 61, 60); -webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; "&gt;&lt;p&gt;Saya diminta untuk berbicara tentang nikmat salat. Terlebih dahulu kita akan bertanya, “di mana letak kenikmatan salat itu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada kawan saya yang telah mendatani beberapa guru, belajar beberapa aliran tarekat, dengan maksud ingin merasakan kenikmatan salat. Dia pernah hadir dalam sebuah pengajian. Dari gurunya, dia diberi bermacam macam bacaan yang harus diucapkan sebelum salat; agar salatnya memperoleh kekhusyukan dan kenikmatan&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Dia salat bersama kawannya yang lain. Semua orang menangis terisak isak waktu salat. Dia sendiri tidak bias menangis. Dia memandang kenikmatan salat itu berasal dari tangisan. Makin keras menangis diwaktu salat, makin banyak air mata keluar, makin terasa salat itu nikmat baginya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kawan saya ini, seorang purnawerawan, sukar sekali menangis kalau salat. Tetapi dia bercerita kepada saya bahwa dia mudah menangis, kalau dia meliaht dalam televisi atau mendengar radio seorang anak manusia yang menderita karena dianiaya atau disakiti hatinya. Dia memperoleh kenikmatan dalam menangis itu, tetapi tangisan yang sama tidak bias dia keluarkan ketika dia salat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kawan saya itu bertanya bagaimana caranya menangis dengan keras dalam salat. Dia ingin merasakan kenikmatan salatnya. Pada saat itu saya katakana kepadanya, “bapak lebih baik menangis ketika melihat penderitaan orang lain ketimbang menangis pada waktu salat. Menangis yang pertama lebih bermanfaat ketimbang menangis yang kedua.  Menangis di waktu salat mungkin hanya menguntungkan diri anda saja. Boleh jadi, tidak ada bekasnya sesudah itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kawan saya lalu bercerita “betul saya pernah menyaksikan seseorang dalam rombongan jamaah haji. Ketika dia salat di masjidil haram, dia menangis keras. Tetapi begitu keluar dari masjid! Haram, dia tertawa terbahak-bahak. Tidak tampak bekas tangisan itu di luar masjidil haram itu.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buat saya, kenikmatan salat tidak diukur dengan kemempuan menanis. Memang tidak ada jeleknya menangis ketika salat. Nabi sendiri mengajarkan kepada kita untuk menangis. Beliau bersabda: “kalau kamu tidak bisa menangis, maka usahakan supaya kamu dapat menangis”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siti aisayah pernah bercerita bahwa di tengah malam, pernah Rasulullah saw bangun. Dia menemuinya dan mengatakan :”hai aisyah, izinkanlah saya beribadah pada tuhanku”. Aisyah berkata, “Ya rasulullah, aku senang engkau dekat denganku. Tetapi aku juga lebih senang jika engkau beribadah kepada tuhanmu.” Lalu Rasulullah mengambil wadah air satu satunya perkakas rumah tangga di rumanya untuk berwudu dan melakukan salat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siti aisyah bercerita, baru saja rasuullah mengangkat tangannya, ketika dia memasuki surah yang dibacanya, rasulullah terisak isak menagis. Bilal bertanlya, “Ya Rasulullah, mengapa engaku mengais padahal Allha telah mengampui dosa dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian?” waktu itu Rasulullah menjawab, “bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian rasulullah bersabda:”pada malam ini turun satu ayat al-Quran. Celakalah orang yang membaca ayat al-Quran ini, tapi tidak merenungkan maknyanya. Kemudian Rasulullah membacakan ayat:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS 3:190)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasulullah saw salat dalam keadaan menangis. Para awliya’, orang orang saleh juga menangis pada waktu salat. Kita juga dianjurkan, kalau bisa, salat dalam keadaan menangis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena orang melihat contoh dari Rasulullh saw, sahabat, dan para kekasih Allah, maka mereka menduga bahwa kenikmatan salat hanya terletak pada tangisan. Kalau dia tidak bisa menangis pada waktu salat, maka orang membuat cara bagaimana membuat suasana agar bisa menangis ketika berdoa. Sehingga ada yang kita sebut rekayasa spiritual&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dahulu dan mungkin belakanan ini ada anak anak muda yang dididik dalam training training; apakah itu pesantren kilat, atau studi islam intensif, atau apa saja namanya. Pada hari terakhir acara biasanya, pada tengah malam, diadakanlah apa yang disebut renungan suci. Renungan suci ini dinilai berhasil apabila semua peserta menangis terisak-isak. Lebih berhasil lagi kalau dia menangis histeris dan sesudah itu dia dirawat di rumah sakit jiwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka berkata bahwa dengan tangisan itu orang merasakan kenikmatan salat. Sekali lagi, itu tidak salah. Kalau bisa menangislah ketika salat itu. Sadari segala dosa-dosa dan perbuatan yang tercela. Mohonkan ampunan di waktu salat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan tetapi, biasanya dari pengalaman banyak orang dan juga dicontohkan oleh Rasulullah saw, salat dengan menangis itu umumnya hanya bisa dilakukan kalau kita sedang melakukan salat malam. Saya belum membaca keterangan hadis Rasulullah saw bahwa beliau menangis pada waktu salat fardu. Kita hanya mendengar riwayat tangisan Rasulullah itu ketika beliau melakukan salat sunat, terutama sekali salat malam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nabi mengajarkan kepada kita bagaimana cara menangis ketika Salat malam. Akan saya sampaikan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dan lakukanlah apa yang diajarkan oleh Rasulullah itu. Saya menjamin bahwa saudara akan terisak-isak menangis ketika melakukannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama, ketika salat malam, salatlah dua rakaat, dua rakaat, karena Rasulullah saw paling sering melakukan salat malam dua rakaat. Sesudah empat kali dua rakaat, anda lakukan lagi salat dua rakaat lagi yang disebut dengan salat syafa’. Pada rakaat pertama, anda baca surah al-fatihah dengan al-kafirun; dan pada rakaat yang kedua, anada baca surah al-fatihah dengan al-iklas. Kemudian lakukanlah salat witir.bacalah surah al-fatihah, surah al-falaq dan surah an-nas. Kemudaian bacalah istighfar tujuh puluh kali. Aku memohon ampun kepada Allah dan kembali kepada-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memohon ampounan di waktu dini hari, pada saat salat malam ditegaskan di dalm al-Quran sebagai salah satu tanda orang-orang yang bertakwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan di akhir-akhir malam mereka memohon kepada Allah (QS 51:18)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah istigfar, sebelum ruku’, bacalah doa:”hadza maqamul aidzi bika minannar” yang artinya, “Ya Allah, inilah saya yang berlindung kepada-Mu dari api neraka,” sebanyak 7kali&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesudah itu, doakan kaum mukminin dan mukminat. Sebut nama mereka satu per satu. Paling sedikit empat puluh orang. Kamudian kita berdoa untuk diri kita sendiri. Lalu kita ruku, iktidal, sujud, tahyat kamudian salam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Insya Allah, anda akan merasakan kenikmatan menangis pada waktu dini hari. Menangis di hadapan Allah SWT.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa? Pada waktu salat fardhu kita malah dianjurkan untuk memperpendek bacaan salat, karena boleh jadi ada orang yang hendak melakukan keperluannya di tempat lain. Mungkin juga ada orang yang sangat tua, atau ada di antara pengikut salat yang sedang sakit. Karena itu Rasulullah hanya memperpanjang salatnya pada saat beliau melakukan salat malam. Pada salat fardu Rasulullah tidak melazimkan melakukan salat yang panjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya kira bahwa menangis yang tulus, tanpa rekayasa, adalah menanis pada waktu kita menangis dalam keadaan ramai-ramai, maka boleh jadi sebab tangisan itu adalah sugesti kelompok; karena kita mendengar orang lain sesenggukan, kita ikut menangis juga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin ada oaring yang tulus juga dalam menangis pada salat bersamaan itu, tetapi saya kira lebih tulus lagi kalau anda menangis pada waktu sendirian, ketika kita berduaan dengan Allah SWT. Tangisan yang keluar spontan. Tangisan yang iklas. Dan mata yang menangis karena Allah SWT. Artinya, kalau seseorang menemukan tanda-tanda seperti yang diungkapkan oleh hadis tersebut dalam salatnya, maka insyaAllah dia akan menemukan kenikmatan salat dalam bentuk yang lain. Dia akan merasakan manfaat di dalam kehidupannya. Ada kenikmatan tertentu yang dia peroleh dari salatnya. Bukan hanya kenikmatan menangis saja, tetapi juga kenimatan yang lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau selama ini salat kita belum mendatangkan kenikmatan, maka besar kemungkinan salat kita belum diterima oleh Allah SWT. Rasulullah saw yang mulia bersabda:”pada hari kiamat nanti ada orang yang membawa salatnya kepada Allah SWT. Bahkan ada yang celaka dengan salatnya. Allah SWT berfirman:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Celakalah orang-orang yang salat. yaitu orang orang yang melalaikan salatnya&lt;/em&gt;(QS 107:4-5)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sumber: at-tanwir&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-1094899378541090191?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/1094899378541090191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=1094899378541090191&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1094899378541090191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1094899378541090191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2010/08/mencari-kenikmatan-shalat.html' title='Mencari kenikmatan shalat'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-6418562983361402022</id><published>2010-08-12T10:49:00.002+07:00</published><updated>2010-08-12T10:50:56.873+07:00</updated><title type='text'>Shalat Yang Diterima Tuhan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: medium; "&gt;&lt;table border="0" width="500px" align="center" id="listceramah" style="font-family: Calibri, Verdana; font-size: 14px; color: rgb(61, 61, 60); "&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="500px"&gt;&lt;span&gt;Saya akan memulai pembahasan ini dengan hadis-hadis Rasulullah saw. Yang ada hubunganya dengan salat dan ada pula hubungannya dengan kemasyarakatan.&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Rasulullah saw. Pernah bersabda: “Akan datang suatu zaman, orang-orangnya berkumpul di masjid berjamaah tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang mukmin.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam hadis lain, yang dimuat didalam kitab Kanzul ‘Ummal, Rasulullah saw. Juga bersabda: “ nanti akan datang suatu zaman; seorang muazin berazan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi diantara mereka tidak ada yang mukmin”.(hadis no.3110)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sabda-sabda Rasulullah yang mulia di atas menarik bagi kita karena ada sekelompok orang berjamaah melakukan salat tetapi tak ada seorangpun di antara mereka yang mukmin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Pada gilirannya muncul sebuah pertanyaan di benak kita, “mengapa salat yang mereka lakukan tidak di anggap sebagai tanda seorang yang mukmin? Dan mengapa orang yang salat di masjid itu tidak dihitung sebagai orang yang mukmin?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menunjukan tanda-tanda orang mukmin itu. Salat bukanlah tanda bahwa seseorang dianggap mukmin, tetapi salat merupakan tanda bahwa dia sebagai orang muslim. Oleh karena itu, tanda seorang mukmin ialah salat ditambah dengan yang lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Saya ingin menyebutkan karakteristik orang mukmin yang dimuat dalam Shahih Bukhari, bahwa Rasulullah yang mulia bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;2. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia senang menyambungkan tali persaudaraan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;3. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia berbicara yang benar, dan kalau tidak mampu bicara dengan baik, maka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;lebih baik ia berdiam diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;4. Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dengan hanya mengambil empat buah hadis itu anda melihat bahwa tanda seorang mukmin itu terlihat dari tanggung jawabnya di tengah-tengah masyarakatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kalau dia menghormati tetangganya, kalau dia menyambungkan tali persaudaraan, dan kalau dia berbicara benar atau memiliki keprihatinan di antara penderitaan  yang dirasakan oleh saudara di sekitarnya, maka baru boleh dikatakan bahwa dia adalah seorang mukmin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Jadi, dengan kata lain, Rasulullah saw. Menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman yang orang-orangnya berkumpul di masjid untuk mendirikan salat tetapi tidak akur dengan tetangganya, yaitu tidak menyambungkan tali persaudaraan di antara kaum muslim. Dia menyebarkan fitnah dan tuduhan yang tidak layak terhadap kaum muslim. Mereka melaksanakn salat tetepi tidak sanggup mengatakan kalimat yang benar. Mereka melakukan salat tetapi acuh tak acuh dengan penderitaan yang dirasakan sesamanya. Kata Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang melakukan salat&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;akan tetapi tidak diterima salatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Rasulullah saw. Juga pernah bersabda: “ada dua orang umatku melakukan salat, yang rukuk dan sujudnya sama, akan tetapi nilai salat kedua orang itu jauhnya antara langit dan bumi.”?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam hadis qudsi, juga disebutkan tentang orang yang diterima salatnya oleh Allah SWT:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sesungguhnya Aku (Allah SWT) hanya akan menerima salat dari orang yang dengan salatnya ia merendahkan diri ke hadapan-Ku. Ia tidak sombong dengan makhluk-ku yang lain. Ia tidak menulangi maksiat kepada-ku. Ia menyayangi orang-orang yang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup salat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan suruh malaikat untuk menjaganya; orang itu akan memperkenankanya. Perumpamaan dia dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang diterima salatnya oleh Allah SWT. Pertama, dia datang untuk melaksanakan salat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Dalam al-Quran, keadaan seperti itu disebut dengan istilah khusyu’. Dan salat yang khusyu’ adalah salah satu tanda orang yang mukmin. Yang disebut dengan salat khusyu’ itu bukan yang tidak ingat apa pun. Karena yang tidak apapun itu disebut pingsan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bi Abi Thalib k.w. kalau beliau hendak melakukan salat tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Sehingga ketika ada orang yang bertanya kepadanya,”mengapa anda ya amirul mukminin?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sayyidina Ali menjawab,”engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi aku akan menghadapi waktu amanah.” Kemudian sayyidina Ali membacakan sebuat ayat Al-Qur’an:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh menusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. &lt;/em&gt;(QS 33;72)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kemudian sayyidina Ali melanjutkan ucapannya, “salat adalah suatu amanat Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan bukit untuk memikulnya, tetapi mereka menolaknya dan hanya manusia yang sanggup memikulnya. Memikul amanat mengabdi kepada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kedua, dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Jadi, anda orang yang diterima salatnya ialah tidak takabur. Takabur, menurut Al-Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar dari pada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi karena ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak-buah dan kecantikannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kalau anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka anda sudah takabur. Dan salat anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain, disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: ”tidak akan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali sifat takabur menghinggapi para aktivis masjid atau akitvis kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengan ilmunya dan menganggap dirinya yang paling benar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Ketiga, tanda orang yang diterima salatnya ialah orang yang tidak mengulangi maksiatnya kepada Allah SWT. Nabi yang mulia bersabda: “barangsiapa yang salatnya tidak mencegahnya dari kejelekan dan kemungkaran, maka salatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah SWT.”Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. Mengatakan: “nanti pada hari kiamat ada orang yang membawa salatnya di hadapan Allah. Kemudian salatnya diterima dan dilipa-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian yang kotor dan usang. Lalu salat itu dibantingkan ke wajahnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Allah tidak menerima salat itu karena salatnya tidak dapat mencegah perbuatan maksitnya setelah ia melakukan maksiat tersebut. Bukankah al-Qur’an telah mengatakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;… sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar….&lt;/em&gt; (QS 29:45)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Keempat, orang yang diterima salatnya ialah orang yang menyayangi orang-orang miskin. Kalau diterjemahkan dengan kalimat modern ialah orang yang mempunyai solidaritas social. Dia bukan hanya melakukan ruku’ dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan rizkinya untuk membahagiakan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kalau dalam salat anda, anda sudah merasakan kebesaran Allah dan tidak takabur, dan kalau anda sudah tidak mengulangi perbuatan maksiat sesudah salat; dan kalau anda sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap kesejateraan orang lain, maka Allah akan melindungi anda dengan jubah kebesaran-Nya Allah akan memberikan kepada anda kemulian dengan kemuliaan-Nya, dan akan membungkus anda dengan busana kebesaran-Nya. Di samping itu, Allah akan menyuruh para malaikat untuk menjaga anda; dan para malaikat itu akan berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu mempreoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu (QS 41:31)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="100px" align="left"&gt;sumber: At-tanwir&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-6418562983361402022?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/6418562983361402022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=6418562983361402022&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6418562983361402022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6418562983361402022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2010/08/shalat-yang-diterima-tuhan_12.html' title='Shalat Yang Diterima Tuhan'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-6509172768537262162</id><published>2010-08-12T10:49:00.001+07:00</published><updated>2010-08-12T10:49:46.065+07:00</updated><title type='text'>Shalat Yang Diterima Tuhan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: medium; "&gt;&lt;table border="0" width="500px" align="center" id="listceramah" style="font-family: Calibri, Verdana; font-size: 14px; color: rgb(61, 61, 60); "&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="500px"&gt;&lt;span&gt;Saya akan memulai pembahasan ini dengan hadis-hadis Rasulullah saw. Yang ada hubunganya dengan salat dan ada pula hubungannya dengan kemasyarakatan.&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Rasulullah saw. Pernah bersabda: “Akan datang suatu zaman, orang-orangnya berkumpul di masjid berjamaah tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang mukmin.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam hadis lain, yang dimuat didalam kitab Kanzul ‘Ummal, Rasulullah saw. Juga bersabda: “ nanti akan datang suatu zaman; seorang muazin berazan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi diantara mereka tidak ada yang mukmin”.(hadis no.3110)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sabda-sabda Rasulullah yang mulia di atas menarik bagi kita karena ada sekelompok orang berjamaah melakukan salat tetapi tak ada seorangpun di antara mereka yang mukmin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Pada gilirannya muncul sebuah pertanyaan di benak kita, “mengapa salat yang mereka lakukan tidak di anggap sebagai tanda seorang yang mukmin? Dan mengapa orang yang salat di masjid itu tidak dihitung sebagai orang yang mukmin?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menunjukan tanda-tanda orang mukmin itu. Salat bukanlah tanda bahwa seseorang dianggap mukmin, tetapi salat merupakan tanda bahwa dia sebagai orang muslim. Oleh karena itu, tanda seorang mukmin ialah salat ditambah dengan yang lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Saya ingin menyebutkan karakteristik orang mukmin yang dimuat dalam Shahih Bukhari, bahwa Rasulullah yang mulia bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;Barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;2. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia senang menyambungkan tali persaudaraan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;3. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia berbicara yang benar, dan kalau tidak mampu bicara dengan baik, maka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;lebih baik ia berdiam diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;4. Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dengan hanya mengambil empat buah hadis itu anda melihat bahwa tanda seorang mukmin itu terlihat dari tanggung jawabnya di tengah-tengah masyarakatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kalau dia menghormati tetangganya, kalau dia menyambungkan tali persaudaraan, dan kalau dia berbicara benar atau memiliki keprihatinan di antara penderitaan  yang dirasakan oleh saudara di sekitarnya, maka baru boleh dikatakan bahwa dia adalah seorang mukmin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Jadi, dengan kata lain, Rasulullah saw. Menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman yang orang-orangnya berkumpul di masjid untuk mendirikan salat tetapi tidak akur dengan tetangganya, yaitu tidak menyambungkan tali persaudaraan di antara kaum muslim. Dia menyebarkan fitnah dan tuduhan yang tidak layak terhadap kaum muslim. Mereka melaksanakn salat tetepi tidak sanggup mengatakan kalimat yang benar. Mereka melakukan salat tetapi acuh tak acuh dengan penderitaan yang dirasakan sesamanya. Kata Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang melakukan salat&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;akan tetapi tidak diterima salatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Rasulullah saw. Juga pernah bersabda: “ada dua orang umatku melakukan salat, yang rukuk dan sujudnya sama, akan tetapi nilai salat kedua orang itu jauhnya antara langit dan bumi.”?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam hadis qudsi, juga disebutkan tentang orang yang diterima salatnya oleh Allah SWT:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sesungguhnya Aku (Allah SWT) hanya akan menerima salat dari orang yang dengan salatnya ia merendahkan diri ke hadapan-Ku. Ia tidak sombong dengan makhluk-ku yang lain. Ia tidak menulangi maksiat kepada-ku. Ia menyayangi orang-orang yang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup salat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan suruh malaikat untuk menjaganya; orang itu akan memperkenankanya. Perumpamaan dia dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang diterima salatnya oleh Allah SWT. Pertama, dia datang untuk melaksanakan salat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Dalam al-Quran, keadaan seperti itu disebut dengan istilah khusyu’. Dan salat yang khusyu’ adalah salah satu tanda orang yang mukmin. Yang disebut dengan salat khusyu’ itu bukan yang tidak ingat apa pun. Karena yang tidak apapun itu disebut pingsan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bi Abi Thalib k.w. kalau beliau hendak melakukan salat tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Sehingga ketika ada orang yang bertanya kepadanya,”mengapa anda ya amirul mukminin?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sayyidina Ali menjawab,”engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi aku akan menghadapi waktu amanah.” Kemudian sayyidina Ali membacakan sebuat ayat Al-Qur’an:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh menusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. &lt;/em&gt;(QS 33;72)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kemudian sayyidina Ali melanjutkan ucapannya, “salat adalah suatu amanat Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan bukit untuk memikulnya, tetapi mereka menolaknya dan hanya manusia yang sanggup memikulnya. Memikul amanat mengabdi kepada-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kedua, dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Jadi, anda orang yang diterima salatnya ialah tidak takabur. Takabur, menurut Al-Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar dari pada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi karena ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak-buah dan kecantikannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kalau anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka anda sudah takabur. Dan salat anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain, disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: ”tidak akan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali sifat takabur menghinggapi para aktivis masjid atau akitvis kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengan ilmunya dan menganggap dirinya yang paling benar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Ketiga, tanda orang yang diterima salatnya ialah orang yang tidak mengulangi maksiatnya kepada Allah SWT. Nabi yang mulia bersabda: “barangsiapa yang salatnya tidak mencegahnya dari kejelekan dan kemungkaran, maka salatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah SWT.”Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. Mengatakan: “nanti pada hari kiamat ada orang yang membawa salatnya di hadapan Allah. Kemudian salatnya diterima dan dilipa-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian yang kotor dan usang. Lalu salat itu dibantingkan ke wajahnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Allah tidak menerima salat itu karena salatnya tidak dapat mencegah perbuatan maksitnya setelah ia melakukan maksiat tersebut. Bukankah al-Qur’an telah mengatakan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;… sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar….&lt;/em&gt; (QS 29:45)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Keempat, orang yang diterima salatnya ialah orang yang menyayangi orang-orang miskin. Kalau diterjemahkan dengan kalimat modern ialah orang yang mempunyai solidaritas social. Dia bukan hanya melakukan ruku’ dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan rizkinya untuk membahagiakan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Kalau dalam salat anda, anda sudah merasakan kebesaran Allah dan tidak takabur, dan kalau anda sudah tidak mengulangi perbuatan maksiat sesudah salat; dan kalau anda sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap kesejateraan orang lain, maka Allah akan melindungi anda dengan jubah kebesaran-Nya Allah akan memberikan kepada anda kemulian dengan kemuliaan-Nya, dan akan membungkus anda dengan busana kebesaran-Nya. Di samping itu, Allah akan menyuruh para malaikat untuk menjaga anda; dan para malaikat itu akan berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu mempreoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu (QS 41:31)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="100px" align="left"&gt;sumber: At-tanwir&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-6509172768537262162?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/6509172768537262162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=6509172768537262162&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6509172768537262162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6509172768537262162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2010/08/shalat-yang-diterima-tuhan.html' title='Shalat Yang Diterima Tuhan'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-1681168558408056821</id><published>2010-08-12T10:46:00.003+07:00</published><updated>2010-08-12T10:46:58.687+07:00</updated><title type='text'>Haji Mabrur</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: medium; "&gt;&lt;table border="0" width="500px" align="center" id="listceramah" style="font-family: Calibri, Verdana; font-size: 14px; color: rgb(61, 61, 60); "&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="500px"&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;"Dan ibadah haji ke Rumah itu wajib bagi manusia karena Allah (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana” ( Ali Imran 96). Apakah ukuran mampu itu? Para sahabat Nabi SAW. Menyebutkan dua: ada bekal dan kendaraan. Tetapi Al-Dhahak, ulama besar yang pernah berguru kepada sahabat, hanya mensyaratkan tubuh yang sehat dan tenaga. Bila perlu, berangkatlah ke Baitullah walaupun berjalan kaki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sepanjang sejarah bekal dan kendaraan tidak menjadi keharusan. Ribuan muslim dari Afrika, Yaman, dan Negara-negara Timur-Tengah lainnya berangkat ke Mekah dengan berjalan kaki. Mereka tidur disekitar Masjidilharam, hanya dinaungi langit Hijaz yang tak berwarna. Burung-burung merpati melompat-lompat di samping kepala mereka. Rambut mereka berdebu, dan pakaian mereka lusuh. Tetapi barangkali merekalah yang menurut sebuah hadits di seru Tuhan pada hari Arafah, “ Hamba-hambaku datang kepadaku dengan rambut kusut dan pakaian lusuh dari sudut-sudut negeri yang jauh. Berangkatlah, wahai, hamba-hambaku, dengan ampunan-KU atasmu.” Mereka berseedia berangkat tanpa bekal yang cukup dan siap menderita untuk memperoleh ampunan Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Di Indonesia, banyak orang beruntung naik haji juga tanpa mempersiapkan bekal. Mereka diberi bekal dan tidak menderita. Ada lima jenis haji dalam kelompok ini. Jenis pertama adalah orang yang beruntung naik haji karena ditunjuk pemerintah untuk menjadi anggota tim pembimbing haji atau petugas yang melayani kepentingan jemaah. Orang – orang yang tidak kebagian jatah biasanya menyebut mereka itu “haji nurdin kosasih”- nutur dinas ongkos dikasih. Jenis kedua sebut saja haji getter. Mirip vote getter dalam pemilu. Mereka adalah tokoh umat Islam yang dipilih oleh perusahan ONH plus untuk menarik “konsumen” (Resminya, untuk menyertai dan membimbing jemaah) . jenis ketiga adalah “ haji bonus”. Mereka dapat naik haji karena memenangkan perlombaan (misalnya juara MTQ ) atau hadiah perusahaan atau bank. Jenis keempat adalah haji “rekanan”. Anda memegang jabatan yang basah. Rekan Anda telah mendapat fasilitas yang menguntungkan dari Anda. Ia menyampaikan terima kasihnya dengan memberi Anda bekal naik haji- kalau perlu, berikut keluarga Anda. Jenis yang terakhir adalah yang paling beruntung- “ haji bisnis”. Mereka adalah penyelenggara bisnis haji. Mereka berangkat ke Mekah, melakukan ibadah haji, dan memperoleh keuntungan. Mereka sudah jelas mendapatkan fiddunya hasanah dan mudah- mudahan fil akhirati hasanah juga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Apakah mereka termasuk kategori orang –orang yang mampu? Tentu saja. Kemampuan sekarang harus didefinisikan kembali. Anda sudah mampu bila Anda dapat sampai ke Tanah Suci dengan cara apa saja yang halal. Manakah yang mabrur-yang mempersiapkan bekal atau yang diberi bekal? Yang berjalan kaki atau berkendaraan, yang mendapat ratusan juta dari pembebasan tanah atau yang menabung puluhan tahun, yang memanfaatkan peluang sebagai TKI (TKW) di Arab Saudi atau yang datang ke sana dengan penerbangan regular dari mancanegara, yang tinggal di hotel Aziz Khogeer yang megah atau yang berdesakan di kamar rumah-rumah kumuh di Syi’b Ali?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Mabrurnya haji tak diukur dari cara memperoleh bekal, tidak dari tempat tinggal, tidak juga dari tingkat kepayahan. Haji adalah perjalanan rohani dari rumah-rumah yang selama ini mengungkung mereka menuju Rumah Tuhan. Haji yang mabrur adalah haji yang berhaasil mencampakkan sifat- sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat robaniah( ketuhanan). Ketika Abu Bashir terpesona mendengarkan gemuruh zikir orang-orang tawaf, Imam ja’far As- Shadiq mengusap wajahnya. Ia terkejut karena ia kemudian menyaksikan banyak sekali binatang di sekitar Baitullah. Ia sadar bahwa zikir saja tidak cukup untuk mabrur. Diperlukan trasformasi spiritual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Kepada Asy-Syibli yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji, Imam Zainal Abidin – sufi besar dari keluarga Nabi bertanya, “Ketika engkau sampai di miqat dan menanggal pakaian berjahit, apakah engkau berniat meniggalkan pakaian kemaksiatan dan mulai mengenakan busana ketaatan? Apakah engkau tanggalkan riya (suka pamer), kemunafikan, dan Syubhat? Ketika engkau berihram apakah engkau bertekad mengharamkan atas dirimu semua yang diharamkan Allah SWT? Ketika engkau menuju Mekah apakah engkau berniat untuk berjalan menuju Allah dan ketika engkau memasuki Masjidil Haram apakah engkau berniat untuk menghormati hak-hak orang lain dan tidak akan menggunjingkan sesama umat Islam? Ketika engkau sa’i apakah engkau merasa sedang lari menuju Tuhan diantara cemas dan harap? Ketika engkau wukuf di Arafah adakah engkau merasakan bahwa Allah mengetahui segala kejahatan yang kau sembunyikan dalam hatimu? Ketika engkau berangkat ke Mina apakah engkau bertekad untuk tidak mengganggu orang lain dengan lidahmu, tanganmu dan hatimu? Dan ketika engkau melempar Jumrah, Apakah engkau berniat memerangi iblis dalam sisa hidupmu? “ Ketika untuk semua pertanyaan itu Asy- Syibli menjawab tidak, Imam Zainal Abidin mengeluh, “ Ah… engkau belum ke miqat, belum ihram, belum tawaf, belum sa’i, belum wukuf, dan belum sampai ke Mina.” Asy- Syibli menangis. Pada tahun berikutnya ia berniat merevisi manasik hajinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;Dalam manasik keluarga Nabi, yang menjadi persoalan bukan lagi kemampuan untuk mendapat bekal dan kendaraan tetapi kesanggupan meninggalkan rumah-rumah kita yang kotor supaya bisa beristirahat di Rumah Allah yang suci. Bila berhasil, Anda Mabrur.&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="100px" align="left"&gt;sumber: At-tanwir&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-1681168558408056821?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/1681168558408056821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=1681168558408056821&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1681168558408056821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1681168558408056821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2010/08/haji-mabrur.html' title='Haji Mabrur'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-5224505704313984476</id><published>2010-08-12T10:35:00.001+07:00</published><updated>2010-08-12T10:36:26.456+07:00</updated><title type='text'>Haji Bukan Hanya Dzikir</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: medium; "&gt;&lt;table border="0" width="500px" align="center" id="listceramah" style="font-family: Calibri, Verdana; font-size: 14px; color: rgb(61, 61, 60); "&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="500px"&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Pada tahu keenam hijrah, Nabi Muhammad SAW. Bermaksud melakukan ibadah haji. Jamaah haji yang pertama ini berhenti di hudaibiyah untuk memulai ihram. Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Walupun Nabi menegaskan kedatangannya hanya untuk berhaji, berat bagi mereka untuk menyaksikan seorang warga yang pernah diusir datang dengan segala kebesaran. Mereka memandang, haji Nabi bukan sekadar ritual tapi politis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Melihat permusuhan yang diperlihatkan orang Mekkah, Nabi mengadakan taklimat kilat. Para sahabat bersumpah setia untuk membela Nabi. Suatu komitmen politik yang penting. Sumpah setia ini dikenal sebagai baiat Ridhwan. Ketegangan antara kedua belah pihak berakhir ketika Rasul Allah membuat perjanjian hudaibiyah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Setahun kemudan, sesuai dengan perjanjian itu, Nabi sekali lagi datang untuk melakukan umrah. Penduduk mekkah menyingkir ke bukit-bukit sambil mengintip, apa yang bakal dilakukan umat islam. Setelah perjalanan jauh, tentu saja para sahabat memasuki Mekkah dalam keadaan lelah. Tetapi, Nabi menyuruh sahabat tawaf sambil berlari. Ketika sa’I, diantara kedua titik yang ditandai dengan tiang hijau yang dahulu kelihatan jelas oleh “penonton” dari balik bukit, para sahabat disuruh berlari juga. Nabi ingin menunjukkan kekuatan umat islam. Semacam “show of force” . Setahun setelah itu, Rasulullah dan pengikutnya memang berhasil menaklukkan Mekkah tanpa perlawanan yang berarti. Apa yang dilakukannya pada umrah al-Qadha, telah berdampak politik yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Pada tahun 10H, Nabi Muhammad SAW melakukan ibadah haji akbar. Karena haji ini haji yang terakhir, ahli sejarah menyebutnya haji wada. Di Arafah, Nabi berkhotbah juga khotbah perpisahan. Apa yang dikatakan Nabi dalam khotbah itu? Sama sekali tidak berkenaan dengan ibadah ritual. Nabi memulai khotbahnya dengan menekankan kewajiban menghormati darah dan kehormatan seseorang. Sekarang, kita menyebutnya masalah hak asai manusia. Nabi meminta perhatian jamaah haji pada system ekonomi jahiliyah yang tidak adil yang diwujudkan pada praktek riba. Nabi juga berbicara tentang hak-hak wanita dan berpesan pada kaum mukmin untuk melindungi dan menghormati mereka. jadi, khotbah Nabi berkenaan dengan persoalan politik, ekonomi, dan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Di Mina, pada hari penyembelihan kurban, turun ayat “Baraah”, artinya dekrit pembebasan dari ketergantungan kepada kaum musyrik. Baraah adalah proklamasi kemerdekaan tanah suci. Di sana di bukit Mina, Ali bin Abi Thalib berdiri menyampaikan dekrit Nabi yang berisi antara lain: orang musyrik tidak boleh mendekati Baitullah, tidak boleh tawaf sambil telanjang, dan setiap perjanjian harus dipenuhi. Ali juga membacakan ayat Baraah: Dan pengumuman dari Allah dan utusan-Nya kepada manusia pada waktu haji akbar bahwa Allah berlepas diri dari kaum musyrik; begitu pulautusan-Nya..(9:3)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Tradisi ini dilanjutkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi. Umar bin khatab memanggil Amr bin Ash – gubernur Mesir- pada musim haji dan memintanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anaknya. Seorang warga mesir mengadu kepada khalifah bahwa anak Amr telah menjebloskannya ke penjara. Umar menghukum anak gubernur dengan cambukan di hadapan para jamaah haji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Waktu itu, Umar berkata, “hai Amr, mengapa engkau memperbudak manusia padahal ibunya telah melahirkannya sebagai orang merdeka.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Utsman bin Affan pernah mengirim surat ke raja daerah kekuasaan islam. Ia mengimbau rakyat untuk mengadukan segala perilaku birokrat yang merugikan rakyat.” Bila ada yang pernah dicacimaki atau dianiaya.” Tulislah dan, “datanglah pada musim haji supaya ia dapat mengambil haknya dari aku dan dari para pejabatku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Mengomentari kedua khalifah itu, Dr. Baidhawi dalam Al Ibadah fi al islami menulis, “ para khalifah menyadari nilai musim haji internasional ini. Mereka jadikan haji sebagai tempat pertemuan antara mereka dan rakyat yang datang dari sudut-sudut negeri yang jauh; antara mereka dan para pejabat mereka dari berbagai daerah. Bila ada orang yang tertindas atau ingin mengadukan halnya, ia dapat menemui khalifah tanpa perantara dan tanpa penghadang. Di sanalah rakyat dapat berhadapan dengan khlifah tanpa segan atau takut. Di situ, yang dianiaya dilindungi dan hak dikembalikan walaupun hal itu harus diambil dari pejabat atau bahkan khalifah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Menurut Al Quran, memang, ibadah haji memerintahkan “ agar mereka menyaksikan berbagai manfaat buat mereka dan berdzikir ( menyebut nama Allah) pada hari-hari yang ditentukan (Al-Haj 28) . serta para mufasir, ayat ini menyebutkan dua dimensi yaitu dimensi manfaat dan dimensi dzikir . Thabary, tafsir klasik, menyebut manfaat itu meliputi dunia dan akhirat. Syaltut. Syaikh Al- Azhar yang terkenal, meyebut dimensi-dimensi ipoleksosbud sebagai kandungan makna “manfaat”. Pada waktu hajilah kata Syaltut, bertemu para pemikir dan ilmuwan dan para ahli lainnya, inilah konferensi umat manusia yang terbesar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span&gt;Sayang, belakangan dimensi manfaat ini sudah diabaikan. Yang ditonjolkan – bahkan ditegaskan berkali kali untuk selalu diingat oleh para jamaah – adalah dimensi dzikir. Bila anda berangkat haji, niatkanlah hanya untuk ibadah haji. Bila anda pulang, pengalaman rohani sajalah yang harus anda ceritakan. Bagian pertama ayat itu seakan-akan sudah dicoret. Pedagang Indonesia dari berbagai daerah yang berjualan disekitar Masjid Al-Haram. Sekarang tidak. Dahulu, jamaah haji berbincang tentang situasi negeri mereka dan beberapa orang diantaranya pulang kenegerinya menjadi pejuang-pejuang kemerdekaan. Sekarang tidak. Bila ada juga diskusi antara para jamaah, yang didiskusikan adalah cara-cara ritual haji; tidak jarang sambil saling menyalahkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;Untunglah itu semua terjadi pada masyarakat awam. Ketika para menteri naik haji, kita tahu mereka berbincang dengan para pejabat di Arab Saudi bukan hanya tentang haji. Ketika para pemimpin islam berkumpul di Mekkah, mereka bukan melulu merundingkan prosedur umrah dan haji.&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="100px" align="left"&gt;sumber: At-tanwir&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-5224505704313984476?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/5224505704313984476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=5224505704313984476&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/5224505704313984476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/5224505704313984476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2010/08/haji-bukan-hanya-dzikir.html' title='Haji Bukan Hanya Dzikir'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-452741180445578353</id><published>2010-08-12T10:27:00.002+07:00</published><updated>2010-08-12T10:29:55.046+07:00</updated><title type='text'>maaf untuk semua</title><content type='html'>maaf untuk ketiadaan artikel baru sejak lama, sebab saya lupa password masuk ke blogspot &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-452741180445578353?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/452741180445578353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=452741180445578353&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/452741180445578353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/452741180445578353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2010/08/maaf-untuk-semua.html' title='maaf untuk semua'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-5457192417480262529</id><published>2007-12-04T08:56:00.001+07:00</published><updated>2007-12-04T08:59:34.219+07:00</updated><title type='text'>Transparansi Anggaran dalam Perspektif Islam</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sesungguhnya orang yang paling baik untuk kita ambil sebagai pekerja adalah orang yang memiliki kemampuan dan terpercaya”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“(QS. 28:26)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Nabi Muhammad SAW bersabda: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Janganlah kamu memperhatikan banyaknya shalat dan puasanya, jangan pula kamu perhatikan banyaknya haji dan kesalehannya. Tetapi perhatikanlah kejujurannya dalam menyampaikan informasi dan menjalankan amanat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Ali bin Abi Thalib berkata: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Kejujuran akan menyelamatkan kamu walaupun kamu takut kepadanya dan kebohongan mencelakan kamu walaupun tenteram karenanya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada tahun 38 H, khalifah Islam yang keempat Ali bin Abi Thalib mengangkat Malik al-Asytar sebagai Gubernur Mesir. Semula Malik menduduki jabatan sebagai Gubernur di Nashibin, sebuah daerah kecil yang tidak sekaya Mesir. Imam Ali sangat mencintainya karena keluhuran akhlaknya. Ia sangat taat beribadat, sangat tekun berjihad, dan sangat bersabar menghadapi rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Seperti Ali ia piawai dalam memainkan pedang, di medan pertempuran ia bukan saja tidak pernah mundur, tetapi juga tidak pernah kalah. Namanya saja sudah cukup menggetarkan nyali musuh-musuhnya. Dalam kehidupan sehari-hari, seperti Ali ia bukan saja sabar menghadapi kenakalan rakyatnya, tetapi juga sangat cepat memberikan maafnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Ketika ia menjabat Panglima Angkatan Bersenjata dari Khalifah Ali, ia berjalan melewati pasar. Pakaiannya sangat sederhana, terbuat dari katun yang kasar. Melihat pakaiannya yang kumuh, seorang penjaga toko melemparinya dengan dedaunan kotor, sekedar mencemoohkannya. Ia mengacuhkan penghinaan itu, menoleh pun tidak. Ia melanjutkan perjalanannya dengan tenang. Orang yang mengenal Malik menegur penjaga toko itu, “Tahukah kamu siapa yang telah kamu olok-olokan itu?”. Ketika disebut nama Malik bin al-Asytar berguncanglah seluruh sendi-sendi tubuhnya. Dengan ketakutan yang amat sangat, ia mengejar Malik. Ia mendapatkannya sedang berdoa di masjid. Setelah Malik selesai berdoa, ia menjatuhkan dirinya, berlutut memohon ampun atas kelakuannya yang buruk. Ia menangis terisak-isak. Malik mengangkat dagunya dan berkata. ”Demi Allah, aku datang ke Masjid untuk berdoa semoga Allah mengampuni kamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Dengan akhlak yang begitu mulia, Malik segera mendapat kepercayaan Imam Ali. Ia mendapat SK sebagai Gubernur dan sekaligus untuk pertama kalinya dalam sejarah memperoleh petunjuk administratif menjalankan pemerintahan yang baik, &lt;i&gt;good governance&lt;/i&gt;. Ini dokumen pemerintah daerah yang pertama di dalam Islam. Dokumen ini ditulis oleh seorang yang mendapat julukan dari penulis Kristiani Libanon George Jordac, &lt;i&gt;The Voice of Human Justice&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;shawth al-‘adalah al-insaniyyah&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Di seberang sana, di pihak lawan, ada Muawiyyah, yang menegakkan pemerintahannya di atas kezhaliman dan perampasan hak rakyat. Ketika mendengar pengangkatan Malik, Muawiyyah menyuap seorang kepala daerah untuk menyambut Malik dalam perjalanannya ke Mesir. Dan ia menyambutnya dengan memasukkan racun (mungkin arsenikum) ke dalam minuman bercampur madu. Malik tidak sempat menjalankan perintah kepala negaranya, karena maut keburu menjemputnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Muawiyyah gembira mendengar berita itu, ia menyampaikan pidato sukacitanya : “Duhai racun pun telah menjadi tentara Tuhan. Ali bin Abi Thalib punya dua tangan kanan, yang satu Ammar bin Yassir telah dipatahkan di Shiffin. Yang kedua Malik al-Asytar telah kita patahkan sekarang”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Ali tentu saja berduka cita. Ia berkata, “Malik, Siapakah Malik? Sekiranya Malik sebongkah batu, dialah batu yang keras dan padat. Sekiranya ia karang di samudera, ia karang yang perkasa yang tiada taranya. Seakan-akan kematian telah merenggut nyawaku sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Ali berduka cita, karena bersama kematiannya hilanglah pelaksanaan dari eksperimen pertama pelaksanaan &lt;i&gt;good gocernance&lt;/i&gt; pada pemerintah daerah. Tapi kita patut bergembira karena gagasan Suara Keadilan itu dapat kita bicarakan lagi sekarang dalam konteks yang masih sangat relevan. Saya akan mencantumkan sebagian dari dokumen yang bersejarah ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dokumen Pemda Islam Yang Pertama &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Dengan Nama Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Inilah yang telah diperintahkan oleh hamba Allah Ali Amirul Mukminin kepada Malik bin al-Asytar dalam perjanjian atasnya ketika ia mengangkatnya sebagai gubernur di Mesir untuk mengumpulkan pajak, memerangi musuh negara, mensejahterakan penduduk dan memakmurkan negeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Angkatlah para pejabat Anda setelah melalui proses pengujian, janganlah sekali-kali memilih orang karena ikatan kasih sayang atau hubungan pribadi, karena keduanya merupakan sumber kezhaliman dan pengkhianatan. Pilihlah di antara mereka orang-orang yang berpengalaman dan memiliki harga diri, dari keluarga yang terkenal kesalehannya dan keutamaannya di dalam Islam. Mereka adalah orang yang paling mulia akhlaknya, yang paling konsekuen dalam menjalankan urusannya, yang paling bersih reputasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Kemudian berilah mereka gaji yang banyak karena gaji itu akan memperkuat mereka dalam memperbaiki diri mereka dan mencukupi keperluan mereka sehingga mereka tidak memanfaatkan apa yang berada dalam tanggung jawab mereka. Selain itu gaji mereka itu akan memperkuat untuk mendakwa mereka jika mereka menentang perintahmu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Kemudian awasi pekerjaan mereka. Bentuklah tim pengawas dari orang-orang yang jujur dan setia karena pengawasan Anda akan mendorong mereka untuk menjalankan amanat secara setia dan menyayangi rakyat. Berhati-hatilah dengan para pejabatmu, jika salah seorang di antara mereka menjulurkan tangannya untuk berkhianat dan para pengawasmu sudah mengukuhkan penyelewengannya, cukuplah itu sebagai bukti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Anda harus memberikan hukuman badan kepadanya dan mengembalikan dana yang sudah diselewengkannya, kemudian Anda harus menempatkannya pada keadaan yang memalukannya, memasukkannya dalam daftar hitam pengkhianatan, dan melingkarkan di lehernya kalung kejahatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Begitu saya baca dokumen Imam Ali itu saya teringat pada tindakan pemerintah Beijing kepada para koruptor. Ternyata Beijinglah yang menjalankan ajaran Islam ini ketimbang pemerintah Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pendekatan Individu dan Sosial &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Di antara petunjuk Imam Ali dalam dokumen di atas kita menemukan pentingnya memilih pejabat yang memiliki akhlak yang mulia. Dan reputasi yang terhormat. Mereka juga harus terkenal tidak serakah dan tamak dalam mengejar kekayaan, semua itu dilakukan agar mereka tidak mengambil hak rakyat untuk kepentingannya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Tetapi karakter yang baik saja tidak menjamin kejujuran. Imam Ali menegaskan pentingnya sistem kontrol atau pengawasan yang tidak memberikan peluang kepada para pejabat untuk melakukan penyelewengan. Sistem kontrol atau pengawasan ini harus dilakukan dengan sangat tegas. Ia harus didukung oleh &lt;i&gt;law enforcement&lt;/i&gt; yang tidak pandang bulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Walhasil, dalam perspektif Islam yang saya sebut, pemecahan dalam untuk penyalahgunaan dana rakyat harus dilakukan dengan pendekatan individual dan sosial sekaligus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pendekatan individual harus dilakukan dengan mensyaratkan dua nilai dasar, yaitu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1). Kemampuan (&lt;i&gt;competency, proficiency, expertise&lt;/i&gt;) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2). Kejujuran (&lt;i&gt;Integrity, truthworthinesss, truthfulness&lt;/i&gt;) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Dalam Islam kejujuran itu diungkapkan dalam dua nilai utama yang menjadi sifat wajib bagi para Nabi, yaitu shidq dan amanat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Pendekatan sosial dilakukan dengan mengikutsertakan sebanyak-banyaknya pengawas dari masyarakat. Kontrol sosial ini harus ditanggapi oleh pemerintah dengan segera. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Marilah kita mulai dengan sifat shidq dan amanat, saya berikan point-pointnya saja: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Shidq Sifat Para Nabi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Umat beragama harus bergabung dengan orang yang jujur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Shidq adalah induk segala nilai, kejujuran membawa kita kepada segala kebaikan dan kebaikan itu membawa kita kepada surga kata Rasulullah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Shidq dan amanat adalah ukuran sejati kesalehan. Saya tertarik untuk merubah paradigma dalam berpikir, menurut Qur'an dan hadits yang saya terima kalau orang tidak jujur dan tidak amanat, Allah akan menghapuskan segala pahala ibadahnya, saya perlu menegaskan sekarang bahwa ibadah-ibadah ritual dapat menghapuskan dosa-dosa perampasan hak rakyat, sehingga para pejabat melakukan korupsi besar-besaran dan memputihkannya dalam pelaksanaan umrah dan haji. Berdasarkan yang saya ketahui justru sebaliknya pelanggaran terhadap hak-hak rakyat dapat menghapuskan seluruh pahala ibadat ritual. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Yang terakhir tanpa menguraikan definisi shidq dan amanat, Shidq adalah kejujuran dalam menerima, mengolah dan menyampaikan informasi, lawan dari shidq adalah kidzb. Nabi Muhammad SAW menguraikan “Jauhilah oleh kamu dusta, karena dusta membawa kamu kepada kedurhakaan dan neraka”. Termasuk dusta adalah upaya untuk melakukan manipulasi dalam penerimaan, pengolahan dan penyampaian informasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Transparansi anggaran adalah salah satu bentuk shidq. Menyembunyikan anggaran sebaliknya adalah bentuk kebohongan yang paling jelas. Dalam kaidah ushul fiqh ditegaskan: &lt;i&gt;ma la yatimmul wajib illa bih fahuwa wajib&lt;/i&gt;, kalau kewajiban tidak bisa dijalankan kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Shidq adalah kewajiban. Dalam pengelolaan anggaran kejujuran ini tidak bisa dijalankan kecuali dengan transparansi. Berdasarkan kaidah itu, maka menjalankan transparansi anggaran adalah wajib. Ini berarti, dalam pandangan Islam, menghindari transparansi anggaran adalah kemaksiatan yang dapat menghapuskan semua pahala ibadat kepada Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Shidq berkaitan dengan amanat, Bila shidq berkaitan dengan proses informasi anggaran, amanat berkaitan dengan kesetiaan untuk mengalokasikan dan menditribusikan anggaran kepada yang berhak –dalam istilah Islam, menyampaikan amanat kepada ahlinya. Untuk mengontrol shidq dan amanat, diperlukan sistem pengawasan. Dengan menggunakan istilah para ahli ushul fiqh, kita dapat menyimpulkan bahwa pengawasan wajib karena shidq dan amanat tidak dapat berjalan tanpanya. Pengawasan tidak dapat dilakukan dengan baik tanpa transparansi anggaran.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Walhasil, dalam perspektif Islam, menegakkan transparansi anggaran adalah kewajiban agama yang mulia. Ia bukan saja menghantarkan manusia kepada berbagai kebajikan, tetapi juga menghantar mereka pada surga yang dijanjikan. Secara duniawi, transparansi anggaran dalam kata-kata Imam Ali adalah upaya “memerangi musuh negara, mensejahterakan penduduk dan memakmurkan negeri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya ingin menggarisbawahi dari seluruh bahasan tadi, &lt;i&gt;just one sentence&lt;/i&gt;: Meninggalkan transparansi anggaran adalah kemaksiatan yang dapat meghapuskan seluruh pahala ibadah kita.[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-5457192417480262529?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/5457192417480262529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=5457192417480262529&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/5457192417480262529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/5457192417480262529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/transparansi-anggaran-dalam-perspektif.html' title='Transparansi Anggaran dalam Perspektif Islam'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-6462176353652618614</id><published>2007-12-04T08:50:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:51:58.841+07:00</updated><title type='text'>ISLAM PEMBELA ORANG-ORANG LEMAH (Tafsir Surah Al-Kautsar)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Ini surat Makkiyah, terdiri dari tiga ayat, diturunkan setelah surat Al-‘Adiyat. Hubungan surat ini dengan surat sebelumnya (surat Al-Ma‘un), adalah bila Allah menjelaskan dalam surat terdahulu tentang orang yang mendustakan agama dengan empat macam sifat, yaitu &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al-bukhl&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (bakhil), tidak mau melakukan salat, riya, dan tidak mau memberikan pertolongan, maka dalam surat Al-Kautsar Allah menyebutkan sifat-sifat yang dikaruniakan kepada Rasulullah Saw. berupa kebaikan dan keberkahan. Disebut-kan bahwa beliau diberi &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, yang berarti kebaikan yang banyak, dorongan untuk melakukan salat dan membiasakan-nya, ikhlas dalam melakukannya dan bersedekah kepada kaum fuqara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Asbâb al-nuzûl&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;  &lt;city&gt;&lt;/city&gt;&lt;place&gt;&lt;/place&gt;surat ini ialah sebagai berikut: Orang-orang musyrik Mekkah dan orang-orang munafik Madinah mencela dan mengejek Nabi Saw. dengan beberapa hal. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, orang-orang yang mengikuti beliau adalah orang-orang dhu‘afa, sementara orang-orang yang tidak mengikutinya adalah para pembesar dan pejabat. Andaikan agama yang dibawakan itu benar, tentu pembela-pembelanya itu ada dari kelompok orang pandai yang memiliki kedudukan di antara rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan mereka seperti itu bukanlah hal yang baru. Dulu, kaum Nabi &lt;span style="color: rgb(35, 29, 29);"&gt;Nuh a.s. juga berkata demikian kepada nabi mereka. Dikisahkan dalam Al-Quran sebagai berikut: “&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) manusia biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;(QS. Hud, 11:27). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Memang sudah begitu adanya, orang yang paling cepat memenuhi dakwah Rasul adalah para dhu‘afa. Itu disebabkan, di antaranya, karena mereka tidak memiliki harta sehingga tidak perlu takut hartanya akan tersia-siakan di jalan dakwah. Orang-orang dhu‘afa juga tidak memiliki pangkat atau kedudukan yang menyebabkan mereka takut akan kehilangan pangkat atau kedudukannya di hadapan kedudukan yang dikaruniakan oleh &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Shâhib Al-Da‘wah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Kebersamaan para dhu‘afa itu memang tidak disenangi oleh para tuan dan pembesar. Sehingga, ketika kelak mereka masuk ke dalam agama Allah, mereka masuk dalam keadaan benci. Karena itu seringkali terjadi perdebatan antara mereka dan para rasul. Mereka berusaha untuk melenyapkan dan mengganggu pengikut-pengikut Rasul. Namun Allah menolong rasul-rasul-Nya, memperkuat dan memperkokoh mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Sikap para pembesar seperti itu terjadi pula pada Rasul Saw. Karenanya, sungguh para pembesar telah menentang beliau karena kedengkian mereka kepada Rasul dan para pengikutnya yang ber-kedudukan rendah. Kemudian, ketika mereka melihat putra-putra Rasulullah meninggal, mereka pun berkata: “Terputuslah keturunan Muhammad, dan dia menjadi &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;abtar.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;” Mereka mengira wafatnya putra-putra Rasul itu sebagai aib, sehingga mereka mencela beliau dengan hal itu, dan berusaha memalingkan manusia dari mengikutinya. Apabila mereka melihat &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;syiddah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (kesulitan) yang turun kepada orang-orang Mukmin, mereka senang dan menunggu kekuasaan itu bergeser kepada mereka. Mereka berharap kekuasaan itu hilang dari kaum Muslim, sehingga kedudukan mereka yang sempat digoncang-kan oleh agama baru itu kembali lagi kepada mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Atas dasar itu, surat Al-Kautsar ini turun untuk menegaskan kepada Rasul Saw. bahwa apa yang diharapkan oleh orang-orang kafir itu merupakan harapan yang tidak ada kebenarannya; untuk menggoncangkan jiwa orang-orang yang tidak mau menyerah dalam pendiriannya, yang tidak lembut tiang-tiangnya, orang-orang yang berkepala batu; untuk menolak tipuan orang-orang musyrik dengan sebenar-benarnya; dan untuk mengajarkan kepada mereka bahwa Rasul akan ditolong, sementara pengikut-pengikut-nya akan memperoleh kemenangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Tafsir Surah Al-Kautsar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Innâ a‘thainâ ka al-kautsar fashalli lirabbika wanhar inna syâni’aka huwa al-abtar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. Maka salatlah kamu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya pembenci-mu itulah yang akan binasa. (QS Al-Kautsar, 108:1-3). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; 1.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Kautsar. Al-kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; ialah bekal atau belanja dalam jumlah yang banyak. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; artinya yang banyak memberi. Yang dimaksud dengan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al-kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; di sini ialah kenabian, agama yang benar, petunjuk dan apa yang ada di dalamnya tentang kebahagiaan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Abtar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Menurut asal katanya, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al­abtar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; adalah binatang yang terpotong ekornya. Adapun yang dimaksud al-abtar di sini ialah orang yang namanya tidak berlanjut dan jejaknya tidak kekal. Pengumpamaan kekalnya sebutan yang baik dan berlanjutnya jejak yang indah dengan ekor binatang karena ekor binatang itu mengikuti binatangnya dan menjadi perhiasan baginya. Sehingga, orang yang tidak memiliki sebutan yang kekal dan jejak indah yang berlanjut diibaratkan sebagai orang yang ekornya terlepas atau terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan surat ini Allah hendak menegaskan sebagai berikut: Aku telah memberikan kepadamu pemberian yang banyak sekali yang jumlahnya tidak terhitung. Aku telah mengaruniaimu berbagai karunia, yang tidak mungkin sampai pada hakikatnya. Apabila musuh-musuhmu menganggap enteng dan kecil terhadap karunia itu, maka itu disebabkan karena kerusakan pikiran dan lemahnya persepsi mereka. Salatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah. Jadikanlah salatmu hanya kepada Tuhan saja, dan sembelihlah sembelihanmu yang merupakan pengorbananmu bagi Allah jua. Sebab, Allahlah yang memeliharamu dan melimpah-kan kepadamu segala nikmat-Nya, bukan yang lain, seperti Aku telah memerintahkan kepada para nabi-Ku: &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Qul inna shalâti wa nusukî wa mahyâya wa mamâti lillâhi rabb al­‘âlamin lâ syarîka lahu wa bidzâlika umirtu wa ana awwal al-muslimîn&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Katakanlah, sesungguhnya salatku, pengorbananku, hidupku dan matiku untuk Allah yang mengurus alam semesta ini. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan. Dan aku menjadi Muslim yang pertama.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Setelah menggembirakan Rasul Saw. dengan sebesar-besarnya kabar gembira, dan meminta beliau untuk bersyukur kepada-Nya atas nikmat dan kesempurnaannya, lalu Allah menegaskan bahwa musuh-musuh beliaulah yang justru akan terkalahkan dan terhinakan, “&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Inna syâni’aka huwa al-abtar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Sesungguhnya pembencimu, baik yang dulu maupun yang sekarang, akan terputus namanya dari kebaikan dunia dan akhirat, sehingga keturunanmu akan kekal dan akan kekal juga nama dan jejak-jejak keutamaanmu sampai hari kiamat.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Sebenarnya para pembenci itu tidaklah membenci Rasul karena kepribadiannya. Mereka sebetulnya mencintai beliau lebih dari kecintaan kepada mereka sendiri. Namun, mereka marah kepada apa yang dibawakan oleh beliau berupa petunjuk dan hikmah yang merendahkan agama mereka, mencela apa yang mereka sembah, dan memanggil mereka kepada sesuatu yang berbeda dengan apa yang mereka lakukan selama ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Allah sudah menegaskan dan membuktikan kepada pembenci-pembenci Rasul di kalangan Arab dan ajam pada zaman beliau, bahwa mereka akan ditimpa kehinaan dan kerugian, dan tidak tersisa dari mereka kecuali nama yang jelek. Dia juga menegaskan dan membuktikan bahwa Nabi Saw. dan orang-orang yang mendapat petunjuknya akan mendapatkan kedudukan di atas apa pun, sehingga &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kalimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; mereka menjadi &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kalimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; yang paling tinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Allah sudah menegaskan dan membuktikan kepada pembenci-pembenci Rasul di kalangan Arab dan ajam pada zaman beliau, bahwa mereka akan ditimpa kehinaan dan kerugian, dan tidak tersisa dari mereka kecuali nama yang jelek. Dia juga menegaskan dan membuktikan bahwa Nabi Saw. dan orang-orang yang mendapat petunjuknya akan mendapatkan kedudukan di atas apa pun, sehingga mereka menjadi yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;rahimahullah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; berkata: “Orang-orang musyrik disebut &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;abtar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; karena tujuan mereka terputus sebelum mereka mencapainya. Sejahterakanlah Nabi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah Engkau tinggi-kan namanya; telah Engkau rendahkan para pembencinya, dengan shalawat yang kekal, sekekal zaman.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Penjelasan di atas saya ambil dari tafsir Ibn Katsir. Di sini juga disebutkan beberapa keterangan tentang &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al-kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;1.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      Telaga di Surga&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;2.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt; Kebaikan yang baik;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;3. Putra-putra Rasulullah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;4.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;Sahabat-sahabat dan pengikutpengikut Rasul Saw. hingga hari&lt;br /&gt;    kiamat; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;5.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Ulama di kalangan umat Muhammad Saw; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;6.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Al-Quran dengan segala keutamaannya yang banyak; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;7.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Nubuwwah; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; 8.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Dimudahkannya Al-Quran; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; 9.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Islam; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; 10.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;Tauhid; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;11.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;Ilmu; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;12.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;Hikmah; dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Di sini bahkan sampai diriwayatkan ada dua puluh enam mazhab tentang apa yang dimaksud dengan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al-kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Tapi kita akan mengambil &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tharîqah al-jam‘i&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (teori penggabungan), artinya seluruhnya benar. Kita mengambil yang umum, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al-kautsar &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;adalah kenikmatan yang banyak, yang dikaruniakan kepada Muhammad Saw. dan umatnya. Dan kenikmatan itu bisa berupa Al-Quran, atau petunjuk Allah, atau bertambah-nya pengikut beliau sampai akhir zaman hingga tidak terputus setelah beliau meninggal dunia, atau bisa juga telaga di surga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Memang diriwayatkan dalam &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Shahîh Al-Bukhâri&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, bahwa nanti di surga penghuninya akan diberi minum dari telaga yang bernama Al-Kautsar. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa pada suatu saat sekian banyak orang akan digiring ke telaga Al-Kautsar. Yang diberi minum dari telaga hanyalah umat Rasulullah Saw. Tetapi ketika sudah mendekat ke telaga Al-Kautsar, mereka diusir oleh para malaikat. Lalu Rasulullah berteriak, “Sahabatku, sahabatku.” Kemudian Allah berfirman, “Tidak. Mereka bukan sahabatmu. Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.” Rasulullah pun berkata, “Celakalah orang yang mengganti ajaran-ajaran agamaku setelah aku meninggal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kata &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;nahr&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, juga memiliki beberapa makna. Dalam bahasa Arab, salah satu arti kata &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;nahr&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; adalah berkurban. Arti yang lain adalah bagian dada sebelah atas. Sebagian mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan nahr ialah mengangkat tangan lurus dengan bahu sebelah atas. Sehingga, kata mereka, maknanya adalah, “Salatlah kepada Tuhanmu, ucapkan kebesaran nama Tuhanmu sambil meng-angkat tangan selurus bahu.” Begitu kata mereka. Pendapat ini didasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Abi Hatim, Al-Hakim, Ibn Mardawaih, dan Al-Baihaqi, dalam Sunannya, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Ketika surat ini diturunkan kepada Nabi Saw., beliau bertanya kepada Jibril: ‘Apa yang dimaksud dengan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;nahr &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;yang diperintahkan oleh Allah di sini?’ Jibril berkata: ‘Yang dimaksud di sini bukan berkurban. Maksud kata ini adalah memerintahkanmu untuk mengangkat tangan saat menghormat dalam salat, saat takbir, ruku, dan mengangkat kepala dari ruku. Sebab, itulah salat kami dan salat malaikat yang berada di langit yang tujuh. Segala sesuatu itu memiliki perhiasan-nya. Dan perhiasan salat adalah mengangkat tangan pada setiap takbir.’” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt;Adapun mengenai al-abtar, Al- Maraghi menyebutkan ada beberapa hal,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES-TRAD"&gt;yaitu: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt;1.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Dulu, pengikut-pengikut Rasul Saw. yang pertama adalah kelompok dhu‘afa, fuqara dan orang miskin. Kebanyakan mereka bodoh-bodoh sehingga diejek dengan sebutan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;sufahâ’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, orang-orang bodoh, walaupun kemudian Allah menegaskan, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;alâ innahum hum al-sufahâ’&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, mereka (para pembesar) itulah yang bodoh. Mereka (para pembesar) itu meng-anggap bahwa kalau agama yang dibawa oleh Muhammad itu benar, tentu pengikutnya adalah orang-orang pandai, orang-orang besar, dan orang-orang yang mengerti. Tetapi, mengapa para pengikutnya justru orang-orang bodoh? Karena itulah mereka menganggap bahwa agama itu akan cepat &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;abtar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, akan cepat lenyap, cepat terputus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt;2.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. mempunyai beberapa orang putra. Putra tertua bernama Al-Qasim. Kemudian Zainab, Abdullah, Ummu Kultsum, Ruqayyah, dan Fathimah. Al-Qasim meninggal. Setelah ia meninggal, Abdullah pun meninggal. Maka, berkatalah Al-‘Ashi bin Wail Al-Sahmi, salah seorang pembesar Quraisy: “Sudah terputus keturunan Muhammad; ia menjadi &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;abtar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, orang yang terputus keturunannya.” Sebab itulah Allah menurunkan ayat, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Inna syâni’aka huwa al-abtar &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;(Sesunguhnya pembencimulah yang akan binasa). Itulah pula sebabnya sebagian ulama men-jelaskan bahwa yang dimaksud &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al­kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dalam &lt;city&gt;&lt;/city&gt;&lt;place&gt;&lt;/place&gt;surat ini adalah keturunan Rasulullah Saw., yakni janji Allah bahwa keturunan Muhammad tidak akan terputus, melainkan beranak pinak dalam jumlah yang banyak. Dahulu, orang Arab menyebut seorang anak dengan nama bapaknya. Jadi, jika seseorang tidak mem-punyai anak, maka namanya tidak akan disebut-sebut orang. Dan ternyata, nama Rasulullah terus berlanjut dengan kenangan yang baik, hingga sekarang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt; 3.&lt;span style="font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;Merupakan sunnah para nabi bahwa para pengikutnya pada umumnya berasal dari kelompok dhu‘afa, dan bahwa para nabi dan pengikutnya selalu memilih bergaul dengan kelompok dhu‘afa. Di India, saya mendengar bahwa Islam berkembang pesat karena para ulamanya mendekati kelompok orang yang tidak memiliki kasta. Orang-orang yang terlempar dari sistem kasta itu kemudian masuk ke dalam Islam dengan berbondong-bondong, hingga orang-orang Hindu ter-paksa menggunakan kekuasaan mereka, membunuh orang-orang Islam. Islam memiliki daya tarik yang besar bagi kelompok dhu‘afa, orang-orang lemah. Saya perlu menegaskan ini berkali-kali. Karena, selama ini orientasi dakwah kita hanya tertuju kepada kelompok elit saja, atau kelompok menengah yang sekarang bangkit. Sementara orang-orang miskin, dhu‘afa didekati oleh orang-orang Kristen, sehingga beberapa tempat telah dikristenisasikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt;Dalam Al-Qur’an, yang dimaksud dhu‘afa bukan saja lemah dalam arti materi, tapi juga ilmu. Tapi, titik beratnya adalah dhu‘afa dari segi materi. Orang yang lemah dari sisi kekayaan, biasanya lemah juga dari sisi ilmu pengetahuan, kehidupan politik, dan kehidupan sosial. Dhu‘afa adalah kelompok lemah, orang-orang kecil. Al-Quran memiliki istilah lain, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;mustadh‘afîn&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, yakni orang-orang yang ditindas, dilemahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt;Kalau Karl Marx berkenalan dengan Islam yang diajarkan oleh Rasul Saw., boleh jadi ia akan masuk Islam. Sebab, sebenarnya yang mendorong Marx untuk merumuskan Marxisme itu adalah rasa keprihatinannya terhadap penderitaan kelompok proletar akibat revolusi industri. Ketika saya membaca &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Das Kapital&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, karya Karl Marx, di situ dengan penuh emosi Marx menguraikan betapa menderitanya bangsa-bangsa yang terjajah akibat kapitalisme. Sayang, waktu itu ia mengenal agama Kristen, yang justru mengajarkan orang-orang tertindas itu bukan untuk melawan melainkan mengajarkan bahwa, “Apabila pipi kirimu ditampar, maka berilah pipi kananmu. Apabila bajumu dirampas, maka berilah jubahmu. Apabila kamu disuruh lari satu mil, larilah dua mil.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="ES-TRAD"&gt;Itu khutbah Yesus kepada para pengikutnya. Kata Marx, itu khutbah orang-orang yang tertindas, sehingga mereka tidak mau melawan. Itulah sebabnya Marx menyebut agama sebagai candu rakyat, karena membekukan pemikiran. Andaikan ia mengenal Islam, mungkin pandangannya tentang agama tidak seperti yang ia tulis. Sebab, ada beberapa kesamaan antara Islam dan Marxisme, yaitu: kedua-duanya amat &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;concern&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, sangat memperhatikan nasib kelompok dhu‘afa. Keduanya sama-sama berpikir bahwa kaum dhu‘afa tidak boleh diam, melainkan mereka harus merubah sistem kapitalisme. Tetapi, tentu banyak perbedaan yang jauh antara keduanya, antara lain, bila Marxisme menolak agama sama sekali, menganggapnya sebagai candu rakyat, maka Islam justru menganggap agama sebagai motivator paling utama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Bila Marxisme meniadakan Allah, maka Islam menempatkan Allah di tempat yang paling tinggi. Bila mereka menolak moralitas, sehingga bagi mereka merebut kekuasaan dengan cara apa pun adalah halal, maka Islam tidak demikian. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Karena persamaan yang begitu dekat di atas, maka orang-orang yang sering membela kaum dhu‘afa sering disebut komunis. Seakan-akan hanya komunis saja yang membela orang-orang lemah. Padahal, Islamlah pembela orang-orang dhu‘afa. Tema-tema inilah yang harus kita sebarkan untuk melenyapkan komunisme. Tentu saja, bukan disebarkan dengan kata-kata semata, tetapi dengan tindakan-tindakan yang &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;real&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran memang tidak bisa kita pilih. Tidak mungkin kita menggugat mengapa kita lahir sekarang, di zaman yang kata banyak orang sarat kejahatan, penyeleweng-an, korupsi, manipulasi, retorika-dusta, dan sejumlah kemuakan manusiawi yang lain. Tidak mungkin kita menuntut untuk dilahir-kan pada zaman kemakmuran, keemasan, keadilan, serba mudah, atau zaman dan tempat ketika hak-hak asasi dan kehormatan diri begitu dijunjung tinggi, atau lahir di Negara Ideal --seperti kata Plato-- atau Madinah Fadhi-lah --Kota Utama, seperti kata Al-Farabi. Kelahiran jelas tidak bisa ditawar-tawar, seindah dan seburuk apa pun kelahiran itu. Ia adalah keterpaksaan yang harus dijalani, suka atau tidak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Namun hidup itu sendiri sebenarnya merupakan pilihan. Bahwa lahir tidak bisa diutak-atik atau diminta, itu betul. Tapi bahwa hidup merupakan sebuah proses yang menawarkan kebebasan, juga sebuah kebenaran yang lain. Bahwa kita adalah makhluk organis --begitu kata A.N. Whitehead-- yang bebas menentukan hidup, juga kemestian yang sukar ditolak. Kita memang terpaksa untuk lahir, tapi kita bebas untuk mengisi hidup. Kita bebas menentukan  atau merancang jenis hidup apa yang kita inginkan. Kita bebas untuk menjadi orang baik, atau orang jahat. Kita bebas untuk menjadi pejabat yang bersih dan berpihak kepada keadilan, atau pejabat yang korup dan mudah dibeli untuk menjual kekayaan bangsa dengan kamuflase pembangunan. Tidak ada paksaan untuk masuk surga, juga tidak ada tekanan untuk masuk neraka. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lâ ikrâha fi al­dîn&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, kata Al-Quran. Silahkan pilih. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Toh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, hidup ini disediakan memang untuk memilih. Bahkan mengakhiri hidup itu sendiri adalah juga sebuah pilihan. Bila kita ingin segera mati, bergegaslah melakukan tindakan kausalitatif yang menyebabkan kematian, seumpama memotong leher, menembakkan peluru ke jantung, menjatuhkan diri dari ketinggian tertentu ke bumi bebatuan, atau yang lainnya. Jika syarat-syarat kematian itu telah terpenuhi, kita segera mati. Insya Allah. *** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Dari seluruh pilihan hidup, intinya hanya dua: kebaikan dan kejahatan. Kedua pilihan itu telah ditiupkan secara inspiratif (ilham) dalam setiap jiwa manusia. Secara fitrah, setiap orang mampu membedakan kebaikan dari kejahatan, setidaknya secara universal. Secara naluriah-psikologis, setiap orang membenarkan bahwa menghormati hak asasi adalah kebaikan, sementara meleceh-kannya berarti kejahatan; bahwa berbuat adil adalah kebaikan, sementara bertindak tiran dan zalim adalah keburukan. Potensi ini telah “diwahyukan” langsung oleh Sang Pencipta. Ini misalnya ditegaskan dalam beberapa ayat berikut: “&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kami telah menunjukkan kepada manusia dua jalan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;” (QS 90:10); “&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia (jalan) kefasikan dan ketakwaannya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;” (QS 91:8); “&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan (yang lurus): ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;” (QS 76:3). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Karena itu, setiap orang pada dasarnya memiliki potensi atau bakat yang sama untuk berbuat baik dan buruk. Omong kosong kalau ada orang yang menyatakan bahwa seorang penjahat tidak berpotensi menjadi baik. Juga dusta bila ada yang mengatakan bahwa seorang alim tidak mempunyai bakat jadi orang jahat. Secara filosofis, setiap orang berpotensi atau berbakat untuk menjadi satu di antara dua: baik, atau jahat. Orang sejahat Yazid bin Muawiyah, Hitler, Pol Pot, misalnya, sebenarnya mem-punyai bakat untuk menjadi orang baik. Sebagaimana orang sesuci Muhammad dan Isa bin Maryam pada dasarnya juga ber-potensi untuk berbuat buruk. Tapi mengapa Yazid, Hitler dan Pol Pot tidak menjadi baik, sementara Muhammad dan Isa tidak menjadi jahat? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Untuk menjawab pertanyaan di atas, para filosof menyodorkan dua &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;key words&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;: potensi dan aksi (tradisi filsafat Islam menyebut yang pertama dengan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;quwwah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; dan yang kedua dengan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;fi‘l&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;). Menurut mereka, setiap potensi tidak selamanya menjadi aksi (tindakan), tapi setiap aksi selalu bermula dari potensi. Setiap orang berpotensi, misalnya, untuk membuang sampah sembarangan. Tapi orang yang sangat peduli terhadap kebersihan tidak akan melakukannya. Setiap orang berpotensi untuk membunuh. Tapi seorang bermoral dan berperikemanusiaan tidak mungkin mewujudkan potensi itu menjadi aksi. Setiap orang berpotensi untuk berdusta, atau merekayasa kesaksian palsu. Tapi orang yang memegang teguh nilai-nilai kejujuran tidak mungkin melakukannya. Mengapa? Jawabannya bisa alasan kesehatan, etika, moral, agama, prinsip-prinsip kebenaran, atau yang lainnya. Mengapa Rasul tidak berbuat jahat padahal beliau berpotensi untuk itu? Sebab, kalau beliau jahat, maka beliau bukan rasul lagi. Kecintaan dan tanggung jawabnya kepada Tuhan dan makhluk-Nya memustahilkan dirinya memanifestasikan potensi buruknya menjadi aksi. Konsistensi beliau terhadap segala kebaikan akhirnya menutup rapat potensi buruk itu untuk mengejawantah. Lantas mengapa Hitler tidak menjadi baik padahal ia juga berpotensi untuk itu? Karena, kekotoran hati dan jiwanya telah begitu pekat sehingga menutupi potensi baik itu, yang akibatnya potensi jahatlah yang menguasai dirinya untuk mewujudkan aksi-aksi jahat. Keseringannya melakukan aksi keburukan menyebabkan potensi baiknya tersumbat untuk menjadi aksi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Mengenai potensi baik dan jahat ini sebetulnya bisa juga dipahami lewat teori cermin Imam Al-Ghazali. Orang yang senantiasa membersihkan jiwanya, jiwanya itu laksana cermin yang bersih. Bila penampakan realitas dianggap sebagai sebuah kebaikan, maka dalam jiwa yang bagaikan cermin itu akan nampak seluruh realitas yang ada di hadapannya. Sementara orang yang selalu mengotori jiwanya hingga pekat, maka jiwanya sama sekali tidak bisa memantulkan realitas di hadapannya, sedekat dan sejelas apa pun realitas itu. Potensi baiknya sudah begitu dalam terpendam rapat karena ditindih oleh gumpalan kejahatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Selanjutnya, dalam &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;sphere&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; filosofis, pernyataan bahwa setiap manusia berpotensi atau berbakat menjadi orang baik atau jahat, mungkin kedengarannya “datar-datar” saja. Tapi dalam wilayah atau situasi psiko-kultural tertentu, barangkali kedengarannya sangat janggal, bahkan bisa menyesatkan perjalanan eksistensial seseorang. Misalnya disebutkan dalam rubrik psikologi bahwa setiap laki-laki berbakat jadi homoseksual atau biseksual; setiap perempuan berbakat menjadi lesbi; setiap suami --seperti kata dr. Boyke-- atau istri berbakat menyeleweng; setiap orang berbakat menjadi pembohong; setiap penguasa berbakat menjadi tiran; setiap pengusaha berbakat menjadi penyuap; setiap bawahan berpotensi menjadi penjilat; dan seterusnya. Menurut saya, dalam konteks tertentu, baik individual maupun kultural, doktrin-doktrin semacam ini bisa sangat “berbahaya”. Sebab, ini bisa dianggap sejenis legitimasi bagi orang-orang tertentu untuk bertindak menyimpang atau jahat. Kelak mereka mengira bahwa deviasi dan penyelewengan adalah naluri fitrah yang harus disalurkan. Bisa jadi nanti ada seorang suami atau istri yang membenarkan per-selingkuhannya dengan alasan bahwa itu memang bakat alami; atau boleh jadi pula kelak ada seseorang yang membenarkan kesukaannya gonta-gonti pacar atau pasangan dengan alasan bahwa itu adalah potensi atau bakat fitrah manusiawi. Mereka tidak paham bahwa itu sebenarnya berada dalam konteks filosofis, tepatnya konteks potensi belaka: potensi yang tidak wajib jadi aksi. Jadi, kita memang harus arif, juga hati-hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Karena manusia bebas menentukan hidup, bahkan menurut Jean Paul Sartre dan F. Nietszche kebebasan itu mutlak tanpa batas, maka akibat apa pun yang diterima tidak patut dilibatkan pada orang lain. Ketika ia begitu perkasa dan jantan menjalani kebebasan pilihan hidupnya, maka ia harus perkasa dan jantan pula untuk menanggung risiko terberat sekalipun. Ia tidak berhak berlindung pada orang lain untuk menjauh-kan darinya akibat yang harus ia terima. Juga, ia tidak berhak berlindung pada simbol-simbol agama, semisal haji, umrah, mendiri-kan masjid, atau masuk Islam, dan lain-lain, untuk membebaskan diri dari dampak yang mesti ia peroleh. Sebab, bukankah ia bebas menjalani pilihan hidupnya? Seperti kata Goenawan Mohamad, hidup itu selain merupakan pilihan-pilihan, juga risiko-risiko. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; Adakalanya memang benar apa yang dikatakan oleh seorang guru saya, Ustadz Agus Efendi: memaksa orang ke surga lebih baik dari-pada membebaskannya ke neraka. Tapi dalam konteks eksitensial, itu hanya berlaku pada orang-orang tertentu yang belum mampu memfungsikan kesadarannya, semisal anak-anak atau orang-orang yang cara berpikirnya masih seperti anak-anak. Sedangkan orang selain mereka tidak lagi patut dipaksa, meski pemaksaan itu demi sebuah surga yang damai, sentosa, dan menyelamatkan. Kebebasan memilih dan menentukan apa yang ingin diperbuat, baik atas dasar nilai pragmatisme, hedonisme, utilitarinisme, moralisme, atau semacamnya, harus tetap dipelihara. Sebab demikianlah memang Tuhan menganugerahkan sebagian otoritas-Nya kepada manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Jadi, lakukanlah apa yang ingin Anda lakukan. Jika Anda ingin rakus menumpuk-numpuk kekayaan, hingga gunung dan pulau pun dibeli, meski harus menyuap, menyengsarakan, membunuh, dan merampas mata pencaharian rakyat; jika Anda ingin menjaga reputasi sehingga memperbodoh rakyat dengan rekayasa-retoris-politis atau kesaksian palsu; jika Anda ingin memanfaat-kan kekuasaan untuk memperkaya diri dan keluarga; jika Anda ingin mengeruk kekayaan dalam waktu singkat dengan mengeksploitasi dan memanipulasi moralitas, harga diri, agama, seni, keindahan, dan yang lainnya --misalnya dengan menyebarkan film, lagu, produk, iklan porno dan berselera rendah, atau merampas keceriaan anak-anak ingusan dan ABG untuk menjadi mesin uang Anda dengan menjual mereka kepada para pemuja nafsu; jika Anda ingin bersenang-senang mencari kesenangan hidup tanpa peduli terhadap keselamatan orang lain dan lingkungan; dan lain-lain, maka lakukanlah semuanya. Karena hidup memang sebuah pilihan yang bebas. Kami yakin, Anda sudah mempertimbangkan segalanya masak-masak. Kami juga percaya, Anda semua sadar bahwa entah sore ini, esok atau lusa Anda akan mati; bahwa kelak Anda akan dimakan ulat, habis tanpa sisa. Tapi kami mohon, jangan persuasi atau rayu kami, apalagi sampai memaksa kami untuk mengikuti pilihan hidup Anda. Jangan jual keperawanan dan keluguan kami hanya untuk melunasi hutang-hutang keburukan Anda. Jangan ajak kami menanggung akibat-akibat kejahatan yang Anda perbuat. Biarkan kami menikmati kebebasan hidup ini. Seperti Anda, kami juga ingin bebas. Merdeka! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-6462176353652618614?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/6462176353652618614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=6462176353652618614&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6462176353652618614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6462176353652618614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/islam-pembela-orang-orang-lemah-tafsir.html' title='ISLAM PEMBELA ORANG-ORANG LEMAH (Tafsir Surah Al-Kautsar)'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-2224853976621476238</id><published>2007-12-04T08:46:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:47:02.524+07:00</updated><title type='text'>KITA SUDAH MENJADI ALI FIR’AUN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);"&gt;Pagi ini kita berkumpul lagi di halaman kebesaran Allah Rabbil Alamin. Baru saja kita kumandangkan di tempat ini puji dan sanjung kita untuk Dia Yang Mahakasih dan Mahasayang. Kita getarkan lidah kita dengan Asma-Nya yang Agung. Di bawah naungan langit-Nya yang luas, kita lakukan ruku dan sujud kepada-Nya. Di atas tanah yang dingin kita rebahkan kepala kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;           Ketika matahari terbit pada hari pertama bulan Syawal, kita tinggalkan rumah-­rumah kita, berduyun-duyun datang ke tempat ini, dengan satu niat yang sama: Kita ingin bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Mahaagung. Kita ingin mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya. Dia telah membawa kita memasuki bulan suci Ramadhan. Dia telah membantu kita untuk mengisi siang dan malam dengan salat dan zikir. Dia telah membimbing kita untuk meringankan beban dosa yang menghimpit punggung-punggung kita. Dia telah memberikan peluang bagi kita untuk menghimpun bekal buat hari akhirat nanti. Dia telah memperkenankan kita di malam-malam Laylatul Qadar merintih di hadapan-Nya, mengakui dosa-dosa kita seraya mengadukan segala duka dan derita kita. Dia telah membukakan kepada kita kesempatan pada bulan yang penuh berkah untuk menyampaikan permohonan kita. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dan akhirnya, pagi ini Dia mengantarkan kita semua kepada Lebaran lagi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Allahu Akbar. Allahu Akbar. La ilaha illallah. Wallahu Akbar. Wa Lillahil Hamd. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Ya Allah. Saksikan di tempat ini hamba-hamba-Mu yang mengakui limpahan nikmat-Mu, tetapi tidak mampu mensyukuri-Mu. Besarnya nikmat-Mu mengecilkan rasa syukur kami. Di hadapan limpahan anugerah-Mu, memudar puji dan sanjung kami. Rabbana, demi kebesaran-Mu, keagungan-Mu, dan kemuliaan-Mu. Sekiranya sejak Engkau menciptakan kami, sejak awal kejadian kami, kami menyembah-Mu sekekal abadi rububiyah-Mu, dengan setiap lembar rambut kami dan setiap kejap mata kami sepanjang masa, dengan puji dan syukur segenap makhluk-Mu, kami takkan sanggup mensyukuri nikmat-Mu yang paling tersembunyi sekalipun. Sekiranya kami menggali tambang dunia dengan gigi-gigi kami dan menanami buminya dengan lembar­lembar alis mata kami dan menangis takut kepada-Mu dengan air mata dan darah sebanyak samudera langit dan bumi. Semua itu kecil dibandingkan dengan besarnya kewajiban kami kepada-Mu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Karena itu, ya Allah, terimalah syukur kami betapapun kecilnya dibandingkan dengan anugerah-Mu. Ampunilah kekurang­an-kekurangan kami selama menjalankan perintah-Mu. Bersamaan dengan keluarnya kami dari bulan Ramadhan, keluarkan kami dari segala dosa dan kesalahan kami. &lt;span style="color: rgb(35, 29, 29);"&gt;Sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu, dan memelihara kami dengan pemberian-Mu, sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Tolakkan dari kami kejelekan siksa-Mu. Birahmatika, ya arhamar Rahimin.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; Hadirin dan Hadirat. A’idin dan A’idat. Fa’izin dan Fa’izat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; Di antara nikmat Allah yang besar ialah Dia telah menempatkan kita pada suatu negeri dengan kekayaan yang berlimpah. Begitu indahnya negeri ini sehingga bangsa lain menyebut pulau-pulau di Indonesia sebagai “untaian zamrud di Khatulistiwa”. Kemudian, selama puluhan tahun, dengan izin Allah kita hidup makmur. Begitu makmurnya sehingga bangsa lain melihat negeri kita sebagai salah satu “macan Asia yang sedang bangkit.” Kita dicukupi dalam sandang, pangan dan papan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Tiba-tiba kemakmuran yang kita bangun dengan susah payah diporakporanda­kan oleh badai, yang sulit berlalu. Tahun ini, Lebaran singgah ketika kita ditimpa musibah. Lebaran mengunjungi kita ketika semua harus memikul beban krisis moneter yang berkepanjangan. Sebelumnya kita sudah dihantam dengan kemarau panjang, kebakaran hutan, kelaparan, dan berbagai kecelakaan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Hari ini, Lebaran menjenguk kita ketika dada kita sesak karena harga-harga yang melambung tinggi. Jutaan saudara kita kehilangan pekerjaan. Lebih banyak lagi yang terjerumus ke dalam jurang kemiskinan. Yang masih bekerja dibayang-bayangi ketakutan bakal dirumahkan. Ketika sebagian saudara kita tertawa renyah menukarkan dolar mereka, ratusan juta saudara kita yang lain harus mengurut dada karena sulitnya mencari rupiah. Hari ini, Lebaran datang lewat langit Indonesia yang kelabu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; Ada apa yang terjadi di negeri ini? Mengapa kenikmatan telah berubah menjadi bencana? Mengapa kekayaan anugerah Tuhan musnah begitu saja, sehingga kita menjadi salah satu bangsa termiskin di dunia. Mari kita dengarkan firman Tuhan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;(Siksaan) yang demikian itu terjadi karena sesungguhnya Allah tidak akan meng­ubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu bangsa sehingga bangsa itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Keadaan bangsa itu sama dengan keadaan Fir‘aun dan pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya. Maka Kami binasakan mereka dengan dosa-dosa mereka dan Kami tenggelamkan Fir‘aun dan para pengikutnya. Semuanya adalah orang-orang yang zalim&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt; (Al-Anfal, 7:53-54).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Jangan-jangan musibah yang menimpa kita ini karena seluruh bangsa ini sudah menjadi Ali Fir‘aun, keluarga besar Fir‘aun. Jangan-jangan para pemegang kekuasaan di antara kita sudah menjadi Fir‘aun-Fir‘aun kecil yang menggunakan kekuasaan untuk memeras yang lemah, menindas yang kecil, dan merampas hak orang yang tidak berdaya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Jangan-jangan orang-orang berduit kita sudah menjadi Qarun yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi duit, kita tidak ragu-­ragu untuk menghantam, menyakiti bahkan membunuh sesama saudara kita. Kita sudah menjadi binatang-binatang buas. Zamrud Khatulistiwa sudah kita ubah menjadi rimba raya yang menakutkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Jangan-jangan para cerdik pandai kita sudah menjadi Haman, yang memper­sembahkan kecerdasannnya untuk mengabdi kepada kezaliman. Kecerdikan kita perguna­kan untuk meliciki orang banyak. Kepintaran kita, kita manfaatkan untuk “meminteri” orang-orang bodoh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Jangan-jangan para ulama kita sudah menjadi Bal‘am bin Ba‘ura. Kita menjual ayat-ayat Allah untuk memenuhi hawa nafsu kita. Kita mengemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus kesalehan. Seharusnya kita melangkahkan kaki kita ke gubuk-gubuk orang miskin dan mengetuk pintu mereka untuk memberikan bantuan kita. Tetapi kini, kita mengayunkan langkah ke istana para penguasa, menundukkan kepala kita di hadapan mereka, seraya menggumamkan ayat-ayat Allah untuk membenarkan kezaliman mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(35, 29, 29);" lang="SV"&gt;Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli lagi dengan perintah-perintah Tuhan. Kita semua sudah menjadi budak­budak dunia. Di mesjid, kita membesarkan Allah. Di luar mesjid kita menyepelekan Dia. Di mesjid, seluruh anggota badan kita dipergunakan untuk beribadah kepada Tuhan. Di luar mesjid kita menggunakannya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;untuk bermaksiat kepada-Nya. Tangan­tangan yang kita angkat dalam doa-doa kita adalah juga tangan-tangan yang bergelimang dosa. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut asma-Nya yang suci adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor. Kepala yang kita rebahkan dalam sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan sombong di hadapan hamba-hamba Allah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES-TRAD"&gt; Hadirin dan Hadirat. A‘idin dan A’idat. Fa’izin dan Fa’izat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES-TRAD"&gt; Marilah kita ubah musibah yang kita alami sekarang menjadi nikmat lagi, dengan mengubah perilaku kita. Tinggalkan arogansi Fir‘aun, kerakusan Qarun, kelicikan Haman, dan kemunafikan Bal‘am. Marilah kita akui dosa-dosa kita di hadapan Dia yang setiap saat dapat mencabut nyawa kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="ES-TRAD"&gt; Tuhan kami, kami sudah berbuat zalim terhadap diri kami dengan melakukan dosa. Jika tidak Engkau ampuni kami dan tidak menyayangi kami, tentulah kami termasuk orang-orang yang rugi. Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau berbuat dosa. Tuhan kami, jangan timpakan kepada kami beban seperti Engkau timpakan kepada umat sebelum kami. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Rabbana, jangan timpakan kepada kami siksa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkan kami, ampuni kami, sayangi kami. Engkau sajalah Pelindung kami. Tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.*&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-2224853976621476238?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/2224853976621476238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=2224853976621476238&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/2224853976621476238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/2224853976621476238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/kita-sudah-menjadi-ali-firaun.html' title='KITA SUDAH MENJADI ALI FIR’AUN'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-7298462379151611456</id><published>2007-12-04T08:42:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:43:44.708+07:00</updated><title type='text'>Menghindari Su’ul Khatimah (1)</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Pada suatu hari ada satu rombongan dari Iran berkunjung ke Najaf. Najaf, adalah sebuah kota di Irak tempat dimakamkannya Imam Ali kw. Di situ juga terdapat banyak pesantren-pesantren. Hampir semua ulama-ulama besar di kalangan Ahlulbait, pernah singgah dan belajar di Najaf ini. Bahkan pernah salah seorang lulusan Najaf berkunjung kepada kita, dan shalat di Mihrab ini (masjid Al-Munawarah) Beliau mengajak saya untuk sekali waktu belajar juga di Najaf, sekaligus mengambil berkah dan ulama-ulama besar di sana. Imam Khomaini juga pernah menghabiskan masa di Najaf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena menjadi pusat ilmu pengetahuan, Najaf kemudian memperoleh gelar Najaf Al-Asyraf, Najaf yang mulia. Kota ilmu kedua setelah Najaf adalah Qum. Najaf ini, seperti kita ketahui pada peperangan akhir-akhir ini, sudah duluan jatuh sebelum Baghdad. Ketika Tentara Inggris mau masuk ke Najaf, mau menjarah Masjid Imam Ali yang ada di situ, seluruh penduduk kota Najaf berbaris membentuk tameng-tameng hidup. Ribuan manusia berbaris di jalan raya menghalangi tentara Inggris yang mau masuk ke situ. Tampaknya penduduk itu bertekad untuk syahid, demi mempertahankan kesucian kota Najaf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada satu rombongan dan Iran, berkunjung kepada salah seorang di Najaf. Sebelum berpisah, sebelum pulang ke kampung halamannya mereka meminta doa supaya memperolah &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;husnul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (di kalangan mazhab Ahlulbait, istilah yang lebih populer bukan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;husnul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, tetapi &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;husnul ‘aqibah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; ("ujung yang paling baik, ujung kehidupan yang paling baik"). Jadi mereka meminta doa agar memperoleh &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;husnul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Doanya pendek, bunyinya: "&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allahummaj’al aqibata amrina khaira&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;; ya Allah, jadikanlah ujung dan urusan kami ini kebaikan" Kepada yang hadir waktu itu, katanya, Mirza Al Kabin, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;quddisa sirruh&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, ulama besar itu berkata, "Mereka minta doa kepadaku doa yang paling penting, dan tidak ada doa yang lebih utama, lebih penting dan doa yang tadi." Yaitu kita berdoa, mudah-mudahan akhir dan urusan kita kebaikan, karena kalau akhir urusanitu keburukan, kita termasuk orang yang paling rugi. Akhir yang buruk itu disebut &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul aqibah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, atau lebih populer di tempat kita sebagai &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su‘ul khatimah, &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;Al-Qur’an bahkan mengajarkan kepada kita doa supaya kita terhindar dari &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Rabbana la tuzigqulubana ba’da idz hadaitana&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;wahablana min ladunka rahmah, innaka antal wahab&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.": Ya Allah, janganlah kau gelincirkan hati kami setelah kau berikan petunjuk kepada kami, anugrahkanlah kepada kami kasih sayangmu, sesungguhnya Kau Maha Pemberi Anugerah".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tergelincirnya hati setelah mendapat petunjuk adalah ciri &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; Jadi, kalau kita mengajami kehinaan setelah kemuliaan, atau mengalami &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Niqmah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; setelah &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ni‘mah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, mengalami bencana setelah mendapat anugrah, memiliki kemalangan setelah memperoleh keberuntungan kita masuk dalam &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Di dalam Al-Quran misalnya Allah memberikan contoh satu negeri, yang mengalami &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; itu, misalnya QS. An Nahl:112, "Allah berikan perumpamaan satu negeri yang aman tenteram dan damai, rezekinya datang melimpah dari setiap penjuru lalu penduduk itu kafir kepada nikmat Allah, dan Allah timpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan lantaran apa-apa yang mereka lakukan ". Negeri itu memperolah &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, karena semula negeri itu makmur, tapi kemudian negeri itu hancur. Mula-mula negeri itu memperoleh makanan dan segala penjuru, tapi karena mereka kafir kepada nikmat Allah, mereka memperoleh bencana demi bencana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ciri yang lain dan &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; adalah mengalami kekafiran atau kedurhakaan, setelah memperoleh keimanan dan ketakwaan. Orang-orang yang ketika masa mudanya baik-baik banyak melakukan amal salih, tetapi di ujung hidupnya setelah kekayaan mengalir kepadanya dia melakukan kemaksiatan, itu &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah,&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; kekufuran dan kefasikan, setelah keimanan dan ketakwaan. Karena itu, di dalam Islam, kalau ada orang tua melakukan kemaksiatan, dia akan memperoleh siksaan lebih banyak, memperoleh ancaman lebih banyak daripada anak muda yang melakukan kemaksiatan yang sama. Bahkan Rasulullah saw pernah bersabda bahwa ada tiga orang yang Allah tidak akan perhatikan dia pada hari kiamat, dan Allah tidak akan bersihkan dia. Dua di antaranya: orang tua yang berzina dan orang miskin yang takabur. Anak muda yang berzina itu berdosa, tapi orang tua yang berzina itu berdosa lebih besar lagi, karena dia berada di ujung kematiannya Dia mengalami &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul aqibah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebenarnya, selama kita di dunia ini, Allah telah membersihkan diri kita dengan berbagai ujian dan musibah. Kita juga membersihkan diri kita dengan istighfar, dengan bertaubat, dengan amal salih. Nanti, kalau maut menjemput kita, dan masih ada dosa-dosa di dalam diri kita, Allah belum mau menerima kita. Maka di alam kubur kita memperoleh pembersihan berikutnya, yaitu dengan azab kubur, juga dengan doa-doa kaum Muslimin Yang dikirimkan kepada kita, dengan amal salih orang-orang Islam terhadap kita. Kalau dengan itu pun belum bersih juga dosa kita, nanti ketika dibangkitkan di hari akhirat, kita akan mengalami kesusahan yang luar biasa, kemelut yang menakutkan pada hari kiamat nanti. Kemelut itu juga menjadi pembersih terhadap dosa-dosa kita. Kalau itu pun belum bersih juga,— kata peribahasa Arab, &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;akhiru dawa al kei&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;—, obat yang terakhir adalah kei. Dulu ada kebiasaan orang mengobati, kalau penyakit tak sembuh-sembuh, obat yang terakhir itu adalah kei. Besi dibakar hingga membara, kemudian ditempelkan ke bagian orang yang sakit itu. Pengobatan itu disebut "kei".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Neraka sebenarnya adalah ungkapan kasih sayang Allah, untuk kita. Tapi ada juga yang sudah dimasukkan ke neraka masih belum bersih juga, lalu dia berharap untuk memperoleh syafaat Rasulullah saw, atau para imam yang suci, kalau itu pun tidak dia peroleh, tinggal satu harapan lagi, yaitu kasih sayang Allah. Allah memperhatikan dia kemudian Allah mensucikan dia. Itu adalah yang terakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tetapi, kata Rasulullah saw, ada orang yang sampai terakhir pun Allah tidak memperhatikan dia. Siapa orang yang malang seperti itu? Orang-orang yang terrnasuk &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatjmah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;? Kata Nabi, ada tiga orang: (1) kehinaan setelah kita mengalami kemuliaan. (2) kekafiran setelah kita beriman dan bertakwa kepada Allah swt (3) meninggalkan dunia ini tanpa membawa keimanan atau meninggalkan dunia dalam keadaan berbuat dosa. Inilah yang paling buruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di dalam sejarah Islam ada contoh banyak orang yang mengalami &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Al-Quran menyuruh Rasulullah saw memberikan pelajaran pada umatnya tentang bahaya &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; itu. Orang Islam itu harus selalu takut jatuh kepada &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, dan ketakutan itu baru hilang setelah malaikat maut mencabut nyawanya. Barulah dia tahu apakah dia termasuk &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; atau husnul khatimah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulullah disuruh membacakan kepada seluruh umatnya kisah orang-orang yang mengalami &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;su’ul khatimah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, untuk dijadikan pelajaran bahwa orang yang salih sekarang ini mungkin orang yang akhlaknya baik, yang ahli ibadah, bisa saja mengakhiri hidupnya sebagai orang yang berbuat kefasikan. Allah berfirman kepada Rasul-Nya: "Bacakan oleh kamu Muhammad) kepada orang-orang Islam itu kisah orang-orang yang te!ah kami berikan kepada dia ayat-ayat kami kemudian dia melepaskan dirinya dan ayat-ayat itu, lalu dia dilkuti setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat." (QS. Al-A’râf: 175)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Biasanya orang sesat itu mengikuti setan, tapi di sini Al-Quran bercerita setan pun sampai ikut kepadanya. Dia jadi imamnya setan dan dia termasuk orang-orang yang sesat. Menurut para ahli tafsir, ayat ini bercerita tentang seorang ulama besar yang mempunyai banyak pengikut dan doanya selalu diijabah Allah. Para ulama menyebut dia memperoleh asma Allah yang agung, yang kalau dia sebutkan Allah pasti mengijabah doanya. Dia orang yang sangat salih. Tetapi kemudian dia tertarik dengan dunia. Dia hidup pada zaman nabi Musa as. Setelah dia menjadi ulama besar, setelah dia memperoleh ayat-ayat Allah, setelah dia mengetahui nama Allah yang agung, kemudian di akhir hayatnya dia tertarik dengan dunia, lalu dia bergabung dengan Fir’aun, kata Al-Quran berikutnya: "Sekiranya Kami kehendaki Kami angkat derajatnya (karena ilmunya, dan kesalihannya itu), dengan ayat-ayat itu, tetapi karena dia ini tertarik kepada urusan dunia, dia tertarik ke bumi, (bukan tertarik ke langit), dan mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu dia mengulurkan lidahnyajuga" (QS. A1-A’râf: 176).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dia bergabung dengan Fir’aun dan dia diminta berdoa untuk kaum nabi Musa. Berangkatlah dia ke sebuah tanah lapang untuk membacakan doa ,kalau sekarang mungkin semacam istigosah, doa bersama untuk kecelakaan bagi Nabi Musa. Waktu dia berangkat ke tanah lapang dia mengendarai keledai. Ajaib, keledai itu tidak mau berangkat, dia mogok. Walaupun dia pukuli keledainya, tetap ia tidak mau berjalan. Kemudian Allah membuat keledai itu bicara: "Celaka kamu, kenapa kamu pukuli aku. Apakah kamu ingin aku mendatangi bersama kamu suatu tempat agar kamu mendoakan kejelekan bagi nabi Allah dan kaum Mukminin?" Tidak henti-hentinya dipukuli keledai itu sampai akhirnya keledai itu mati. Kata para ulama, ada dua ekor binatang yang tinggal di surga nanti: anjing ashabul kahfi dan keledainya Bal’am bin Baurah. (Bersambung.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-7298462379151611456?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/7298462379151611456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=7298462379151611456&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7298462379151611456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7298462379151611456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/menghindari-suul-khatimah-1.html' title='Menghindari Su’ul Khatimah (1)'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-8673379549290349227</id><published>2007-12-04T08:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:40:33.840+07:00</updated><title type='text'>Perintah Melaknat Dalam Al Qur’an</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada beberapa orang jahil di kalangan pengikut Ahul bait yang keberatan untuk melaknat orang-orang yang sepatutnya dilaknat. Di bawah ini, kita sertakan keterangan dan Al-Quran, Sunnah Nabi saw, dan teladan dan para imam yang suci. Apabila masih juga keberatan, setelah tegak keterangan dan Allah dan rasul-Nya, ia tidak dihitung lagi sebagai orang beriman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Maka, demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya" (QS. Al-Nisa: 65).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Quran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagaimana akhlak Nabi saw adalah Al-Quran, maka setiap Muslim harus menginternalisasikan Al-Quran dalam dirinya. Ia harus memuliakan orang yang dimuliakan Al-Quran. Ia harus merendahkan orang yang direndahkan Al-Quran. Ia harus berdoa buat orang yang didoakan Al-Quran. Ia harus melaknat orang yang dilaknat Al-Quran. Di antara orang yang harus dilaknat adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1. Yang menyakiti Rasulullah saw:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;    "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya;&lt;br /&gt;    Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan&lt;br /&gt;    baginya siksa yang menghinakan" (QS. Al-Ahzab: 57)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2. Yang memfitnah mukminin dan mukminat:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;    "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya; &lt;br /&gt;    Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan&lt;br /&gt;    baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti&lt;br /&gt;    orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka&lt;br /&gt;    perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan&lt;br /&gt;    dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 57-58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Yang memfitnah (menuduh) berzina:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;    "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berzina) perempuan-&lt;br /&gt;    perempuan yang baik-baik, yang tidak pernah terpikir melakukan&lt;br /&gt;    kekejian lagi beriman, mereka dilaknat di dunia dan di akhirat, dan &lt;br /&gt;    bagi mereka azab yang besar." (Al-Nur: 23)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;    Selain dilaknat, penuduh atau pembuat fitnah itu tidak boleh diterima kesaksianya seumur hidupnya dan dicambuk 80 kali menurut syariat   Islam.&lt;br /&gt;   "Dan orang-orang yang menuduh (berbuat zina) perempuan-perempuan yang baik—baik dan tidak mendatangkan empat orang saksi maka  deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan  janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan  mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Nur: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Orang-Orang yang memutuskan silaturrahim:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;   "Bukankah apabila kamu berkuasa kamu berbuat kerusakan di&lt;br /&gt;   muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah&lt;br /&gt;  orang- orang yang dilaknat Allah dan ditulikannya telinga mereka dan&lt;br /&gt;  dibutakannya mereka." (QS. Muhammad: 22-23; lihat juga QS. al-&lt;br /&gt;  Ra’d: 25&lt;b&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Para pembohong:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;    "...Marilah kita memangil anak-anak kami dan anak-anak kamu,&lt;br /&gt;    isteri  kami dan isteri-isteri kamu, din kami dan din kamu; kemudian&lt;br /&gt;   marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya&lt;br /&gt;   laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta." (QS. Ali ‘lmran: 61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Orang- orang zalim:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;    "...Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang&lt;br /&gt;    zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah&lt;br /&gt;    ditimpakan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat&lt;br /&gt;    dan manusia seluruhnya." (QS. Ali lmran: 86-87; lihat juga QS. Al-&lt;br /&gt;    A’raf: 44)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;    "...Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang     zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah     ditimpakan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat dan     manusia seluruhnya." (QS. Ali lmran: 86-87; lihat juga QS. Al-A’raf: 44) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Itulah sebagian dan ayat-ayat yang melaknat mereka yang mempunyai sifat yang patut dilaknat, apa pun agama atau mazhabnya. Kata "la’nat" dengan berbagai derivasinya disebut 41 kali dalam Al-Quran. Perhatikanlah ayat itu dan amalkan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;    "...Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang     zalim. Mereka itu balasannya ialah bahwasanya laknat Allah     ditimpakan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat dan     manusia seluruhnya." (QS. Ali lmran: 86-87; lihat juga QS. Al-A’raf: 44)&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Al-Sunnah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di samping hadis-hadis yang menunjukkan sifat-sifat orang yang dilaknat, Rasulullah saw memberikan contoh melaknat orang-orang tertentu. Ia secara tegas menyebut nama-nama mereka dalam laknatnya itu. Yang dilaknat Rasulullah saw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rasulullah saw bersabda, "Ada tiga orang yang dilaknat Allah swt&lt;br /&gt;   orang yang berpaling dari kedua orang tuanya; orang yang mengadu&lt;br /&gt;   domba di antara suami isteri sehingga mereka bercerai kemudian ia&lt;br /&gt;   menggantikannya, berita fitnah di antara kaum mukmin sehingga&lt;br /&gt;   mereka sating membenci dan saling mendengki." (Kanz al-’Ummal&lt;br /&gt;   hadits: 43930).&lt;br /&gt;2. Rasulullah saw bersabda, "Aku melaknat tujuh orang yang dilaknat&lt;br /&gt;   Allah. Dan semua Nabi sebelumku diperkenankan (doanya): yang&lt;br /&gt;   menambah-nambah kitab Allah, yang mendustakan ketentuan Allah,&lt;br /&gt;   yang menentang sunnahku, yang menghalalkan apa yang diharamkan&lt;br /&gt;   Allah dan keluargaku, yang berkuasa dengan sewenang-wenang,&lt;br /&gt;  sehingga memuliakan orang yang direndahkan Allah dan merendahkan &lt;br /&gt;  orang yang dimuliakan Allah, yang menyalahgunakan harta kaum&lt;br /&gt;  muslimin, yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allah." (Bihar al-&lt;br /&gt;  Anwar 75:340).&lt;br /&gt;3. Rasulullah saw bersabda, "Allah melaknat seorang fakir yang&lt;br /&gt;   merendahkan dirinya kepada orang kaya karena hartanya. Barang&lt;br /&gt;   siapa di antara mereka itu melakukan hal seperti itu sudah hilang&lt;br /&gt;   sepertiga agamanya." (Kanz al-’Ummal 3 hadits 6288).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di atas hanyalah sebagian di antara orang-orang yang dilaknat saw karena sifat-sifatnya. Di samping itu, misalnya, Rasulullah saw melaknat orang yang memisahkan anak dan ibunya, orang yang durhaka pada orangtuanya, para pekerja di sekitar minuman keras dan zina dan (Lihat indeks dalam Al-Mursyid hal Kanz al-‘Ummal).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selain itu, Rasulullah saw juga memberikan contoh (sunnah) dalam melaknat bahkan apa yang kita pandang sekarang sebagai sahabat Nabi. Ketika mereka memperoleh kekuasaan, ada sahabat yang cari muka dengan membuat hadis palsu bahwa laknat Nabi saw tersebut jadi pembersih bagi dosa-dosa mereka. Bersumber dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Nabi saw pernah bersabda: "Ya Allah, sesungguhnya aku adalah Muhammad seorang manusia biasa. Aku bisa marah seperti halnya manusia lainnya, dan sesungguhnya aku telah membuat perjanjian di sisi-Mu di mana engkau tidak membiarkan aku menyalahinya. Maka setiap mukmin yang aku sakiti, atau aku caci maki, aku laknat atau aku pukul, maka jadikanlah ia sebagai sembahyang, zakat, pendekatan yang mendekatkan mereka kepadamu pada hari kiamat nanti" (Shahih Muslim, Kitab Kebajikan, No. 90, 91)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari Abdullah. Ia berkata: Aku sedang berada di masjid ketika Marwan berkhotbah. Ia berkata: Sesungguhnya Allah swt telah memberib kepada Amirul Mukminin, Muawiyah, pandangan yang baik tentang Yazid. Ia ingin mengangkatnya sebagai khalifah sebagaimana Abu Bakar dan Umar pernah melakukannya (istikhlaf). Berkata Abdurrahman bin Abu Bakar: ‘Tradisi Heraklius?’ "Sungguh, Abu Bakar, demi Allah, tidak menyerahkannya kepada anaknya atau salah seorang di antara keluarganya. Sedangkan Muawiyah melakukannya karena sayang dan ingin memberikan anugrah kepada anaknya." Marwan berkata: Bukankah kamu yang dimaksud Al-Quran sebagai "orang yang berkata kepada orangtuanya ‘cis bagi kalian’ (QS. Al-Ahqaf: 17)". Abdurrahman berkata: Bukankah kamu anak orang terkutuk. Rasulullah saw melaknat bapakmu. Aisyah berkata: Hai Marwan. Demi Allah, ayat itu tidak turun kepada Abdurrahman. Tapi ayat ini turun untuk ayahmu: "Janganlah kamu mentaati setiap tukang sumpah (palsu) yang hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menyebar fitnah, yang melarang perbuatan baik, melampaui batas dan banyak berbuat dosa." (Al-Qalam 10-12).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulullah saw pernah melaknat ayah Marwan ketika Marwan berada dalam sulbinya. Engkau adalah pecahan laknat Allah. (Mustadrak 4:48 1;Tafsir al-Qurthubi 16:197; Taf sir al-Zamakhsyari 3:99; Tafsir Tbn Katsir 4:159; Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491; Tafsir al-Durr al-Mantsur 6:4 1; dll).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam riwayat lain, Aisyah berkata kepada Marwan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda kepada bapakmu dan kakekmu -Abu al-Ash bin Umayyah— "kalian adalah al-syajarah al-mal’unah" (pohon yang terkutuk) dalam Al-Quran (Al-Durr al-Mantsur 4:191; Tafsir al Syawkani 3:231; Tafsir al-Alusi 15:107; Tafsir al-Qurthubi 10:286).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Siapakah Marwan? Marwan adalah anak Al-Hakam. Siapakah Al-Hakam? Ketika Rasulullah saw masih berada di Makkah, Al-Hakam adalah tetangga Nabi yang paling banyak mengganggu dan menyakiti hati Nabi saw. Bakda kemenangan Makkah, Ia masuk Islam dan hijrah ke Madinah. Dalam majlis, ia sering mencemoohkan Nabi dan belakang dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Nabi saw memergokinya dan menyumpahinya: "Allahumma ij’al bihi wazaghan". Ya Allah, jadikan dia terus bergoyang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sejak itu, ia bergelar si wazagh, tukang goyang, sampai mati. Ketika Rasulullah saw berada di tengah-tengah keluarganya, si wazagh itu sering melanggar "privacy" keluarga Nabi saw, mengintip dan menyebarkan berita keji tentang diri Nabi. Kata Abu ‘Umar: "Kana yufsyi ahaditsa Rasulillah saw fa la’anahu." Ia menyebarkan berita keji tentang Rasulullah saw. Lalu Nabi melaknatnya. Beliau mengusir si wazagh dan anaknya ke luar kota Madinah (Al-Isti ‘ab 1:118-119; Usud al-Ghabah 2:34).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada suatu hari Imam Ali as memergoki al-Hakam sedang mengintip Nabi saw. Ia menjewer kedua telinganya dan menjatuhkannya di hadapan Nabi saw. Nabi saw melaknatnya tiga kali seraya bersabda: "Orang ini akan mengkhianati Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. Dan sulbinya akan keluar fitnah yang asap kelabunya akan sampai ke langit." (Kanz al-Ummal 6:39, 90)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setelah Rasulullah saw wafat, pada zaman pemerintahan Abu Bakar dan Umar, Utsman mendesak agar Marwan dan bapaknya dikembalikan lagi ke Madinah. Kedua khalifah itu berkata (Berikut ini ucapan Umar): Wayhak, ya Utsman. Celaka kamu, hai Utsman. Kamu bicara untuk orang yang dilaknat Rasulullah saw dan diusirnya, musuh Allah dan musuh Rasulnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pernah al-Hakam meminta izin untuk berjumpa dengan Rasulullah saw. Ia bersabda: "Suruh dia masuk, laknat Allah baginya dan bagi keturunan yang keluar dan sulbinya, kecuali orang mukmininnya. Tetapi betapa sedikitnya mereka. Dia dan ketununannya adalah pelaku tipu daya,pengkhianat, akan diberi dunia tetapi di akhirat ia tidak memperoleh bagian." (Al-Ansab 5:126; Al-Hakim dalam al-Mustadrak 4:481; Al-Sirah al-Halabiyyah 1:337).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan sulbi al-Hakam lahir Marwan dan keturunan Bani Umayyah, yang disebut dalam Al-Quran sebagai "al-syajarah al-mal’unah". Marwan diangkat menjadi gubernur Madinah pada 42 H. Karena setiap gubernur waktu itu menjadi imam salat, Marwan memulai kebiasaan baru. Sebelum salat, ia memberikan kultum (kuliah tujuh menit) untuk melaknat Imam Ali dan keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena itu, Imam Hasan hanya masuk ke mesjid setelah iqamah. Tetapi, saking senangnya memaki keluarga Nabi saw, ia memaksa Imam Hasan as untuk datang ke mesjid buat mendengarkan makiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kelak, menjelang Asyura, Marwan bermaksud untuk menangkap Imam Husain dan memaksanya berbaiat kepada Yazid. Dari cengkeraman Yazidlah, Imam Husain berangkat ke Makkah. Memang, dan perilaku dan sifat-sifatnya —tukang sumpah palsu, penyebar fitnah, pembuat tipu daya, pemaki, yang berjalan ke sana kemari menyebar namimah— Marwan dan al-Hakam layak untuk dilaknat Nabi saw. Kalau kita mengaku mengikuti sunnah Nabi saw, maka sangat aneh kalau kita keberatan melaknat orang-orang yang perilakunya seperti Marwan. Kita takut, tampaknya hanya pelanjut tradisi Marwan yang akan keberatan menjalankan sunnah Nabi saw dalam melaknat. Na’udzu billah mim dzalik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Teladan Para Imam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Ya Allah, laknatlah ‘Amr dan laknatlah Mu’awiyah karena mereka &lt;br /&gt;    telah menyimpang dan jalan-Mu, mendustakan kitab suci-Mu,&lt;br /&gt;    merendahkan Nabi-Mu serta mendustakan dia dan aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. "Ya Allah laknatlah Busyr dan ‘Amr dan Mu’awiyah. Ya Allah&lt;br /&gt;    jatuhkan atas mereka murka-Mu. Turunkan pada mereka siksa-Mu&lt;br /&gt;    dan timpakan kepada mereka hukuman—Mu dan azab—Mu yang&lt;br /&gt;    tidak Engkau tolakkan dari kaum pendurhaka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. "Ya Allah, hukum keduanya karena yang mereka lakukan dalam&lt;br /&gt;    hakku: dan karena mereka merendahkan urusanku. Berikan&lt;br /&gt;    kepadaku kemenangan menghadapi mereka. Ya Allah, jatuhkan&lt;br /&gt;    azab kepada mereka karena pengkhiatannya kepada umat ini, dan&lt;br /&gt;    karena pandangannya yang buruk terhadap semuanya. Laknat&lt;br /&gt;    Imam yang terakhir ditujukan untuk Zubair bin ‘Awwam dan Thalhah&lt;br /&gt;    bin ‘Ubaid illab. Siapakah Zubair? Zubair adalah saudara sepupu&lt;br /&gt;    Nabi dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Menurut satu riwayat,&lt;br /&gt;    ia adalah orang yang keempat masuk Islam, terkenal pemberani&lt;br /&gt;    dan ikut serta dalam semua peperangan bersama Nabi. Menurut&lt;br /&gt;    Ahlus Sunnah, ia termasuk salah seorang di antara sepuluh&lt;br /&gt;    sahabat yang dijamin masuk surga. Ia tidak mau berbai’at kepada&lt;br /&gt;    Abu Bakar dan menjadi sahabat dekat Imam Ali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena itu, ia termasuk di antara sekelompok kecil yang menyaksikan pemakaman Sayyidah Fatimah Azzahra sa. Ketika Umar memasukkannya kepada salah satu di antara enam anggota dewan formatur, ia mengundurkan diri karena pembelaannya kepada Imam Ali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Ali bersabda, "Zubair selalu menjadi salah seorang di antara kami Ahlulbait, sampai muncul anaknya yang tercela, Abdullah." Pada zaman Utsman, Zubair memperoleh kekayaan yang berlimpah karena fasilitas yang diberikan khalifah. Setelah Utsman terbunuh, ia termasuk yang berbai’at kepada Imam Ali untuk pertama kalinya. Ketika Imam Ali menghilangkan fasilitas istimewanya, ditambah dengan hasutan Mu’awiyyah yang menawarkan kekhalifahan kepadanya, Zubair kemudian mengkhianati Imam Ali dan bergabung dengan pasukan ‘Aisyah, bersama Thalhah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Siapakah Thalhah? Ia termasuk sahabat yang masuk Islam pada zaman permulaan. Nabi mempersaudarakannya dengan Zubair sebelum hijrah. Ia seorang pedagang kaya. Ketika terjadi perang Badar, ia sedang berdagang di Syam. Ahlus Sunnah menghitungnya sebagai salah satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Setelah wafat Nabi, para khalifah memberikan penghormatan kepadanya. Umar memilihnya sebagai salah satu anggota formatur, tetapi ia mengundurkan diri untuk kepentingan Utsman. Walaupun Utsman memberikan kepadanya bantuan keuangan yang menjadikannya salah satu orang terkaya di Madinah, Utsman tidak mengangkatnya menjadi gubernur di kota mana pun. Thalhah sangat menginginkan jabatan khalifah. Ia menulis surat menghasut penduduk Basrah, Kufah, dan kota-kota lainnya untuk melakukan perlawanan terhadap Utsman. Setelah Utsman terbunuh, ia segera berbai’at kepada Imam Ali. Ketika Imam Ali melepaskan hak-hak istimewa yang diperolehnya sebelumnya, ia bergabung dengan Aisyah untuk menuntut darah Utsman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di bawah ini kita kutipkan percakapan dan Zubair dengan Imam Ali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setelah keduanya masuk, mereka berkata: "Ya Amiral Mukminin, kami datang kepadamu memohon izin untuk melakukan umrah."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Ali: "Demi Allah, kalian bukan ingin melakukan umrah, tetapi kalian bermaksud melakukan pengkhianatan. Kalian menginginkan Basrah."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Thalhah dan Zubair berkata: "Astaghfirullah Kami hanya bermaksud Umrah."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Imam Ali: "Bersumpahlah kepadaku, demi nama Allah yang agung. Kalian tidak merusak urusan kaum Muslimin, tidak mengkhianati ba’iat kepadaku dan tidak menyebarkan fitnah." (Lalu keduanya menyatakan dengan lidahnya dengan sumpah yang diminta Imam Ali kepada mereka) Sumpah palsu itu kelak diulangi kembali oleh keduanya pada peristiwa gonggongan anjing Hau’ab. Dalam perjalanan ke Basrah, A’isyah sampal di sumber mata air Hau’ab kepunyaan Bani Amir bin Sha’sha’ah. Anjing-anjing di situ menggonggong dengan keras sehingga salah seorang di antara rombongan berkata: "Semoga Allah melaknat Hau’ab; betapa banyak anjingnya." Mendengar itu A’isyah terkejut dan bertanya: "Apakah ini mata air Hau’ab?" Mereka berkata: "Ya, benar. Ia berkata; Kembalikan lagi aku. Ketika ditanya apa sebabnya, A’isyah menjelaskan bahwa Rasulullah Saw pernah memperingatkan A’isyah agar tidak termasuk orang yang digonggong anjing Hau’ab. Melihat A’isyah sudah mau mengundurkan diri, Zubair dan Thalhah mengumpulkan lima puluh orang Arab dusun untuk bersumpah bersama mereka bahwa tempat itu bukan mata air Hau’ab. &lt;i&gt;"Fa kanat hadi awwalu syahadati zurin fil Islam."&lt;/i&gt; Nilai kesaksian palsu yang pertama di dalam Islam. (untuk mengetahui sumber-sumber bibliografis di atas, lihat Muhammad al-Ray Syahri, &lt;i&gt;Mawsu’at al-Imam&lt;/i&gt; Ali bin Abi Thalib alaihi salam, jilid 5.Qom: Dar al-Hadits 1421 H.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tidak cukup di sini tempat untuk menuliskan daftar orang-orang yang dilaknat Imam All dan para Imam yang lain. Sekadar contoh, Imam Musa al-Kazhim as melaknat Ali bin Abi Hamzah karena mengkhianati Imam setelah ditawari kekayaan yang banyak, Begitu pula ada sahabat terdekat Imam Hasan al-Askari as yang berkhianat kepadanya. Dan selanjutnya Shahib al-Zaman Imam Mahdi (&lt;i&gt;ruhi fida’uhu&lt;/i&gt;) melaknatnya dan menganjurkan para pengikutnya untuk melaknatnya pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-8673379549290349227?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/8673379549290349227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=8673379549290349227&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8673379549290349227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8673379549290349227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/perintah-melaknat-dalam-al-quran.html' title='Perintah Melaknat Dalam Al Qur’an'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-7260951049876344058</id><published>2007-12-04T08:36:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:37:32.595+07:00</updated><title type='text'>Semangat Pluralisme dalam Surat A1-Maidah Ayat 67, 68, 69</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya mulai pengajian hari ini dengan membaca beberapa ayat dan Surat Al-Maidah ayat 67, 68, dan 69. Sebetulnya yang ingin saya bahas adalah ayat 69 saja, tetapi para ulama ahli tafsir sering merangkai tiga ayat ini sebagai kesatuan dimulai dan ayat 67 dan diakhiri dengan ayat 69. Saya ingin memulai dengan ayat 69 dulu dalam terjemahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabi’in dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." Ayat ini menunjukkan bahwa di hadapan Allah Swt, agama Islam, agama Yahudi agama Nasrani, agama Shabi’in (selain Yahudi dan Nasrani) nama-nama semuanya bisa mengantarkan kita kepada Allah Swt sepanjang kita penuhi tiga syarat: beriman kepada Allah, hari pertanggungjawaban dan beramal sholeh. Bagi yang mengamalkan tiga syarat ini tidak ada rasa takut kepada mereka dan tidaklah mereka berduka cinta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ayat ini diulang tiga kali di dalam Al-Quran. Pertama dalam surat Al-Baqarah ayat 69 dan kedua di dalam surat Hajj ayat 17. Ayat ini sering membingungkan saudara-saudara kita termasuk mungkin Anda semua. Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa orang Yahudi, orang Nasrani,orang Shabi’in akan selamat di hadapan Allah Swt. Amal-amal mereka akan diterima Allah Swt kalau mereka beriman kepada Allah, kepada hari akhir dan beramal soleh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syarat keselamatan itu tiga. Tidak jadi soal apakah agamanya itu Yahudi, Nasrani, dan atau Shabi’in. Pendapat seperti ini tidak mengenakan kita karena biasanya orang akan mengatakan, "Untuk apa kita beragama Islam kalau yang beragama lain pun akan diterima Allah Swt?" Ada juga orang yang bingung karena menghubungkan ayat Surat Al-Maidah 69 ini dengan ayat lain "Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam;" atau "Siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Asbab al-Nuzul AI-Maidah 67&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebelum membicarakan ayat ini lebih lanjut mari kita kembali kepada Al-Maidah ayat 67, dua ayat sebelumnya Ayat ke 67 sebetulnya berkaitan dengan Imam Ali as. Pada tanggal 21 Ramadhan tokoh suara keadilan manusia itu syahid. Dua bulan sebelumnya, ketika ia shalat shubuh, seorang peserta shalat meloncat dari belakang dan menebas kepala imam Ali dalam keadaan sujud. Orang yang membunuh Imam Ali itu adalah seorang muslim, bahkan ia termasuk kelompok yang pernah mengikuti beliau. Bahkan ketika Imam Ali masuk ke masjid waktu malam, Ia melihat pembunuh itu tidur di masjid dengan bertelumpuk, Imam Ali membangunkan dia dan melarangnya untuk tidur bertelumpuk. Sebuah anjuran demi kesehatan dia. Kemudian Imam Ali melakukan salat Subuh. Itulah salat Subuhnya yang terakhir sebagai imam jamaah. Beliau tersungkur di mimbar. Jadilah Imam Ali syahid mihrab yang pertama di dalam sejarah Islam. Syahid mihrab adalah orang yang gugur di mihrab masjidnya dalam keadaan terbunuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika beliau ditebas, darah mengalir dari kepala bagian atasnya membasahi kumis dan janggutnya. Persis seperti diramalkan Rasulullah Saw. Dahulu, di zaman Nabi, Rasulullah pernah berkumpul bersama para shabatnya kemudian beliau meminta surat &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;wasamsi waduhaha&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;. Ujung surat itu adalah ayat yang berbunyi, "ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh as) berkata kepada mereka: ("Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya" Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah)." Ketika turun ayat ini Rasulullah berkata "Orang Yang paling jahat di zaman dahulu membunuh unta nabi Shaleh, kemudian Allah menurunkan azab-Nya kepada mereka Dan orang yang paling jahat di umatku nanti akan membunuh Ali dan membasahi janggutnya dengan darah dari kepalanya"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sejak syahidnya Imam Ali kaum Muslimin dirundung kemalangan demi kemalangan. Tidak henti-hentinya mereka diperintah oleh penguasa yang zalim. Mungkin karena mereka membunuh Imam Ali (pada malam-malam qadar?) maka selama seribu bulan mereka diperintah oleh penguasa yang zalim. Setejah itu agama dikacaukan, kebenaran disembunyikan. Orang mengajarkan agama Islam yang tampak asli tapi sebetulnya palsu. Itu terus terjadi selama seribu bulan. Allah ingin membuktikan kebenaran Al-Quran yang turun pada malam qadar bahwa kebenaran akan menang di atas kekuasaan dinasti Umayyah yang ber1angsug selama seribu bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Jadi turunnya Al-Quran di bulan Ramadhan itu jauh lebih bernilai dibandingkan dengan seribu bulan pemerintahan dinasti Umayyah yang mengacaubalaukan agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kebenaran Al-Quran akan terus bertahan karena pendamping Al-Quran adalah Ahlul Bait Nabi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Adanya penyimpangan yang jauh dalam agama Islam dikarenakan mereka telah membunuh manusia yang paling saleh setelah Rasulullah Saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang yang menbunuh Imam Ali begitu juga orang yang berkhianat kepada beliau tahu betul bahwa surat Al-Maidah ayat 67 turun berkenaan dengan Imam Ali. "Hai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Dan jika tidak kamu kerjakan (apa Yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatNya Allah memelihara kamu dan (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir "Ada ayat lain Yang berkenaan dengan ayat ini. Saya ambil dari Tafsir Al-Manar yang ditulis oleh Sayyid Rasyid Ridha. Beliau dalam tafsir Syekh Muhammad Abduh. Buat anda semua yang hidup pada pergerakan Islam sekarang mungkin belum kenal dengan yang namanya Sayyid Rasyid Ridha atau Syekh Muhammad Abduh kecuahi kalau Anda anggota Muhammadiyah yang menjalani training. Sekolah Sejarah Gerakan Pembaharuan Islam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Alkisah datang ke Mesir seorang ulama besar dari Iran. Namanya Sayyid Jamaluddin Al-Afghani. Ia mengaku sebagai seorang pengikut mazhab Hanafi. Ia berkeliling ke seluruh negeri Islam yang waktu dulu berada dalam penjajahan. Ia mendorong mereka untuk bergerak melawan kekuasaan Barat. Ia berikan semangat perlawanan di berbagai negeri yang didatanginya. Sampailah dia ke Mesir. Di Mesir ia mempunyai murid yang sangat cerdas, Syekh Muhammad Abduh. Syekh Muhammad Abduh mengajarkan tafsir, seperti saya, majelis-majeisnya seluruh tafsir Syekh Muhammad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abduh itu dikumpulkan dicatat oleh murid-muridnya dan kemudian diberikan komentar tambahan oleh Sayyid Muhammad Rasyid Ridha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tulisan itu kemudian dimuat dalam majalah Al-Manar. Tafsir Syekh Muhammad Abduh kata sebagian orang, di-"wahabi"-kan oleh Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Tafsir dari majalah Al-Manar itu sampailah ke Tuban. Dari pelabuhan Tuban sampailah ke tangan seorang kiai Jawa yang sederhana, namanya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Tulisan tafsir Al-Manar itu menggetarkan beliau dan mendorong beliau untuk mendirikan persyarikatan yang bertahan sampai sekarang, yaitu persyarikatan Muhammadiyah. Jadi Tafsir Al-Manar ini mempengaruhi dunia Islam dan pembaharuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kenapa saya bicara tentang itu? Karena orang-orang Muhammadiyah orang-orang Persis, dan saudara-saudara kita dari Hizbu Tahrir, Majelis Mujahidin Indonesia dan sebagajnya yang sering dianggap sebagai kelompok pembaharu, menolak ayat Al-Ma’idah 67 ini turun tentang Imam Ali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menurut mereka ayat ini tidak turun tentang Imam Ali. Bahkan mereka ayat ini turun pada permulaan dakwah Nabi. Jadi Nabi diperintahkan untuk berdakwah. Mulai semula, kata mereka, Nabi diperintahkan berdakwah sembunyi-sembunyi kemudian turunlah ayat ini, Hai Rasul sampaikan apa yang disampaikan kepadamu itu secara terbuka Sebab kalau tidak kamu sampaikan secara terbuka, berarti kau tidak menyampaikan risalah Dia. Allah akan melindungi kamu dari gangguan manusia." Ayat ini turun di Makkah pada permulaan dakwah. Itu menurut pengikut Syekh Muhammad Abduh dan Sayyid Rasyid Ridha di Indonesia. Tapi mereka lupa bahwa ayat ini Madaniyyah karena terletak pada surat AJ-Maidah dan semua ulama sepakat bahwa ayat ini adalah ayat Madaniyyah. Ketika disampaikan kritik itu, ada jawaban juga dan mereka. "Bahwa dengan mengutip tafsir dan Abd bin Hamid, Ibnu Jarir Ibnu Abi Hatim, Abu Syekh dari Mujahid bahwa ayat ini turun pada permulaan Islam dimulai dengan tabligh pada keseluruhan orang. "Kalau begitu, kenapa ditempatkan di ujung surat Madaniyyah yang turun di Madinah, kan itu tidak masuk akal? Ayatnya turun di Madinah padahal tablighnya dilakukan di Makkah pada awal kenabian. Masih kata mereka, ini hanya ditempatkan di ujung ayat-ayat madaniyyah untuk mengingatkan kembali pada tugas dakwah itu. Ini argumentasi yang sangat rapuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Riwayat-riwayat dan Tafsir Al-Manar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Adapun pendapat Muhammadiyyah tentang ayat di atas, sejauh dan apa yang diambil dan Syekh Muhammad Abduh dan Sayyid Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar, saya mengutip bahwa kitab itu yang mengatakan bahwa ayat ini turun pada hari Ghadir Khum berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib. Peristiwa hadis Ghadir Khum diriwayatkan di dalam Tafsir al-Manar juz ke 6 halaman 164.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di Ghadir Khum Nabi memulai dengan dialog, "Apakah kalian aku sebagai pemimpin kalian? Apakah aku sudah menyampaikan apa yang Allah peerintahkan untuk aku sampaikan? Apakah kalian menganggap aku lebih diutamakan dan diri kalian sendiri?" Semua menyaksikan dan mengiyakan. Kemudian Rasulullah memanggil Ali, berdiri di atas mimbar pelana kuda dan unta itu. Beliau angkat tangan kanan Ali seraya berkata, "Siapa yang menganggap aku sebagai pemimpin hendaklah menerima Ali sebagai pemimpinnya." Sebelum Rasulullah memerintahkan sahabatnya itu, Jibril turun menyampaikan kepada Rasulullah surat Al-Maidah ayat 67 ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di dalam Tafsir Al-Manar juga diriwayatkan hadis ini, "Sesungguhnya peristiwa pengangkatan Imam Ali sebagai pemimpin itu menyebar luas di seluruh negeri. Sampailah berita kepada salah seorang tokoh kabilah, kepala suku yang bernama Harif Ibnu itu Nukman Al-Fikri. Dia mendatangi Nabi pada untanya, beliau masih berada Abthoh (nama lain bagi kota Makkah). Dia turun dan untanya dan dia berkata kepada Nabi ketika beliau sedang berada di tengah-tengah sahabatnya: ‘Hei Muhammad kauperintahkan kami untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah, kami terima itu semua darimu. Kauperintahkan juga kami untuk melakukan shalat lima waktu, kami lakukan, kami terima. Kau perintahkan kami haji ke Baitullah, kami terima. Dan engkau Muhammad tidak merasa senang dengan semua ini sampai engkau angkat lengan putra pamanmu dan engkau utamakan dia di atas kami dan engkau berkata ‘siapa yang menerima aku sebagai pemimpin hendaknya terima Ali sebagal pemimpin’ apa yang kau ucapakan ini berasal dari kepentingan kamu atau berasal dari perintah Allah? Rasulullah menjawab singkat: Demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, ini semua adalah perintah Allah.’ Maka Harif berpaling menuju kepada kendaraannya sambil berdoa, "Ya Allah jika yang diucapkan Muhammad itu benar, maka turunkan kepadaku batu dan langit, datangkan kepada kami azab yang pedih." Belum sampai dia ke untanya sebuah batu diturukan Tuhan dan langit masuk ke ubun-ubunnya dan keluar dan duburnya. Sayyid Rasyid Ridha meriwayatkan hadis ini di dalam tafsir Al-Manar, tetapi di ujung tiba-tiba setelah selesai dia mengutip itu, dia berkata, "Hadis ini dibuat-buat" sambil tidak menjelaskan siapa yang membuat hadis itu. Padahal sebelumnya dia sebutkan bahwa hadis ini terdapat di dalam berbagai riwayat. Kalau ada sanadnya itu tidak dibuat-buat, paling-paling harusnya hadis ini dha’if karena ada orang yang namanya ini dan itu dan dia pendusta. Mestinya begitu. Mestinya ada pertanggungjawaban ditinjau dari ‘ulumul hadis. Mungkin karena tidak bias membuktikan kedha’ifan hadis itu, maka cukuplah dikatakan kepadanya, "hadis ini dibuat-buat." Sekali lagi, sayangnya, tanpa alasan yang jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Masih kata Sayyid Rasyd Ridha. "Dalam riwayat lain Nabi berkhotbah di hadapan manusia kemudian beliau menyebut pokok-pokok agama dan berwasiat kepada umatnya untuk mengikut Ahlul Baitnya lalu beliau bersabda, ‘Aku sudah tinggalkan bagi kalian dua pusaka, kitab Allah dan Ahil Baitku. Maka perhatikanlah bagaimana kamu menjaga keduanya karena keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya datang kepada-Ku di telaga.’ Allah pelindungku dan aku adalah wali setiap mukmin. Kemudian beliau mengangkat tangan Imam ‘Ali dan seterusnya..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diriwayatkan juga dalarm hadis yang lain bahwa Umar menemui Imam Ali dan berkata, "Selamat bagi kamu hai ‘Ali, sekarang kau menjadi Pemimpin mukmin laki-laki maupun perempuan" Semua hadis yang saya baca itu diriwayatkan oleh Sayyid Rasyid Ridha di dalam Tafsjr Al-Manar. Dan Sayyid Rasyid Ridha adalah -sekali lagi- gurunya Muhammadiah dan Persis Gurunya meriwayatkan hadis ini. Murid-muridnya meriwayatkan hadis ini juga tetapi dengan menolak untuk mengikuti gurunya. Apa yang saya lakukan? Saya hanya akan mengajarkan apa yang diriwayatkan dan menolak apa Pendapatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semangat Pluralisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Barulah dua ayat setelah itu Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabi’in dan orang-orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Nasrani Siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." Dalam surat Al-Baqarah ayat 62, Allah Ta’ala juga berfirman "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati." Ayat ini juga diulang dengan redaksi yang berbeda. Jadi tiga kali ayat ini disebut yang ketiga dalam surat Haji ayat 17.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Secara singkat saya hanya akan menyebutkan penafsiran seorang ahli tafsir yaitu Sayyd Husein Fadlullah Kata Sayyid Husein Fadlullah dalam tafsirnya Min Wahy al-Qur’an. "Makna ayat ini sangat jelas, ayat ini menegaskan bahwa keselamatan pada hari akhirat akan dicapai oleh seluruh agama yang berbeda-beda di dalam pemikirannya di dalam pandangan hidupnya dalam syari’atnya tapi Allah terima semuanya itu dengan satu syarat yaitu iman kepada Allah, Iran kepada hari Akhir dan melakukan amal shaleh" Dan dalam tafsir Mizan dari ‘Allamah Thabathaba-i. "Ayat ini menunjukkan bahwa keselamatan tidak bergantung kepada nama agama yang kita anut." Jadi jangan berkata karena namanya Islam pasti masuk Surga, seperti juga bahwa selain Islam pasti masuk neraka. Itu tidak betul (bersambung)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-7260951049876344058?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/7260951049876344058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=7260951049876344058&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7260951049876344058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7260951049876344058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/semangat-pluralisme-dalam-surat-a1.html' title='Semangat Pluralisme dalam Surat A1-Maidah Ayat 67, 68, 69'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-7129853670371847296</id><published>2007-12-04T08:26:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:28:01.382+07:00</updated><title type='text'>Kisah Pemenang</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pemerintah sebelum Revolusi Perancis 1789 disebut sebagai Ancien Regime atau Orde Lama. Rakyat menumbangkan kekuasaan mutlak raja dan menghilangkan hak istimewa kaum bangsawan. Empat puluh tahun kemudian, kekuasaan dipegang lagi oleh kaum feodal, keluarga Bourbon. Ketika pemerintah mengabaikan konstitusi sama sekali, kaum liberal dan demokrat, didukung oleh anak-anak muda dan kelas menengah turun ke jalan. Kaum buruh, yang tak mengerti apa-apa tentang politik, juga ikut hanya untuk mencari nasib yang lebih baik. Dinasti Bourbon tumbang. Anehnya, kelompok baru yang memerintah menjadi "bangsawan baru". Mereka terdiri dari bankir, profesor, ahli hukum, kaum profesional. Mereka tak punya darah biru, tapi punya uang dengan macam-macam warna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada seorang anak muda cerdas, mahasiswa hukum dan kedokteran. Ia ikut-serta dalam perjuanga kaum demokrat. Begitu pemerintahan berganti, ia kecewa. Ia melihat pemerintahan baru hanyalah mengganti jubah. Di dalam jubah masih juga bercokol Sang Penindas. Ia menggalang kesatuan di antara anak musa radikal. Ia masuk organisasi Amis du Peuple (Sahabat Rakyat). Bersama 14 orang kawannya, ia ditangkap. Ketika ditanya apa profesinya, ia menjawab, "Kaum proletar!" Ia berkata, "Proletar adalah pekerjaan 30 juta rakyat Perancis, yang hidup dari hasil kerjanya tapi tidak memiliki hak-hak politik." Semua perusuh itu dibebaskan, kecuali anak muda itu. Ia dianggap aktor intelektual di balik berbagai kerusuhan. Ia dituduh mengganggu ketertiban dan menghasut orang miskin untuk memerangi orang kaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ia masuk penjara--profesi yang ditekuninya sampai akhir hayatnya. Ia pernah dibebaskan, tetapi ia mengkritik sistem pemilu yang menghasilkan mayoritas hasil rekayasa. Ia berkata, "Mayoritas yang diperoleh dengan teror dan membungkam mulut bukanlah mayoritas warga negara, tetapi kawanan budak semata." Kembali ia masuk penjara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berulangkali ia dipenjara, dibebaskan, dan dipenjara lagi. Ketika ia berusia tujuh puluh tahun, dari balik terali penjara ia melihat perubahan pemerintahan ke arah yang lebih baik. Sungguh ajaib, ketika menjadi caleg dalam status sebagai napi, ia memenangkan pemilu. Lewat prosedur yang berbelit-belit, ia mendapat amnesti. Tapi, tak lama setelah menghirup kebebasan, ia menghembuskan napas terakhir karena serangan jantung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang yang luar biasa ini adalah tokoh penting kaum republik di balik berbagai kerusuhan antara 1827-1870. Ia mendahului Marx dan Lenin dalam petualangan politik yang utopis. Bagi kaum radikal, ia contoh utama seorang pejuang yang meninggalkan kepentingan pribadi dan kariernya untuk membela orang-orang tertindas. Bagi psikolog sosial, inilah prototipe calon diktator masa kini: kepala batu, tak toleran, licik dan kejam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan segala keluar-biasaannya, ia tidak dikenal dalam sejarah. Nama August Blanqui ditulis sebagai nama jalan di daerah miskin di Paris. Sebuah kota kecil, Puget Thenier, mendirikan monumen yang kecil buat mengenangnya. Tapi orang-orang di sekitarnya tak pernah tahu siapa dia.Orang menduganya sebagai tokoh politik lama yang sudah dilupakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Max Nomad, penulis The Apostles of Revolution, memulai kisah Blanqui dalam irama melankolis. "Kemasyhuran tak pernah memihak orang yang kalah. Kecupannya yang cepat tidak mengabadikan korban kegagalan. Kemasyhuran memihak pemenang dan tak peduli dengan kualitas moral dan intelektual para pendukungnya. Thomas Muenzer jauh melebihi kawan sezamannya, Martin Luther, dalam karakter dan keberanian. Tapi ia mati di tiang gantungan setelah siksaan yang tak ada bandingannya. Ia tak dikenal oleh para petani Jerman, yang untuk mereka ia persembahkan darahnya. Penghormatan mereka diberikan kepada Sang Pembaharu itu, yang menggelepar di depan para pangeran, serta atas nama Tuhan memfatwakan kepada mereka keharusan untuk membunuh dan menyiksa rakyat kecil yang bangkit menentang tuan-tuannya."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang-orang seperti August Blanqui dan Thomas Muenzer selalu muncul dalam perubahan sosial di bangsa mana pun. Tapi nama-nama mereka umumnya hilang dari ingatan umat manusia. Yang menentukan apakah seorang masuk sejarah atau tidak bukanlah karakter, keberanian, atau kebenaran misinya. Yang menentukan adalah kemenangan. Karena itu, sejarah berubah-ubah, bergantung kepada siapa yang menang ketika sejarah itu dikisahkan. Sejarah adalah kisah umat manusia yang sering lebih aneh dari dongeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Konon, seorang India menonton film. Ia melihat kisah sejarah pertempuran antara orang Indian dan orang kulit putih. Setelah film itu usai, ia meloncat ke depan, merusak layar. Ia berteriak bahwa film itu sama sekali tidak benar. Dengan susah payah ia menceritakan versinya sendiri. Orang-orang berkata, "Kita tidak tahu pasti siapa yang benar, tapi kami tahu pasti siapa yang menang dan siapa yang bikin film."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hari ini, ketika berbagai isu menghantam telinga kita, ketika kita bingung siapa dan apa yang benar, ketahuilah bahwa ada satu yang bisa kita pastikan. Suara yang akan dipandang benar tentu saja suara pemenang. Cerita yang beredar luas pasti cerita dari orang-orang yang didukung dan tidak dihambat untuk membuat cerita itu. Yang kalah tidak dapat bercerita dan tidak bisa membuat film.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang-orang awam akan mengikuti cerita para pemenang dan mempercayainya. Segelintir orang akan melihat cerita itu dengan kritis dan mengembangkan versi yang menurut mereka paling baik. Kelompok kecil itu disebut oleh Al-Qur'an sebagai Ulul Albab: "Gembirakan hamba-hambaku, yang mendengarkan semua pembicaraan, kemudian mengikuti yang paling baiknya. Mereka itulah yang mendapat petunjuk Allah dan mereka itulah ulul albab," (Al-Qur'an 39: 17-18).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-7129853670371847296?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/7129853670371847296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=7129853670371847296&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7129853670371847296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7129853670371847296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/kisah-pemenang.html' title='Kisah Pemenang'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-8380853192064968992</id><published>2007-12-04T08:23:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:24:40.307+07:00</updated><title type='text'>Islam Amerika versus Islam Arab?</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sore itu, di sebuah restoran hotel berbintang, saya berkumpul dengan sekelompok muslimah. Sambil makan siang, kita merencanakan sebuah seminar internasional di Jakarta. "Subhannalah sekali, yah, kita bisa berkumpul sekarang ini," kata perempuan paling muda di situ, "Insya Allah, kita akan mengundang syaikh kita. Masya Allah, beliau bersedia datang ke Indonesia." Kemudian, perempuan muda itu nyerocos memimpin rapat dengan memasukkan setiap ungkapan bahasa Arab dalam setiap kalimatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya segera menyela dengan menanyakan apakah ia pengikut Ustadz Fulan. Saya mengenal ustadnya itu sebagai orang yang sangat saleh. Kesalehan itu ditampakkan dengan banyak memasukkan zikir dalam pembicaraan. Jika Anda datang ke pesantrennya, Anda akan menemukan pengumuman semacam, "Toko 100 meter lagi, insya Allah," "Alhamdulillah, ini ruang makan," atau "Allahu Akbar, ini mushalla." (Kalimatnya tentu saja tidak persis seperti itu. Saya mengubahnya hanya supaya pesantren itu mudah-mudahan tidak teridentifikasi). Ustadnya sendiri memakai pakaian Arab - jubah dan serban. Jika Anda agak dekat dengan beliau, Anda akan mencium minyak kesturi, asli dibeli dari Madinah. Satu botol kecil minyak itu pernah diberikannya kepadaku. Bila saya memakai parfumnya itu, keluarga saya segera mendengus sambil berkata, "Bau Arab!" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Kesalehan" perempuan itu dan ustadznya mengingatkan saya kepada serangan kawan saya yang kejawen: "Aku tidak mau mengikuti kamu, karena agama kamu itu agama Arab. Mungkin lebih baik bagiku ikut Kristen saja." Saya menjelaskan kepadanya bahwa Islam itu agama universal, melintas ruang dan waktu. "Omong kosong," kata dia, "buktinya kamu harus sembahyang dengan bahasa Arab. Dalam Kristen kita membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia, dan sembahyang dengan menggunakan bahasa Indonesia."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untunglah waktu itu dan sampai sekarang, walaupun saya sudah diberi gelar kyai, saya tidak pernah memakai jubah atau serban yang dirancang gaya Arab. Saya tegaskan bahwa bahasa Arab itu hanya dipergunakan untuk membaca Al-Quran dan doa-doa standar dalam salat. Untuk menyampaikan doa sendiri, baik di dalam maupun di luar salat, kita boleh menggunakan bahasa Indonesia. Sambil sedikit menyerang balik, saya juga menyebut kebiasaan orang Katolik untuk menyampaikan doa-doa baku mereka dengan bahasa Latin atau para mahasiswa yang menyanyikan lagu Godiamus Igitur atau kalangan kedokteran yang terus menerus menggunakan bahasa Latin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekiranya saya berdebat lagi dengan teman Kejawen itu sekarang, saya mungkin tidak berkutik. Ia akan menyebut perempuan muda itu (maaf, saya berulangkali menyebutnya karena kekaguman saya) dan berbagai contoh Islamisasi yang berbentuk Arabisasi: Protes kepada Gus Dur karena mau mengganti assalamu 'alaikum dengan selamat pagi. Bank Islam yang mengganti istilah-istilah perbankan dari bahasa Inggris ke bahasa Arab. Hotel yang disebut Islami karena memasang kaligrafi Arab di setiap ruangan. Organisasi yang disebut Islami karena menyebut Anggaran dasar dengan Qanun Asasi. Sebuah buku Islam yang dikritik karena tidak ada tulisan Arab di dalamnya. Pesta pernikahan yang memisahkan tamu pria dari tamu perempuan. Lasykar Jihad yang gentayangan dengan jubah putih dan serban. Keharusan berwajah brewok dan berjanggut. Perempuan yang menutup seluruh mukanya (Empat contoh terakhir ini tidak berkaitan dengan penggunaan Bahasa Arab, tetapi merujuk pada kebudayaan Arab).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Betulkah kita harus menjadi orang Arab untuk menjadi Muslim yang baik? Betulkah nama apa pun sebaiknya harus diganti dengan nama Arab, bila kita masuk Islam atau naik haji? Inilah pertanyaan yang mengusik Dr. Jeffrey Lang (seorang mualaf yang menulis buku Even Angels Ask tentang pengalamannya sebagai muslim di Amerika, --red.) ketika ia masuk Islam. Ia memutuskan untuk tidak mengganti namanya, seperti &lt;a href="http://media.isnet.org/islam/AS/Perkasa.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;Cassius Clay&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang menjadi Muhammad Ali. Ia juga tidak melepaskan dasi dan jasnya untuk diganti dengan jubah dan serban seperti &lt;a href="http://media.isnet.org/off/Islam/New/yusuf.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;Cat Stevens&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, yang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Ia juga pernah berusaha menggunakan thank God sebagai pengganti alhamdulillah dalam percakapan ringan di sebuah Islamic Center. Saya akan mengutip satu bagian dari buku Dr. Lang untuk Anda -masih dalam bahasa Inggris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;At the Islamic Center one evening, I was greeted by an American Muslim who asked me how things were going.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Very well, thank God. And how are you?" I responded. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Alhamdulillah!" (All praise belongs to God) he answered. "And how are you?" he asked again.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Fine, thank God!" I repeated.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;He looked dissatisfied and a few seconds later repeated his question, and I repeated my answer. Another few conversation, and then the same question and answer. I realized he would not give up until he received a satisafactory reply. I held on a little longer but finally gave him the answer he wanted: "Alhamdulillah, "I sighed. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;With an approving look on his face he nodded, "Alhamdulillah."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak orang Islam memang merasa belum puas kalau belum menggunakan kata-kata seru --interjections-- dalam bahasa Arab. Dengan jenaka, Dr. Lang menceritakan kawannya, yang tertarik dengan Islam. Supaya diterima penuh dalam masyarakat Islam, kawannya itu sudah menemukan kuncinya: "Pakai tutup kepala timur tengah, pelihara janggut panjang, katakan al hamdu lillah, ma sya Allah, as salamu alaikum, jazakallahu khayran dalam situasi yang tepat." Kawannya yang lain, yang sudah masuk Islam, berkomentar bahwa orang Islam itu tampaknya menduga Tuhan hanya mengerti Bahasa Arab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kesan bahwa Islam itu agama orang Arab adalah salah satu di antar stereotip yang popular di Barat. Kita menyebutnya setereotip, karena kesan itu terus bertahan walaupun "survei membuktikan" bahwa lebih dari 85 persen umat Islam itu bukan Arab. Karena itu, tidak mengherankan jika para mualaf umumnya, termasuk Dr. Lang dan kawan-kawannya menangkap kesan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Delapan tahun setelah masuk Islam, Dr. Lang membawa semua keluarganya pergi hijrah ke Arab Saudi. Ia ingin menikmati Islam dalam lindungan negara Islam, the land of the Prophet! Delapan tahun ia hidup bersama komunitas Islam dalam lingkungan budaya Amerika. Ia tertarik kepada Islam bukan karena perilaku orang Islam di Amerika. "My only Muslim contacts for many years were drug users, adulterers, and gamblers," tulis Dr. Lang. Selama delapan tahun ia telah menyaksikan bagaimana Muslim yang salih saling mendengki, saling memaki, dan saling memfitnah. Dengan sedih ia harus menyaksikan kawannya, seorang Muslim bule juga, yang akhirnya pindah ke agama Budha, karena dalam agama Budha ia menemukan pemeluk agama yang mempraktekkan apa yang diajarkan agamanya. Dengen kecewa ia harus melihat di depan matanya bagaimana orang-orang Islam yang saleh itu menjual --Dr. Lang menggunakan kata "melacurkan"-- agamanya untuk tujuan-tujuan duniawi (Hal yang tidak aneh di negeri kita dan juga di negeri-negeri Islam yang lain).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ia melakukan hijrah ke Saudi bukan untuk menemukan masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Ia tahu keadaan masyarakat Islam seperti yang dipelajarinya dalam pengalaman hidupnya sebagai Muslim. Ia pergi ke negeri Rasulullah untuk menemukan kedamaian dan ketentraman dalam menjalankan ajaran Islam. Ia ingin menjalankan salat berjamaah, salat Jumah, puasa Ramadan dan liburan-liburan Islam bersama saudara-saudaranya kaum muslimin. Tetapi, setahun kemudian, ia terbang kembali, pulang ke kampung halamannya, ke Universitas Kansas. Ia menyadari bahwa "there was no escape for being American." Karena alasan yang tidak bisa dipahaminya, Arab Saudi telah mencekiknya secara ruhaniah: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di negeri yang menyaksikan kebangkitan Nabi Muhammad, yang mengandung dua kota Islam yang paling suci dan Ka'bah yang menjadi arah salat saya, negeri yang didominasi oleh kaum muslimin, dan tanah air bagi kebudayaan yang dipenuhi agama, saya merasa beku secara spiritual, tanpa harapan sama sekali. Di Arab Saudi, Islam berhenti sebagai kekuatan untuk perkembangan kepribadian, dan iman saya segera kehilangan daya hidupnya. Bukan karena negeri itu kekurangan orang-orang saleh dan beragama --sebaliknya, saya banyak berjumpa dengan kaum Muslimin yang ihklas dan taat di sana-- tetapi dalam pandanganku, gerakan Islam di kerajaan Saudi diarahkan menuju masa lalu yang diidealisasikan. Saya tidak bisa menjadi bagian daripadanya; sesuatu pemahaman agama yang didasarkan pada penafsiran Islam, yang secara cepat kehilangan kepercayaanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dr. Lang ingin meninggalkan watak keamerikaannya dan menjadi Muslim. Ia gagal. Tetapi ia berhasil menemukan pencerahan baru. No escape for being American. Ia tidak perlu lari dari keamerikaannya. Menjadi Islam tidak berarti harus menanggalkan semua latar belakang budaya kita. Islam tidak pernah datang pada suatu vakum kultural. Karena itu, kita menemukan Islam Arab, Islam Iran, Islam India, Islam Cina, Islam Indonesia. Mengapa tidak boleh ada Islam Amerika?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebelum Dr. Lang sampai ke situ, di benua Eropa seorang mantan Komunis yang menjadi Muslim, Dr. Roger Garaudy menegaskan bahwa ada hambatan besar bagi kaum muslimin untuk mengembangkan ijtihad: keterikatan kepada masa lalu dan taklid kepada Barat. Yang pertama melihat masa lalu sebagai rujukan ideal. Pemikiran Islam terdahulu, hasil ijtihad orang-orang Islam ratusan tahun yang lalu dianggap begitu sakral sehingga sebagian kaum Muslim dengan bangga menyebut dirinya &lt;a href="http://media.isnet.org/islam/Etc/index.html#Salafi"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;Salafi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (Secara harafiah berarti merujuk kepada yang terdahulu, masa lalu, masa yang sudah lewat. Menurut Kamus, salafa berarti to be over, be past, be bygone, precede, antecede). Karena ratusan tahun pertama sejarah Islam bergabung dengan sejarah Arab, maka Islam masa lalu berjalin berkelindan dengan kearaban. Dari sinilah muncul anggapan bahwa menjadi Muslim adalah menjadi orang Arab. Mereka tidak bisa memisahkan antara kebudayaan Arab dengan ajaran Islam. Islam yang melintas ruang dan waktu sekarang dibatasi pada Ruang Arab dan Waktu yang lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dr. Lang pernah ditegur oleh orang Maroko karena tidak berpakaian yang sesuai dengan Sunnah. Pakaian yang "menyunnah" itu mestilah jalabiyah gaya orang Maroko. Ia mengingatkan kawannya bahwa bahkan pakaian yang dikenakan oleh orang Saudi sekarang tidak sama dengan pakaian Hijaz abad keenam, pada zaman Rasulullah. Saya teringat kepada jenis-jenis busana Muslim sekarang ini. Menurut kawan saya dari Jemaat Tabligh, yang di situ Lang pernah menjadi salah seorang anggotanya, pakaian Islam bagi pria itu adalah pakaian orang India (Pakistan); yakni, kemeja yang memanjang sampai ke atas lutut. Bagi kebanyakan orang Indonesia, busana Muslim untuk salat dan acara keislaman adalah baju koko tanpa kerah. Bagi saudara saya dari Lasykar Jihad, pakaian Islami adalah pakaian orang Arab Selatan. Bagi saudara saya yang lain, yang terpengaruh Syiah, busana Muslim adalah apa yang dipakai oleh para mullah di Iran. Maka sah-sah saja kalau Dr. Jeffrey Lang mengusulkan agar busana Muslim bagi orang Barat ialah pakaian lengkap, dengan jas dan dasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tapi, jika kita menerima usulan Lang, tidakkah kita jatuh pada hambatan besar kedua: mengekor Barat? Memang, di samping kaum "fundamentalis" yang mengekor kebudayaan Arab, kita menemukan juga kaum "liberal" yang mengekor Barat. Kelompok ini melihat Barat sebagai puncak peradaban. Mereka kemudian membungkus kebudayaan Barat dengan kemasan Islam. Saya pernah mendengar seorang mubalig --yang sekaligus doktor lulusan Amerika-- bercerita di depan saya bahwa di Amerika Islamnya banyak tetapi Muslimnya sedikit; di Arab Saudi, Muslimnya banyak tapi Islamnya sedikit. Dari pemujaan kepada Barat yang berlebihan tidak jarang sebagian di antara mereka meninggalkan sebagian syariat, yang dianggapnya bukan ajaran Islam. Kelompok kedua ini juga jatuh pada jebakan kelompok pertama: tidak dapat memisahkan antara kebudayaan Arab dan ajaran Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Agar tidak jatuh kepada jebakan-jebakan itu, Dr. Lang menganjurkan agar kita tetap mengembangkan sikap kritis. Ia menulis, "The most effective way to counter either danger is not to discourage questioning and criticism, but, on the contrary, the Muslim community should encourage both. We are most prone to error when we refuse to be self-critical." Kita harus selau bertanya dan mempertanyakan. Even Angels Ask, bahkan malaikat pun bertanya! Lihatlah, bagaimana malaikat yang sangat dekat dengan Tuhan "berani" mempertanyakan kebijakan Tuhan untuk menujuk khalifah di muka bumi: Apakah Engkau akan jadikan di sana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah (QS. Al-Baqarah; 30).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertanyaan malaikat inilah yang sangat mengesankan Dr. Jeffrey Lang. Ini juga yang membawanya kepada Islam. Jika ia ditanya mengapa masuk Islam, jawabannya singkat saja: Al-Quran. Bacalah Al-Quran dengan terus bertanya. Pada Bab 2 dari buku Even Angels Ask, Dr. Lang menunjukkan bagaimana setiap pertanyaan yang mengusik dia dijawab oleh rangkaian ayat-ayat Al-Quran satu demi satu. Membaca Al-Quran menjadi dialog ruhani yang menyejukkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada akhir bukunya, Dr. Lang menyarankan agar Islam Amerika harus menciptakan iklim intelektual yang mendukung penelitian kritis. Ia menyaksikan pada masyarakat Muslim di Amerika ada keengganan untuk menerima kritik satu sama lain. Mereka cenderung saling menuduh dengan tuduhan kafir atau bid'ah. Di antara sesama Muslim disebarkan desas-desus dan fitnah, berita dusta, dan pergunjingan. Seorang mualaf baru kawan Lang pernah berkata kepadanya bahwa hiburan favorit orang Islam adalah bergunjing dan menyebarkan fitnah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Membaca buku ini dari awal sampai akhir adalah mengikuti perjalananan spiritual bukan saja seorang Muslim Amerika tetapi juga perjalanan intelektual Muslim di mana pun, ketika ia dihadapkan pada kegelisahan karena benturan Islam konseptual dengan Islam aktual. Dr. Lang menulis buku ini untuk anaknya. Ia sudah menjawab beberapa pertanyaan yang mengganggunya. Ia ingin agar anaknya melanjutkan penelitian kritis ini dengan berpijak pada hasil kajian kritisnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apa saja yang sudah ia pertanyakan dan sudah ia temukan jawabannya? Secara singkat, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Betulkah menjadi Muslim berarti menjadi Arab? Betulkah setiap Muslim harus berjuang mendirikan negara Islam, kalau perlu dengan menghancurkan negara Amerika? Betulkah Islam agama yang misoginis --yang membenci perempuan? Bagaimanakah strategi dakwah Islam di Barat, agar kita menarik non-Muslim ke pangkuan Islam dan sekaligus mempertahankan putra-putra Islam dalam pangkuan Islam? Seluruh buku ini menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sangat menakjubkan. Ia menulis dengan sangat persuasif. Ia meyakinkan kita tidak saja dengan argumentasi yang logis dan tidak terbantahkan, bukan hanya dengan dalil akli dan nakli. Ia juga menyentuh emosi kita dengan kisah-kisah yang terkadang jenaka, terkadang mengharukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seperti Dr. &lt;a href="http://media.isnet.org/islam/Etc/MuradHoffman.html"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;Murad Hofmann&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, muslim Jerman yang menulis Islam als Alternative, saya juga ingin menggaris-bawahi anjuran Lang agar kita tidak bersandar secara membuta pada masa lalu kita, tidak mendogmakan pendapat, kecuali kalau kita ingin jatuh pada atrofi dan kehancuran. Dengan latar belakang budaya kita masing-masing, marilah kita kembangkan Islam yang kontekstual, Islam yang tumbuh subur pada tanah mana pun. Bukan hanya Islam Arab, tetapi juga Islam Amerika, Islam India, dan tentu saja Islam Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-8380853192064968992?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/8380853192064968992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=8380853192064968992&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8380853192064968992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8380853192064968992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/islam-amerika-versus-islam-arab.html' title='Islam Amerika versus Islam Arab?'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-6053139532563787369</id><published>2007-12-04T08:18:00.001+07:00</published><updated>2007-12-04T08:18:54.452+07:00</updated><title type='text'>Bertengkar itu jelek!</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tahun 1970, Ismail menjadi pemuda Muhammadiyah. Selama seminggu, dia dilatih secara intensif di Darus Arqam --wadah pengkaderan Muhammadiyah. Dia mempelajari paham agama dalam Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, dan Khittah Muhammadiyah. Dia pulang dengan membawa himpunan keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah --yang berisi fatwa-fatwa resmi yang harus diamalkan anggota Muhammadiyah. Segera setelah kembali ke kampungnya, dia aktif memperjuangkan paham Muhammadiyah. Dia merasa sangat berbahagia ketika mesjid jami' di kampungnya menurunkan beduk dan menghilangkan azan awal pada hari Jum'at. Sebagai kader Muhammadiyah, dia berhasil mengembalikan umat kepada Al-Qur'an dan Hadis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lima belas tahun kemudian, Ismail masih menjadi pemuda Muhammadiyah. Tetapi kini dia bekerja sama dengan tokoh-tokoh NU dan bahkan bergabung dengan salah satu tarikat yang dahulu di bid'ahkannya. Dia mengelola LSM yang membantu ekonomi lemah. Jamaahnya tak lagi mempersoalkan kemuhammadiyahannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rupanya banyak orang seperti Ismail, berasal dari NU, Persis, Al-Irsyad, dll. Pada saat sebagian anggota Muhammadiyah mulai mengamalkan qunut, sebagian NU meninggalkannya. Dahulu NU menyebut dirinya Ahlu Sunnah wal Jamaah, sedangkan Muhammadiyah dan kawan-kawan sebagai kaum wahabi. Sekarang MD dan kawan-kawan menyatakan diri sebagai Ahlu-Sunnah wal Jamaah; sementara NU menjadi lebih liberal dari Wahabi. Kini, khususnya pada kalangan anak-anak muda, ikhtilaf mazhab tidak lagi menjadi fokus perhatian. Buat mereka, tantangan yang dihadapi umat Islam jauh lebih besar daripada perbedaan dalam cara-cara beribadat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lebih dari itu, sekarang orang menyadari bahwa perbedaan mazhab fiqih itu seringkali dibesar-besarkan untuk kepentingan politik. Kesadaran bahwa konflik mazhab itu lahir dari kepentingan politik adalah sebuah sejarah. Bukankah dua mazhab awal --Sunni dan Syiah-- muncul karena perbedaan visi politik? Terakhir, orang-orang yang aktif menyebarkan isu Sunnah-Syiah di Indonesia sejak perang Irak-Iran, tampak limbung setelah Irak menyerang Kuwait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam suatu pengajian di Paramadina, Jakarta, disimpulkan bahwa mazhab-mazhab fiqih yang berkembang sejalan dengan perkembangan sistem politik. Kesadaran inilah tampaknya mengubah Ismail belakangan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang-orang seperti Ismail ingin mengikuti tradisi sahabat Ibnu Mas'ud. Ibnu Mas'ud kecewa betul ketika mendengar Khalifah Utsman shalat Zhuhur dan Ashar sebanyak masing-masing empat rakaat di Mina. Utsman r.a. dianggap telah meninggalkan sunnah Rasulullah SAW. Tetapi, ketika Ibnu Mas'ud shalat berjamaah di Mina di belakang Utsman r.a., ia shalat seperti shalatnya Utsman r.a. Ketika orang mempertanyakan hal itu, Ibnu Mas'ud berkata,"Bertengkar itu semuanya jelek!" (Hadist Riwayat Abu Dawud).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-6053139532563787369?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/6053139532563787369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=6053139532563787369&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6053139532563787369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6053139532563787369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/bertengkar-itu-jelek.html' title='Bertengkar itu jelek!'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-1440791118925535348</id><published>2007-12-04T08:12:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:13:40.101+07:00</updated><title type='text'>MENGEMBANGKAN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Waktu itu, dini hari, di sebuah rumah sederhana. Rahman dan isterinya terbangun karena mendengar derak pintu terbuka. Dipasangnya telinganya tajam-tajam. Mereka yakin suara itu berasal dari kamar anaknya, yang berusia tujuh tahun. Langkah-langkah kecil, terdengar seperti berjingkat-jingkat, bergerak menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Mereka mendengar suara air mengalir yang disusul dengan suara gerakan membasuh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Langkah-langkah kecil itu kembali ke kamarnya. Walaupun sayup, karena dinihari yang hening, mereka mendengar suara bacaan Al-Quran. Anak itu rupanya sedang melakukan salat malam. Tiba-tiba keduanya merasakan airmata hangat membasahi pipinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kisah ini disampaikan kepada saya oleh Pak Rahman, ketika saya masih menjadi guru mengaji anak-anak di kampung tempat tinggal saya. Karena kejadian itu, kedua orang tua itu mulai melakukan salat dan meninggalkan perjudian populer- lotto. Ini terjadi kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Saya mendengar kejadian lain yang hampir mirip dengan itu dua atau tiga tahun yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kali ini, saya menjadi direktur SMU (Plus) Muthahhari. Seorang ibu, orang tua murid yang baru lulus, datang dari Banten. Ia meminta bantuan saya untuk mengirim Rahmat ke Jerman. Ia sudah meyakinkan anaknya bahwa ia tidak akan mampu untuk membiayainya. Tetapi anaknya berulang-kali meyakinkan orangtuanya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di tengah-tengah pembicaraan, ibu itu bercerita tentang perubahan perilaku anaknya setelah masuk sekolah kami. Waktu pulang kampung, ia banyak menaruh perhatian pada tetangga-tetangganya yang miskin. Menjelang Lebaran, seperti biasanya, ibu itu memberi anaknya uang untuk membeli pakaian baru. Rahmat menerima uang itu seraya minta izin untuk memberikannya pada tukang becak tetangganya. Uang ini jauh lebih berharga bagi dia ketimbang saya, Bu, kata Rahmat. Ibunya bercerita sambil meneteskan airmata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kedua kisah nyata di atas menyajikan contoh anak yang cerdas secara spiritual. Keduanya terjadi jauh sebelum konsep kecerdasan spiritual ramai diperbincangkan. Karena saya tidak ingin bertele-tele mendiskusikan apa yang disebut SQ, dan hanya untuk menyamakan pengertian SQ, saya akan mengutip lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;&lt;br /&gt;(2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;&lt;br /&gt;(3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari;&lt;br /&gt;(4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah;&lt;br /&gt;(5) dan kemampuan untuk berbuat baik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya. Anak Pak Rahman pada kisah pertama memiliki kedua ciri ini, terutama ketika ia menyampaikan doa-doa personalnya dalam salat malamnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sanktifikasi pengalaman sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, Apa yang sedang Anda kerjakan? Yang cemberut menjawab, Saya sedang menumpuk batu. Yang ceria berkata, Saya sedang membangun katedral! Yang kedua telah mengangkat pekerjaan menumpuk bata pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi. Ketika Rahmat diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami? Bukankah Heinrich Heine memberikan inspirasi dengan kalimatnya Den Menschen macht seiner Wille groß und klein? Rahmat memiliki karakteristik yang keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Rahmat juga menampakkan karakteristik yang kelima: memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom, tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad SAW, Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kiat-kiat mengembangkan SQ anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengertian di atas, berikut ini saya sampaikan secara singkat kiat-kiat untuk mengembangkan SQ anak-anak kita:&lt;br /&gt;(1) Jadilah kita gembala spiritual yang baik,&lt;br /&gt;(2) bantulah anak untuk merumuskan missi hidupnya,&lt;br /&gt;(3) baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,&lt;br /&gt;(4) ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual,&lt;br /&gt;(5) diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,&lt;br /&gt;(6) libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,&lt;br /&gt;(7) bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional,&lt;br /&gt;(8) bawa anak untuk menikmati keindahan alam,&lt;br /&gt;(9) bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita, dan&lt;br /&gt;(10) ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadilah Gembala Spiritual&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang SUDAH mengalami kesadaran spiritual juga. Ia sudah mengakses sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spriritual intelligence is the faculty of our non-material dimension-the human soul, kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya sebagai orang yang berjalan dengan membawa cahaya. (Al-Quran 6:122) Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun menunjukkan tetap bahagia di tengah taufan dan badai yang melandanya. Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because of them, masih kata Khavari. Bayangkanlah masa kecil kita dahulu. Betapa banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai orang yang berSQ tinggi. Dan orang-orang itu boleh jadi orang-tua kita, atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rumuskan missi hidup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita. Kepada saya datang seorang anak muda dari Indonesia bagian timur. Ia meminta bantuan saya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi swasta, setelah gagal di UMPTN. Ia tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa merumuskan keinginannya dalam kerangka missi yang luhur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berikut ini adalah cuplikan percakapan kami:&lt;br /&gt;- Saya ingin belajar, Pak&lt;br /&gt;= Untuk apa kamu belajar?&lt;br /&gt;- Saya ingin mendapat pekerjaan.&lt;br /&gt;= Jika belajar itu hanya untuk dapat pekerjaan, saya beri kamu pekerjaan. Tinggallah di rumahku. Cuci mobilku, dan saya bayar.&lt;br /&gt;- Saya ingin belajar, Pak&lt;br /&gt;= Untuk apa kamu belajar?&lt;br /&gt;- Saya ingin mendapat pengetahuan&lt;br /&gt;= Jika tujuan kamu hanya untuk memperoleh pengetahuan, tinggallah bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari untuk membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku ketimbang sekolah.&lt;br /&gt;- Tetapi saya ingin masuk sekolah.&lt;br /&gt;= Untuk apa kamu masuk sekolah?&lt;br /&gt;- Saya bingung, Pak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya sebenarnya ingin mengarahkan dia untuk memahami tujuan luhur dia. Dengan menggunakan teknik what then, señor dalam anekdot Danah Zohar, kita dapat membantu anak untuk menemukan missinya. Jika kamu sudah sekolah, kamu mau apa? Aku mau jadi orang pintar. Jika sudah pintar, mau apa, what then? Dengan kepintaranku, aku akan memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa? Aku akan punya duit banyak.Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung jumlahnya. Sampai di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Baca Kitab Suci&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dari Muhammad Iqbal. Walaupun ia dibesarkan dalam tradisi intelektual barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai salat Subuh, ia membaca Al-Quran. Pada suatu hari, bapaknya berkata, Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan untukmu! Setelah itu, kata Iqbal, aku merasakan Al-Quran seakan-akan berbicara kepadaku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Ceritakan kisah-kisah agung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. Manusia, kata Gerbner, adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya. Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi seperti Al-Attar, Rumi, Sadi mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber. Saya senang berdiskusi dengan anak-anak saya bukan hanya kisah-kisah Islam saja, juga cerita-cerita dalam Alkitab, kisah-kisah dari Cina dan India, mitologi Yunani, dongeng-dongeng dari berbagai tempat di tanah air, sejak kisah-kisah pewayangan di Jawa sampai dongeng-dongeng dari Maluku. Begitu pula, saya membaca cerita-cerita Andersen, fabel-fabelnya Jean de la Fontaine, sampai Crayon Sin Chan. Saya selalu menemukan pelajaran berharga di dalamnya. Saya bagikan pelajaran itu pada anak-anak saya, yang dilahirkan baik oleh isteri saya, maupun oleh isteri-isteri orang lain (misalnya, yang saya ajar di sekolah saya).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi (divine grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas, katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya merekah setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kegiatan agama adalah cara praktis untuk tune in dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekutan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas; fakultas untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Ketika kita berkata masakan ini pahit, kita sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata keputusan ini pahit, kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (Ini yang kita sebut sbg SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyanyikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata pada sentuhan cinta semua orang menjadi pujangga, kita dapat berkata pada sentuhan puisi semua orang menjadi pecinta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bawa anak untuk menikmati keindahan alam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Teknologi moderen dan kehidupan urban membuat kita ter-alienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Nabi Musa pernah berjumpa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau. Tuhan berfirman, Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya. Di sekolah kami ada program yang kami sebut sebagai spiritual camping. Kami bawa anak-anak ke daerah pedesaan, di mana alam relatif belum terjamah oleh teknologi. Malam hari, mereka mengisi waktunya dengan beribadat dan tafakkur. Siang hari mereka melakukan action research, untuk mencari dan meneliti kehidupan orang yang paling miskin di sekitar itu. Seringkali, ketika mereka melaporkan hasil penelitian itu, mereka menangis. Secara serentak, mereka menyisihkan uang mereka untuk memberkan bantuan. Dengan begitu, mereka dilatih untuk melakukan kegiatan sosial juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya teringat cerita nyata dari Canfield dalam Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang catatan kejahatannya lebih panjang dari tangannya. Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan- kawannya. Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih. Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik rajin, penyayang, dan penuh tanggung jawab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-1440791118925535348?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/1440791118925535348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=1440791118925535348&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1440791118925535348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1440791118925535348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/mengembangkan-kecerdasan-spiritual-anak.html' title='MENGEMBANGKAN KECERDASAN SPIRITUAL ANAK'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-2762141737921410040</id><published>2007-12-04T08:08:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:10:39.868+07:00</updated><title type='text'>Khotbah Idhul Fitri 2</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin-hadirat yang berbahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika fajar menyingsing pada dini hari Idhul Fitri, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Jauh dalam lubuk hati, kita mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa. Kita menangis karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenang Ramadhan, yang tiba-tiba meninggalkan kita, pada akhir waktunya, pada ujung jangkanya, pada kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan hujan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Baru saja kita meninggalkan rumah kita dengan iringan takbir. Baru saja kita melanjutkan takbir di mesjid ini. Baru saja kita bersama-sama mengangkat tangan berulang kali mengucapkan Allahu Akbar. Baru saja kita meratakan dahi kita diatas sajadah sambil mengumamkan &lt;i&gt;Subhana Rabbiyal ‘Ala wa bi hamdih&lt;/i&gt;. Sekarang kita duduk bersimpuh di halaman kebesaran Allah SWT. Marilah kita rasakan semilir angin pagi mengusap muka kita. Marilah kita rasakan hangatnya matahari pagi merambat pada setiap pori-pori kulit kita. Marilah kita hirup wewangian surgawi yang memancar dari keberkahan Idul Fitri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin-hadirat yang berbahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit marilah kita kosongkan pikiran kita sejenak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Marilah kita ingat orang-orang yang kita cintai dalam hidup ini. Kenanglah ayah-ibu kita, kakek-nenek, suami-istri, kakak-adik, tetangga,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kekasih, atau siapa pun mereka yang pada hari ini tidak dapat berbagi bahagia bersama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada diantara mereka yang sekarang lagi diperantauan, lagi terbaring sakit atau ada yang sudah dipanggil Allah untuk menghadapnya. Kemanakah ayah atau ibu yang pada lebaran lalu memeluk dan menyambut uluran tangan kita dengan kasih sayangnya? Kemanakah kakek atau nenek, yang pada lebaran lalu masih mencium kita? Kemanakah suami ibu atau istri bapak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang pada lebaran lalu masih bersama-sama dengan keluarga? Kemanakah kakak atau adik kita yang pada lebaran lalu gelak tertawa berbagi bahagia bersama kita? Kemanakah, tetangga, kekasih, sahabat yang lebaran lalu masih sempat menyalami kita dan mengirimkan kartu lebaran, mengucapkan selamat hari raya idhul fitri. Ya Allah hari ini mereka tidak dapat berlebaran bersama kami, tidak bisa kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf atas dosa-dosa kami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada mereka. Tidak bisa kami undang mereka untuk berkumpul dirumah kami. Tetapi kami mohon Ya Allah masukkanlah rasa bahagai kepada mereka. Harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami. Sampaikanlah salam kami yang tulus kepada mereka. Ringankan beban yang menimpa mereka di alam kubur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin-hadirat yang berbahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada doa-doa yang sangat menyentuh dan dianjurkan dibaca pada malam-malam ramadhan. Ramadhan sudah berlalu, tapi berguna bagi kita merenungkan kembali doa itu; “ Tuhanku para pengemis tengah berhenti dipintu-Mu. Orang-orang fakir tengah berlindung dihadapan-Mu. Perahu orang-orang miskin tengah berlabuh pada tepian lautan kemurahan Mu dan keluasan-Mu, berharap dapat singgah dihalaman kasih-Mu dan anugerah-Mu. Tuhanku jika dibulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang yang menjalankan puasa dan shalat malamnya dengan penuh keikhlasan; maka siapa lagi yang akan menyayangi pendosa yang kurang beribadah, yang tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan. “ Tuhanku jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang taat, maka siapa lagi yang akan mengasihi orang yang durhaka. Sekiranya Engkau hanya akan menerima orang-orang yang banyak amalnya saja, maka siapa lagi yang akan menerima orang sedikit amalnya. Ilahi beruntunglah orang-orang yang berpuasa. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam. Selamat sejahteralah orang-orang yang ikhlas. Sedangkan kami hanyalah hamba-hamba-Mu yang berlumuran dosa. Sayangilah kami dengan kasih sayang-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan maaf Mu. Ampuni dosa-dosa kami dengan kasih-Mu, wahai yang paling Pengasih dari segala yang mengasihi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin-hadirat yang berbahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Doa diatas menunjukan bukan hanya kerendahan hati pendoa, tetapi juga pengakuan pendosa. Kita merasakan segala kelemahan diri kita dan menggantungkan segala amal kita kepada kasih sayang Dia. Memang, kita telah berusaha mengisi Ramadhan dengan amal-amal kita. Tetapi, kita tahu banyak sekali kekurangan kita. Kemalasan kita lebih banyak dari ketaatan kita. Kealpaan kita lebih besar dari zikir kita. Lidah-lidah kita lebih banyak bergunjing, memaki atau mengeluarkan kata-kata yang tidak patut ketimbang membaca Al-Quran, menyebut asma Allah, atau menghibur hamba-hamba-Nya. Seluruh anggota badan kita lebih cepat memenuhi perintah hawa nafsu daripada menjemput panggilan Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apa akibat dari semuanya ini? kita terus menerus dirundung musibah. Kegelisahan lama bersambung dengan kegelisahan baru. Kecemasan kita bertambah setiap hari. Kita kejar kebahagian tapi kita sering menemukan penderitaan. Kita tak pernah tenang. Allah Swt berfirman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tidaklah menimpa kalian musibah kecuali karena perbuatan tangan-tangan kalian juga. Tetapi Allah mengampuni banyak sekali&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; ( QS. Al-Syura; 30). Imam Ali bin Abu Thalib a.s bersabda, “ Tidaklah urat terkilir, batu tergelincir, tongkat tertusuk, kecuali karena dosa. Dan apa yang diampuni Allah sungguh banyak. Barang siapa yang Allah dahulukan siksanya atas dosa-dosanya didunia ini, maka sesungguhnya Allah terlalu mulia dan terlalu agung untuk mengulangi siksanya lagi pada hari akhirat ( &lt;i&gt;Ushul Al-Kafi, 2:445&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi apa pun yang menimpa kita berasal dari dosa-dosa yang kita lakukan. Tubuh yang sakit, rezeki yang sempit, musuh yang menyerang, bencana yang menimpa, hati yang terluka, semuanya adalah akibat dosa. Tetapi Allah yang Maha Pengasih tidak selalu menghukum dosa-dosa kita. Dengan sabar Dia membiarkan kita dan menunggu kita untuk kembali pada-Nya. Allah selalu menanti hamba-hamba-Nya yang mau melabuhkan perahunya pada tepian lautan kasih sayang-Nya. Allah berfirman; &lt;i&gt;Sekiranya Allah menyiksa manusia karena apa yang mereka lakukan, tentu tidak akan tinggal dipunggung bumi ini satu makhluk pun ( yang hidup); tetapi Allah menangguhkan mereka sampai ke waktu yang ditentukan. Maka apabila datang waktunya maka sesungguhnya Allah selalu mengawasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hamba-hamba-Nya &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(QS. Al Fatir; 45).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah Swt masih memberikan tempo kepada kita untuk bertaubat. Bersihkan dosa-dosa kita dengan meninggalkan dosa-dosa itu sekarang juga. Datanglah kepada Allah dengan penuh penyesalan. Akui segala kesalahan dan kemaksiatan kita. Segera setelah Dia yang maha kasih menerima taubat kita, semua akibat buruk dosa itu akan dihapuskan. Bukan itu saja Allah juga akan mengganti seluruh keburukan kita dengan kebaikan. Allah akan mengganti ketakutan kita dengan rasa damai, kefakiran kita dengan kecukupan, kebodohan dengan pengetahuan, kesesatan dengan petujuk. Allah Swt berfirman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kecuali orang yang bertaubat dan beramal shalih, maka mereka akan Allah gantikan keburukannya dengan kebaikan. Adalah Allah maha Pengampun dan maha Penyanyang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. ( Al-Furqan; 70)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin hadirat yang berbahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengarkanlah juga bagaimana Allah yang maha Pengasih memanggil hamba-hamba-Nya yang berdoa dengan sapaan yang sangat mesra. &lt;i&gt;Ya ‘Ibadi&lt;/i&gt;. Hai hamba-hambaku, “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Katakanlah; Hai hamba-hambaku yang telah melewati batas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam berbuat dosa. Janganlah kalian berputus asa dari kasih sayang Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dosa seluruhnya. Seungguhnya Dia maha Pengampun dan maha Penyanyang. Kembalilah kalian kepada Tuhanmu, berserah dirilah kepada-Nya, sebelum datang kepada kalian azab kemudian kalian tidak lagi dapat membela diri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(QS Al-Zumar; 53-54) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Siapakah yang dipanggil Allah dalam ayat ini? Allah tidak memanggil; &lt;i&gt;Ya ‘Ibadiyalladzina aqamush shalat-&lt;/i&gt; “wahai hamba-hambaku yang mendirikan shalat “ atau &lt;i&gt;Ya ‘Ibadiyalladzina ‘amilush shalihat-&lt;/i&gt; wahai hamba-hambaku yang melakukan amal shaleh”. Yang dipanggil Allah untuk kembali kepangkuan-Nya adalah &lt;i&gt;Ya ‘Ibadiyalladzina asrafu ‘ala anfusihim-&lt;/i&gt; wahai hamba-hamba-Ku yang sudah melewati batas’. Yang dipanggil Allah adalah kita semua, yang sudah menghabiskan usia kita dalam kemaksiatan. Yang disapa Allah adalah dengan penuh kasih adalah kita semua, yang sudah membebani punggung kita dengan kedurhakaan. Yang dipinta Allah tidak banyak. Janganlah berputus asa. Dosa-dosa kalian besar, tetapi lebih besar lagi ampunan Allah. Kalian tidak layak menggapai kasih sayang Allah, tetapi kasih sayang Allah sangat layak untuk mencapai kalian karena kasih sayang Tuhan meliputi langit dan bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin hadirat yang berbahagia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulullah Saw bersabda; “ Ada tiga dosa yang akan disegerakan siksanya didunia ini juga tidak akan ditangguhkan pada hari akhirat; durhaka kepada orang tua, berbuat zalim kepada manusia, dan tidak berterimakasih kepada kebaikan orang lain. Jika kita merasa kurang berkhidmat kepada orang tua, jika kita selama ini mengabaikan mereka, jika kita tidak segan-segan menyakiti hati mereka, segeralah datang kepada keduanya. Bersimpuhlah dikaki mereka, cium tangan mereka, dan basahi tangan yang pernah menimang kita dengan air matanya, mintakan maaf atas kekurangan pengkhidmatan kita kepada mereka. Jika&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diantara keduanya sudah meninggalkan dunia, kirimkan doa yang tulus kepada mereka. Antarkan doa itu dengan amal shalih dan hadiahkan amal shalih itu kepada mereka. Ziarahilah kuburan mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan Rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada kita. Mohonkan kepada Allah agar Dia mengasihi kedua orangtua kita sebagaimana mereka mengasihi kita diwaktu kecil. Marilah ditempat ini kita bacakan doa untuk mereka; Ya Allah balaslah kebaikan mereka karena telah mendidik kami. Berikanlah ganjaran kepada mereka karena telah memuliakan kami. Jagalah mereka sebagaimana mereka telah memelihara kami pada masa kecil kami. Ya Allah, untuk setiap derita yang menimpa mereka karena kami, untuk setiap hal yang tidak enak mengenai mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena kami, untuk setiap hak mereka yang kami abaikan, jadikanlah itu semua sebagia penghapus terhadap dosa-dosa mereka, ketinggian dalam derajat mereka, kelebihan dalam kebaikan mereka. Wahai yang mengubah keburukan dengan kebaikan secara berlipat ganda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika kita pernah merampas hak orang lain atau mempergunjingkan dan memfitnah mereka atau memeras tenaga mereka untuk keuntungan kita sendiri, atau menyakiti hati mereka dengan penghinaan atau makian, atau mendengki mereka dan berusaha menjatuhkan kehormatan mereka dengan tuduhan keji, atau menyiksa mereka dengan lisan atau tindakan, atau kita mengabaikan mereka ketika mereka meminta pertolongan , atau tidak memaafkan mereka ketika mereka meminta maaf, kita sesungguhnya telah berbuat zalim kepada mereka. Allah Swt berfirman:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat bukan karena apa yang mereka lakukan, sungguh mereka telah memikul fitnah besar dan dosa yang nyata ( Al-Ahzab 58).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Kita telah mengundang azab Allah. Kembalikanlah segala hak mereka yang telah kita rampas. Muliakanlah kehormatan mereka yang telah kita rendahkan. Berbuat baiklah kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintalah maaf dengan tulus. Jika mereka sudah meninggal dunia, ucapkan doa buat mereka. Hadiahkan amal shaleh kepada mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan Rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azabnya kepada kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jika kita pernah menerima kebaikan dari makhluk Allah, yang lewat mereka Allah mengalirkan nikmatnya kepada kita, lalu kita tidak membalas kebaikan itu dengan kebaikan, atau kita tidak sedikitpun menampakkan terimakasih kita kepada mereka, kita telah mengundang azab Allah. Mereka yang berbuat baik kepada kita tidak terhitung jumlahnya. Disitu ada orangtua yang membesarkan kita, guru yang mengajarkan ilmu kepada kita, kawan yang menolong kita, istri atau suami yang berkhidmat kepada kita, pegawai yang melaksanakan perintah kita, atau orang-orang kecil yang secara tidak langsung membesarkan kita. Berbuat baiklah kepada mereka sekarang juga. Ungkapkan terimakasih kita kepada mereka, paling tidak dengan penghormatan yang kita berikan kepada mereka. Berbuat baiklah kita kepada mereka setelah kita berbuat jahat kepada mereka. Mintakan maaf yang tulus. Sebutkan nama-nama mereka dalam doa-doa kita. Jika mereka sudah meninggal dunia, hadiahkan amal shaleh kita kepada mereka. Lalu bertaubatlah kepada Allah. Mohonkan rahmat-Nya agar Dia tidak menurunkan azab-Nya kepada kita, karena kita tidak berterimakasih kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin-hadirat yang berbahagia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mari kita isi sisa hidup kita di dunia ini dengan sedapat mungkin meninggalkan upaya untuk menyakiti hati orang lain. Tinggalkanlah gerakan-gerakan lidah yang mempergunjingkan dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Hindarkanlah segala perbuatan tangan dan kaki kita dari berbuat sesuatu yang dapat menganiaya mereka. Karena kezaliman yang kita lakukan akan menghapus seluruh amal shalih kita. Marilah kita mulai hidup kita ini sekarang dengan berusaha untuk membahagiakan orang lain, membahagiakan orang-orang disekitar kita. Maafkanlah segala kesalahan yang pernah mereka lakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setelah shalat Id nanti, berkunjunglah kita kekuburan, kita ziarahi kuburan orang-orang terdekat kita atau kepada orang-orang yang pernah kita sakiti. Merenunglah disana diatas pusara ayah-ibu, kakek-nenek, atau orang-orang yang kita cintai. Kenanglah bahwa kita juga akan berbaring dibawah tanah seperti mereka dibungkus dengan kain kafan, tergolek seperti seonggok tubuh yang tak berguna dan terlupakan. Tengoklah kekiri dan kekanan. Bukankah lebaran lalu mereka masih bersama kita, ikut pergi ke mesjid ini, ikut menggemakan takbir disamping kita? Tetapi hari ini Allah memanggil mereka terlebih dahulu. Kirimkanlah doa yang tulus kepada mereka. Mohonkan kepada Allah supaya Dia memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada mereka. Kita juga tidak tahu, mungkin saja setelah shalat Id nanti atau besok kita yang akan dipanggil Allah untuk menghadap-Nya. Kita juga akan diantarkan oleh kaum kerabat kita kekuburan. Untuk itu mulai saat ini marilah kita mengingat akan kematian, dengan selalu meninggalkan apa yang dilarang Allah dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, serta dengan selalu membahagiakan hamba-hamba Allah dimuka bumi ini&lt;i&gt;. Amin Ya Rabbil ‘Alamin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-2762141737921410040?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/2762141737921410040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=2762141737921410040&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/2762141737921410040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/2762141737921410040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/khotbah-idhul-fitri-2.html' title='Khotbah Idhul Fitri 2'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-776841091713913104</id><published>2007-12-04T07:59:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T08:04:38.638+07:00</updated><title type='text'>Khotbah Idhul Fitri 1</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hadirin-hadirat yang berbahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pagi ini kita berkumpul untuk menyampaikan syukur kepada Allah swt. Telah kita selesaikan 30 hari penuh ibadah dan kesucian. &lt;span style="letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Ketika kita mendengar azan maghrib kemarin, ketika kita menggumamkan doa "Allahumma laka shumtu ...", ketika kita berbuka bersama keluarga kita, kita tersentak...Ramadhan sudah meninggalkan kita. &lt;/span&gt;Telah kita tinggalkan saat-saat bahagia ketika kita berkumpul bersama keluarga setelah selesai azan magrib, saat-saat yang indah ketika kita memenuhi masjid untuk menuntut ilmu, tadarus dan tarawih, saat-saat yang khidmat ketika kita bangun di waktu dini hari, akan sahur seraya menjelang salat subuh dan zikir, istigfar dan doa. &lt;span style="letter-spacing: 0.2pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Telah pergi bulan yang kedatangannya membawa gembira dan bahagia dan kepergiannya meninggalkan kesepian dan dukacita. Telah pergi bulan yang di dalamnya harapan dihamparkan dan amal disebarkan. Telah pergi bulan yang di dalamnya para pendosa membasahi sajadahnya dengan air mata penyesalan. Telah pergi bulan yang di dalamnya orang kaya berbagi rezeki dengan orang-orang yang kekurangan. Telah pergi bulan yang di dalamnya ada Malam Kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Telah pergi bulan yang memberikan kesempatan untuk beribadat kepada yang Mahakuasa dan berkhidmat kepada sesama manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika fajar menyingsing pada dini hari Idhul Fitri, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Jauh dalam lubuk hati, kita mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa. Kita menangis karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengenang Ramadhan, yang tiba-tiba meninggalkan kita, pada akhir waktunya, pada ujung jangkanya, pada kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan hujan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Hadirin Hadirat yang berbahagia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Baru saja kita meninggalkan rumah kita dengan iringan takbir. Baru saja kita melanjutkan takbir di mesjid ini. Baru saja kita bersama-sama mengangkat tangan berulang kali mengucapkan Allahu Akbar. Baru saja kita meratakan dahi kita diatas sajadah sambil mengumamkan &lt;i&gt;Subhana Rabbiyal ‘Ala wa bi hamdih&lt;/i&gt;. Sekarang kita duduk bersimpuh di halaman kebesaran Allah SWT. Marilah kita rasakan semilir angin pagi mengusap muka kita. Marilah kita rasakan hangatnya matahari pagi merambat pada setiap pori-pori kulit kita. Marilah kita hirup wewangian surgawi yang memancar dari keberkahan Idul Fitri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit marilah kita kosongkan pikiran kita sejenak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Marilah kita ingat orang-orang yang kita cintai dalam hidup ini. Kenanglah ayah-ibu kita, kakek-nenek, suami-istri, kakak-adik, tetangga,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kekasih, atau siapa pun mereka yang pada hari ini tidak dapat berbagi bahagia bersama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ada diantara mereka yang sekarang lagi diperantauan, lagi terbaring sakit atau ada yang sudah dipanggil Allah untuk menghadapnya. Kemanakah ayah atau ibu yang pada lebaran lalu memeluk dan menyambut uluran tangan kita dengan kasih sayangnya? Kemanakah kakek atau nenek, yang pada lebaran lalu masih mencium kita? Kemanakah suami ibu atau istri bapak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang pada lebaran lalu masih bersama-sama dengan keluarga? Kemanakah kakak atau adik kita yang pada lebaran lalu gelak tertawa berbagi bahagia bersama kita? Kemanakah, tetangga, kekasih, sahabat yang lebaran lalu masih sempat menyalami kita dan mengirimkan kartu lebaran, mengucapkan selamat hari raya idhul fitri. Ya Allah hari ini mereka tidak dapat berlebaran bersama kami, tidak bisa kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf atas dosa-dosa kami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada mereka. Tidak bisa kami undang mereka untuk berkumpul dirumah kami. Tetapi kami mohon Ya Allah masukkanlah rasa bahagai kepada mereka. Harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami. Sampaikanlah salam kami yang tulus kepada mereka. Ringankan beban yang menimpa mereka di alam kubur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Hadirin-hadirat yang berbahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hari ini ketika berkumpul di tempat yang mulia ini, memenuhi panggilan ilahi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasamu dan Kau besarkan Allah atas petunjuk-Nya kepadamu supaya kalian bersyukur &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;( Al-Baqarah 185).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Berbagai kewajiban telah kita lakukan: berpuasa, berzakat, membesarkan asma Allah dan sebagainya. Bersyukur adalah kewajiban berikutnya. Allah swt hanya membagi umat manusia pada dua golongan saja apa pun mazhabnya, apa pun agamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Inna hadaynahu sabila, imam syakiran wa imma kafura&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kami tunjuki manusia kepada dua jalan; bersyukur atau kufur’ (Al-Dahr)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Usai berpuasa, pada hari ini pun hanya ada dua golongan saja; orang yang bersyukur dan orang yang kufur. Pada hari kiamat pun Tuhan hanya akan memisahkan manusia dengan pertanyaan apakah ia bersyukur atau tidak. Pada hari kiamat, Tuhan akan bertanya kepada salah seorang hambaNya; &lt;b style=""&gt;A syakarta fulaanan? &lt;/b&gt;Apakah kamu bersyukur kepada si fulan? Hamba itu menjawab: &lt;b style=""&gt;Bal syakartuka ya Rabb. &lt;/b&gt;Tetapi aku bersyukur pada-Mu ya Rabb. Tuhan berfirman: &lt;b style=""&gt;Lam tasykurni idza lam tasykurhu. &lt;/b&gt;Kamu belum bersyukur kepada-Ku sebelum kamu bersyukur kepadanya (Bihar al-Anwar 71:28)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kita belum dihitung bersyukur kepada Tuhan, hanya dengan bersujud bersyukur kepada-Nya. Kita belum bersyukur kepada-Nya walaupun kita sudah puluhan kali melakukan haji dan umrah, walaupun sudah ratusan rakaat salat kita lakukan pada malam qadar, walaupun sudah hamper setiap malam kita rukuk dan sujud di hadapannya, walaupun sudah puluhan kali kita khatam Qur’an. Kita belum dihitung bersyukur kepada-Nya sebelum mampu berterima kasih kepada orang-orang yang melalui mereka Tuhan mengalirkan nikmat-Nya kepada kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bersyukur kepada orang tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Marilah kita lihat nikmat yang paling besar bagi kita hari ini, adalah nikmat kehidupan. Tengok ke kiri dan ke kanan kita. Ada banyak orang yang dipilih Tuhan untuk kembali pada-Nya. Mereka tidak dapat hadir di tempat ini; mereka tidak dapat menggemakan takbir bersama kita; mereka tidak bisa mengulurkan tangan meminta maaf; mereka membisu ketika kita semua gelak tertawa berbagi bahagia. Nikmat kehidupan telah di ambil dari mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Melalui siapakah Allah swt mengalirkan nikmat kehidupan kepada kita? Melalui kedua ayah bunda kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;`&lt;i style=""&gt;Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbakti kepada orangtuanya. (Ingatlah) ibunya mengandungkan dia dengan kepayahan di atas kepayahan dan menyusuinya sampai dua tahun. Hendaklah kamu bersyukur kepadaKu dan kepada orangtuamu."&lt;/i&gt; (Luqman 14).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Tetapi dalam kehidupan ini bukankah kita sering menyakiti orang tua kita. Pernahkah kita membentak orangtua kita atau menyampaikan kata-kata yang menusuk jantung orang-orang yang menyayangi kita? Pernahkah kita membuat air mata mereka berderai tanpa haq setelah ayah kita setelah ayah kita bermandi keringat atau ibu kita berlumuran darah untuk membesarkan kita. Pada Idul Fithri hari ini, kalian belum bersyukur kepada Allah sebelum membahagiakan hati kedua orangtuamu. Maka dari itu penuhi keinginannya selama tidak menyuruh kita maksiat kepada Tuhan. Bersihkan debu-debu kedukaan dari muka mereka dengan siraman airmata kita. Hilangkan kabut kerisauan dari hati mereka dengan cahaya akhlak kita. Minta maaflah kepada mereka, karena selama ini kita terlalu sering mengecewakan mereka dan belum cukup membahagiakannya. Tahukah kita bahwa pada malam Qadar semua doa diijabah Tuhan kecuali doa seorang anak yang menyakiti hati orangtuanya!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Dalam hadis Qudsi, Allah swt berkata kepada orang yang durhaka kepada orangtuanya: I'mal ma syi'ta min al-thaat, fa inni la aghfiru laka. Lakukan ketaatan apa pun yang kamu sukai, tetapi Aku tidak akan (menerima semua amalmu dan tidak akan) mengampunimu &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.6pt;"&gt;(Kanz al-`Ummal, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;hadis 45527).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Beruntunglah saudara-saudara yang masih memiliki orangtua. Datanglah kepada mereka. Mohonkan maaf kepada mereka, selagi mereka masih hidup. Apa yang harus kita lakukan, kalau orangtua kita sudah meninggal dunia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Pada suatu hari Isa putra Maryam a.s. melewati sebuah kuburan. Ketika tirai kegaiban diangkat, ia melihat penghuni kubur itu tengah diazab Allah. Pada tahun berikutnya, ia melewati kuburan yang sama, dan penghuni kubur itu dibebaskan Tuhan dari azabnya. Isa as bertanya: Tuhanku, tahun yang lalu aku melewati kuburan ini dan ia menderita azab kubur. Tahun ini aku melewatinya dan ia dibebaskan dari azab itu? Allah swt berfirman: Ya Ruh Allah, ia punya anak yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://saleh.la/"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.2pt;"&gt;saleh. la&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.2pt;"&gt; memperbaiki jalan (untuk kepentingan umum). la melindungi anak yatim. Karena amal saleh anaknya, aku mengampuni dosa-dosanya (AI-Wasail, 11:561).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Berdoalah kepada orangtua kita yang sudah kembali kepada Allah dan antarkan doa-doa itu dengan amal saleh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;"&lt;i style=""&gt;Kepada Allah naik doa-doa yang baik, dan amal salehlah yang mengangkatnya&lt;/i&gt;" (Fathir 10). Berikan kontribusi kepada masyarakat bukan hanya memperbaiki jalan untuk kenyamanan perjalanan mereka, tetapi juga memberi jalan untuk kebahagiaan mereka. Lindungi anak-anak yatim, beri makan orang yang kelaparan, beri pakaian orang yang telanjang, bayarkan utang orang yang berutang, bantulah orang yang mendapat kesulitan, obati orang yang sakit, bela orang yang terzalimi, hiburlah orang yang berduka cita. &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Dan hadiahkan itu semua kepada orangtua yang tercinta. Dengan begitu Anda sudah memasukkan rasa bahagia kepada mereka. Mudah-mudahan, dari balik ufuk alam barzakh, orangtua kita tersenyum, rido kepada kita dan memaafkan kita. Mudah­-mudahan dengan rido mereka Allah swt meridoi kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Dari lubuk hati kita yang paling dalam, marilah kita ucapkan: &lt;b style=""&gt;Rabbighfirr wa Ii walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Berkhidmat kepada anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 10.8pt 0cm 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Berbahagialah orangtua yang mempunyai anak yang saleh. Jika melalui orangtua Tuhan mengalirkan nikmat kehidupan kepada kita, melalui anak-anak kita Tuhan mengalirkan nikmat kebahagiaan dalam hidup kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Pada suatu hari, Rasulullah saw menemui Utsman bin Mazh'un. Bersamanya ada anak kecil yang terus-menerus diciuminya. Rasulullah saw bertanya: &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.6pt;"&gt;Ibnuka hadza? &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Apakah ini anakmu. Kata Utsman: Benar! Apakah kamu mencintainya? iya, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.6pt;"&gt;ya Rasulallah. Inni Uhibbuh. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Betul, ya Rasullalah. Aku mencintainya. Rasulullah bersabda: Maukah aku tambah kecintaanmu kepadanya. Utsman menjawab: Tentu, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.6pt;"&gt;fidaaka abii wa ummi. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Biarlah ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Lalu Rasulullah bersabda: &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.6pt;"&gt;Sesungguhnya siapa saja yang membahagiakan anak yang kecil dari keturunannya sampai ia betul-betul bahagia, Allah pun akan membahagiakannya pada hari kiamat sampai ia betul-betul bahagia (Kanz al-`Ummal, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;hadits 45959).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Ketika melihat Rasulullah saw mencium Hasan dan Husayn, AI-Aqra' bin Habis berkata: Aku punya anak sepuluh, tidak ada satu pun yang aku cium. Rasulullah saw murka sampai berubah airmukanya: Sekiranya Allah telah mencabut kasih sayang dari hatimu, apa lagi yang bisa aku lakukan padamu. Siapa saja yang tidak menyayangi anaknya dan tidak memuliakan orangtuanya ia tidak termasuk golongan kami. &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.6pt;"&gt;(Bihar al-Anwar 43:282-3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Karena itu, ungkapkanlah syukur kita kepada Allah dengan mencintai anak-anak kita secara tulus: maafkan kesalahan mereka, bahagiakan hati mereka, kuatkan tubuh mereka, cerdaskan otak mereka, indahkan akhlak mereka. Pandanglah mereka dengan tatapan kasih kita. Peluk mereka dengan dekapan saying kita. Sapalah mereka dengan kata-kata cinta kita. Rasulullah saw bersabda: "Muliakanlah anak-anak kamu karena mereka adalah anugrah Allah kepadamu!".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Cintai pasanganmu!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 10.8pt 0cm 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Melalui siapakah anak-anak kita lahir ke dunia ini? Melalui pasangan kita: suami atau istri kita. Karena itu, nyatakan syukur bapak kepada Allah dengan mencintai istri bapak setulus-tulusnya: bahagiakan hatinya dengan kelembutan pembicaraanmu, dengan keutamaan perhatianmu, dengan kemuliaan pemberianmu. Jangan sakiti hatinya dengan kekasaran ucapanmu, dengan pengabaian perhatianmu, dengan kebakhilan pemberianmu. Tertawalah bersama kegembiraannya. Menangislah bersama dukacitanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Ibu, tampakkan syukur Ibu kepada Allah dengan mencintai suami ibu tanpa syarat. Kenanglah kebaikannya pada ibu. Ingatlah bagaimana suami ibu telah membanting tulang untuk membuat ibu bahagia, terkadang dengan mengorbankan kesehatan tubuhnya dan keamanan jiwanya. Ungkapkanlah terimakasih ibu kepada suami ibu dengan mentaati perintahnya, dengan menyenangkan hatinya, dengan memberikan seluruh kesetiaan ibu kepadanya. Tegakah ibu, sementara suami ibu berusaha keras membahagiakan ibu, di belakang dia ibu tidak menjaga kehormatan ibu. Tahanlah mulut ibu dari kata-kata yang menyakitkan dia. Kendalikan hawa nafsu ibu dari perbuatan yang mengkhianati dia. Pada saat yang sama, ulurkan maaf ibu kepadanya; karena suamimu bukanlah manusia yang sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Suami istri yang bersyukur kepada Allah adalah mereka yang memelihara kasih sayang di antara mereka, yang tetap tabah mempertahankan perahu rumahtangganya dalam amukan taufan kehidupan. Suami istri yang bersyukur kepada Allah adalah yang berusaha untuk menjaga diri mereka agar tidak saling menyakiti atau saling merendahkan. Tahukah ibu dan bapak, bahwa menyakiti suami atau istri akan menghapuskan semua pahala amal saleh kita:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Apabila seorang istri menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima salatnya dan semua amal baiknya sampai ia membantunya dan membahagiakannya kembali, walau pun ia berpuasa sepanjang masa...Begitu pula lelaki memikul dosa yang sama bila ia menvakiti dan berbuat zalim kepada istrinya. (Al-Wasail 14:116).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Bersyukur pada sesama manusia &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Akhirnya, banyak sekali manusia-manusia di sekitar kita, yang melalui mereka Allah mengalirkan nikmatnya kepada kita. Mereka adalah guru-guru kita, tetangga kita, saudara kita. Tapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di antara mereka ada orang-orang yang paling berjasa dalam hidup kita tetapi hampir tidak pernah menerima ungkapan terimakasih atau apresiasi kita. Bahkan mereka adalah orang-orang yang tanpa sadar kita zalimi sepanjang waktu. Mereka adalah kaum fuqara dan masakin. Rasulullah saw bersabda: &lt;i style=""&gt;Hal &lt;/i&gt;tunsharuna wa turzaquna illa &lt;i style=""&gt;bi dhu'afaikum! &lt;/i&gt;Bukanlah kalian ditolong dan diberi rezeki berkah orang-orang kecil di antara kalian, oleh dhu'afa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Berterimakasihlah kepada mereka: Jangan merendahkan kehormatan mereka. Jangan menyakiti hati mereka. Jangan merampas hak mereka. Jangan menggunakan nama mereka untuk memperkaya dirimu. Sebab dengan begitu kalian sudah berbuat zalim kepada mereka. Allah swt berkata kepada Dawud as:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 7.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;"Katakan kepada orang yang zalim untuk tidak berzikir menyebut namaKu. Sesungguhnya wajiblah bagiKu mengingat orang yang mengingatKu. Dan sesungguhnya ingatanKu atau sebutanKu kepada mereka adalah Aku melaknatnya"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt; (Kanz al-`Ummal hadis 7615)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Jadi kalau kita berbuat zalim kepada siapa saja, apalagi rakyat kecil, kita tidak perlu masuk masjid, bahkan jangan menyebut nama Allah sekali pun. Setiap kali kita menyebut Allah Akbar, Allah melaknat kita. Begitu pula, kalau kita menyakiti hamba-hamba Allah mana pun -orangtua, anak, suami, istri, tetangga dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;sebagainya- seluruh amal ibadat kita ditolak dan kita dilaknat di dunia dan di akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;"Sesungguhnya (orang yang menyakiti hamba Allah sama dengan) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Bagi mereka laknat Allah di dunia dan di akhirat. Dan Allah mempersiapkan bagi mereka azab yang sangat menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat bukan karena kesalahan mereka, mereka sudah memikul fitnah keji dan dosa yang nyata" (AI-Ahzab 56-57).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.1pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada hari ini marilah kita kenang orang-orang yang telah kita sakiti dengan lidah dan tangan kita. Kenanglah saudara kita, sahabat kita, rekan kerja kita, tetangga kita, dan siapa saja hamba Allah di bumi ini. Mungkin kita pernah memaki mereka di muka dan mengunjingkan mereka di belakang. Mungkin kita pernah menyebarkan fitnah yang menjatuhkan kehormatannya. Mungkin kita juga pernah membuat dusta untuk menimbulkan kebencian orang kepadanya. Datanglah kepadanya siapa pun dia. Jangan korbankan akhirat kita hanya karena godaan dunia. Dengan ketulusan hati mohonkan maafnya. Kembalikan kehormatannya yang telah kita hancurkan. Kembalikan kedamaian yang sudah kita kacaukan. Semoga Allah tidak melaknat kita di dunia dan di akhirat akibat dosa-dosa yang kita lakukan. Mudah-mudahan Idhul Fitri kali ini dapat mengembalikan kita semua pada kesucian. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-776841091713913104?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/776841091713913104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=776841091713913104&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/776841091713913104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/776841091713913104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/khotbah-idhul-fitri-1.html' title='Khotbah Idhul Fitri 1'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-4849775815661439500</id><published>2007-12-04T07:55:00.000+07:00</published><updated>2007-12-04T07:58:03.874+07:00</updated><title type='text'>Bersiaplah untuk Mudik Besar</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Marilah kita mulai pagi yang cerah ini dengan mengungkapkan syukur&lt;br /&gt;kita kepada Allah Swt. Setiap hari anugerah dan nikmatnya turun kepada&lt;br /&gt;kita, walaupun pada hari yang sama maksiat dan kejahatan kita naik&lt;br /&gt;kepada-Nya. Setiap jam perlindungan dan pemeliharaan -Nya mengayomi&lt;br /&gt;kita. Padahal pada jam yang sama kita menentang-Nya dengan dosa-dosa&lt;br /&gt;dan kejelekan kita. &lt;/span&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah membawa kita kepada bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah&lt;br /&gt;dan ampunan, bulan yang di dalamnya ada Laitul Qadar, yang lebih bagus&lt;br /&gt;dari seribu bulan. Sepanjang Ramadhan, Dia menuntun kita untuk&lt;br /&gt;melakukan puasa, salat malam, membaca Al-Quran dan bersedekah di jalan&lt;br /&gt;Allah. Dia memberikan kesempatan kepada untuk menghapus dosa dan&lt;br /&gt;beramal saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hari ini dengan kasih sayangnya jua, Dia mengantarkan kita&lt;br /&gt;kepada Idul Fitri, hari lebaran. Dia gerakkan lidah-lidah kita untuk&lt;br /&gt;membesarkan asma-Nya. Dia karuniakan kepada kita rezeki untuk&lt;br /&gt;membayarkan kewajiban zakat kita. Kepada kita rezeki untuk membayarkan&lt;br /&gt;kewajiban zakat kita. Pagi ini Dia membawa kita ke tanah lapang ini&lt;br /&gt;untuk bersimpuh di hadapan kebesaran-Nya, memuji keagungan-Nya, dan&lt;br /&gt;mensyukuri seluruh nikmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita melihat ke kiri dan ke kanan kita. Marilah kita periksa&lt;br /&gt;orang-orang yang kita cintai: ayah-bunda, saudara, kekasih, tetangga,&lt;br /&gt;sahabat, dan handai taulan. Adakah di antara mereka yang tidak dapat&lt;br /&gt;bergabung bersama kita di tempat ini? Adakah di antara mereka yang&lt;br /&gt;sudah meninggalkan kita kembali kepada Yang Mahasuci? Ke manakah ayah&lt;br /&gt;atau Ibu yang tahun lalu menyambut uluran tangan kita dengan tetesan&lt;br /&gt;air mata kasih sayang? Ke mana kakak atau adik kita yang pada Lebaran&lt;br /&gt;lalu gelak tawa berbagi bahagia bersama kita? Ke manakah tetangga atau&lt;br /&gt;sahabat dekat yang dulu pernah memeluk kita dan mengucapkan selamat&lt;br /&gt;Hari Raya Idul Fitri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, mereka telah kembali kepada-Mu. Mereka telah "mudik" ke&lt;br /&gt;kampung yang abadi. Terimalah mereka di sisi-Mu radhiyatan mardhiyyah.&lt;br /&gt;Engkau senang menyambut mereka dan mereka senang berjumpa dengan-Mu.&lt;br /&gt;Seperti doa Nabi Saw untuk Thalhah: Engkau tersenyum kepada mereka dan&lt;br /&gt;mereka tersenyum kepada-Mu. Curahkan kasih-Mu kepada Ayah Bunda kami,&lt;br /&gt;saudara kami, sahabat kami, Gabungkan mereka dengan kami, saudara&lt;br /&gt;kami, sahabat kami. Gabungkan mereka dengan orang-orang yang engkau&lt;br /&gt;anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bersama para nabi, shidiqqin,&lt;br /&gt;syuhada, shalihin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, pagi ini mereka tidak dapat berlebaran bersama kami. Tidak&lt;br /&gt;bisa kami ulurkan tangan kami untuk meminta maaf. Tidak bisa kami ajak&lt;br /&gt;mereka untuk berbagi bahagia bersama kami. Tidak bisa kami undang&lt;br /&gt;mereka untuk berkumpul bersama di rumah kami. Allahumma adkhil ala'&lt;br /&gt;ahl al-qubur al surur. Tetapi kami mohon, ya Allah, masukkanlah rasa&lt;br /&gt;bahagia kami kepada semua ahli kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harumkanlah kuburan mereka dengan wewangian doa-doa kami, sampaikan&lt;br /&gt;salam kami yang tulus, Assalamu'alaikum ahl- al-diyar min al-muslimin.&lt;br /&gt;Antum lana salaf wa inna insya Allah bikum tahiqun. Salam bagi kalian,&lt;br /&gt;wahai ahli kubur kalian sudah mendahului kami dan insya Allah kami&lt;br /&gt;akan segera menyusul kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna Lillah wa inna ilaihi raji'un. Sesungguhnya, kita semua kepunyaan&lt;br /&gt;Allah dan kepada-Nya kita semua kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan para sahabat, dalam shalat 'Id dan salat Jum'at. Nabi&lt;br /&gt;Saw senang membaca surat Al Al'a dan al-Ghasyiyyah." Pada surat&lt;br /&gt;Al-Ala' dipuji Tuhan orang yang berzakat. Kemudian berdzikir kepada&lt;br /&gt;Allah dan melakukan salat. Qad Aflaha man tazakka wa dzakara isma&lt;br /&gt;rabbihi fashalla. Kata sebagian ahli tafsir, ini berkaitan dengan&lt;br /&gt;salat Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada surat al-Ghashiyyah diceritakan keadaan manusia ketika kembali&lt;br /&gt;kepada Tuhan. Inna ilayna iyyabahum tsumma inna alaynahum hisabahum.&lt;br /&gt;Kepada kamilah mereka kembali: kewajiban kamilah untuk memeriksa&lt;br /&gt;mereka. Dibacakanlah surat al-Ghasiyyah pada Idul Fitri untuk&lt;br /&gt;mengingatkan manusia akan hari lahir ketika mereka mudik kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Berkumpulnya manusia di tanah lapang harus menyadarkan mereka akan&lt;br /&gt;hari ketika mereka diadili Tuhan pada padang Mahsyar nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pada surat al-Ghasiyyah, berulang kali dalam Al-Quran Tuhan&lt;br /&gt;mengingatkan kita bahwa kepada Allah tempat mudik kita. Kepada Allah&lt;br /&gt;tempat mudik kalian. Kepada Allah tempat mudik mereka semua. Kalimat&lt;br /&gt;seperti ini disebut sampai enam belas kali dalam Al-Qur'an. Sudah&lt;br /&gt;seminggu ini saudara-saudara kita pulang mudik ke kampung halaman&lt;br /&gt;mereka yang sementara. Menemui orang-orang yang mereka sayangi. Dengan&lt;br /&gt;membawa beban berat untuk diberikan kepada mereka. Mereka berangkat&lt;br /&gt;dengan sukarela, menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan dengan&lt;br /&gt;sukacita. Setiap saat kita harus mudik ke kampung halaman abadi,&lt;br /&gt;menemui Allah yang kita cintai, tetapi dengan membawa beban dosa di&lt;br /&gt;atas punggung kita, untuk diperiksa dalam timbangan keadilan Tuhan.&lt;br /&gt;Setiap saat ketika maut menjemput kita. Kita harus pergi dengan&lt;br /&gt;terpaksa. Kita akan menempuh perjalanan yang panjang dan mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali Zainal Abidin, cucu Rasulullah Saw, berkata, "Ada tiga saat&lt;br /&gt;yang paling menakutkan yang harus dialami anak Adam (1) saat ketika ia&lt;br /&gt;menyaksikan malaikat maut (2) saat ketika ia bangun dari alam&lt;br /&gt;kuburnya. (3) saat ketika ia berdiri berhadapan dengan Allah Swt.&lt;br /&gt;Tidak jelas apakah ia akan ke surga atau ke neraka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perjalanan mudik kita. Stasiun yang pertama adalah kematian.&lt;br /&gt;Saat malaikat maut menjemput kita. Di situ mayit akan dihadapkan&lt;br /&gt;kepada kekayaannya. Ia berkata, "Demi Allah, dahulu aku mengumpulkan&lt;br /&gt;kamu dengan rakus dan pelit. Sekarang apa yang akan kamu berikan&lt;br /&gt;kepadaku?" Hartanya akan menjawab, "Khudz minni kafanak." Ambillah&lt;br /&gt;dariku kain kafanmu! Kemudian mayit akan dipertemukan dengan seluruh&lt;br /&gt;keluarganya. Ia memandang mereka, "Demi Allah, dahulu aku sangat&lt;br /&gt;mencintai kalian dan memelihara kalian dengan susah payah. Apa yang&lt;br /&gt;akan kamu berikan kepadaku?" Mereka menjawab, "Kami akan mengantarkan&lt;br /&gt;jenazahmu. Kami akan menguburmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia melirik kepada amalnya dan berkata, "Demi Allah.&lt;br /&gt;Dahulu aku membencimu. Aku melihat kamu sebagai beban yang berat. Apa&lt;br /&gt;yang kamu berikan kepadaku? Amalnya berkata, "Aku akan menjadi&lt;br /&gt;sahabatmu dalam kuburmu. Pada hari kamu dihimpunkan dan sampai pada&lt;br /&gt;waktu kita bersama berhadapan dengan Tuhan kamu." Bila orang mati itu&lt;br /&gt;pencinta Allah, akan datang menjemputnya seseorang yang paling harum&lt;br /&gt;baunya, paling indah wajahnya, paling bagus wajahnya, paling bagus&lt;br /&gt;pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membawa kabar gembira tentang surga di ujung perjalanan. Ketika&lt;br /&gt;ditanya siapa dia. Penjemput itu berkata, "Aku amal salehmu." Bila&lt;br /&gt;yang mati itu musuh Tuhan. Akan datang menjemputnya seseorang yang&lt;br /&gt;paling jelek penampilannya dan paling busuk baunya. Ia membawa kabar&lt;br /&gt;yang menakutkan tentang neraka di akhir perjalanan. "Siapakah kamu?"&lt;br /&gt;tanya mayit itu. Penjemput itu berkata, "Aku amal jelekmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dibaringkan di kuburnya, ia akan bergumam kepada lubang&lt;br /&gt;lahatnya. "Hai rumah yang dipenuhi cacing, hai rumah kesucian. Hai&lt;br /&gt;rumah keterasingan. Hai rumah kegelapan." Lubang lahatnya akan&lt;br /&gt;berkata, "Inilah yang memang sudah aku persiapkan untukmu. Lalu apa&lt;br /&gt;yang telah kau persiapkan untuk pertemuan denganku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban pertanyaan lubang kubur itu: Apa yang telah kamu persiapkan&lt;br /&gt;untuk bekal di alam kuburmu? Pertanyaan itu akan kita dengar nanti.&lt;br /&gt;Menghantam dada, dan mengiris hati nurani kita. Itulah yang bakal kita&lt;br /&gt;alami ketika kita mau. Kisah itu adalah kisah nyata, yang sudah&lt;br /&gt;dialami oleh keluarga, sanak saudara, handai taulan, yang sudah&lt;br /&gt;mendahului kita dalam hadis-hadis sahih, yang tidak diragukan&lt;br /&gt;kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt menjelaskan kepada kita dua macam kematian. Pertama,&lt;br /&gt;kematian mukmin yang saleh. "orang-orang yang diwafatkan malaikat&lt;br /&gt;dalam keadaan baik, para malaikat berkata: Sejahteralah bagi kalian,&lt;br /&gt;masuklah ke surga dengan apa-apa yang sudah kalian amalkan." (Q.S.&lt;br /&gt;al-Nahl: 32). Allah Swt akan menyapanya dengan mesra, "Hai jiwa yang&lt;br /&gt;tenteram, kembalilah kepada karunia Tuhan-Mu dengan penuh keridhaan&lt;br /&gt;dan diridai. Dan masuklah dalam kelompok hamba- hamba-KU. Masuklah ke&lt;br /&gt;surgaku." (Q.S. al- Fajr: 27-30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kematian orang yang durhaka. Simaklah pertanyaan Tuhan,&lt;br /&gt;"Bagaimanakah keadaan mereka ketika malaikat maut mematikan mereka,&lt;br /&gt;seraya meremuk redamkan muka mereka dengan punggung mereka? Yang&lt;br /&gt;demikian itu karena mereka mengikuti apa yang dimurkai Allah dan&lt;br /&gt;membenci keridaan-Nya. Lalu Allah hapuskan semua amalnya." (Q.S.&lt;br /&gt;Muhammad: 27-28). "Orang-orang yang dimatikan malaikat dalam keadaan&lt;br /&gt;berbuat dosa (menzalimi diri mereka), maka mereka merebahkan diri&lt;br /&gt;menyerah seraya berkata: kami tidak melakukan perbuatan jahat."&lt;br /&gt;Malaikat menjawab "Kami justru melakukannya. Sesungguhnya Allah Maha&lt;br /&gt;Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan, Maka masuklah ke pintu-pintu&lt;br /&gt;neraka jahanam, kekal di dalamnya. Sungguh sangat buruklah tempat&lt;br /&gt;orang-orang yang menyombongkan diri." (Q.S. Al-Nahl: 28-29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak tahu, pada kematian yang mana kita akan berada: Apakah kita&lt;br /&gt;akan mati dalam pelukan kasih sayang Allah Swt ataukah dalam deraan&lt;br /&gt;malaikat maut dan kemurkaan Tuhan? Kita juga tidak tahu. Apakah kita&lt;br /&gt;akan bangkit dari kubur kita dengan wajah-wajah yang ketakutan atau&lt;br /&gt;wajah-wajah yang berseri-seri. Penuh kegembiraan? Yang kita ketahui&lt;br /&gt;dengan pasti ialah (bahwa) kita pasti masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah bekerja sepanjang tahun, mengumpulkan bekal untuk mudik&lt;br /&gt;yang hanya beberapa hari. Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk&lt;br /&gt;mudik yang jangkanya tidak terhingga? Kita sudah bekerja puluhan&lt;br /&gt;tahun, menghabiskan masa muda kita untuk persiapan masa tua kita yang&lt;br /&gt;berlangsung beberapa tahun saja. Sudahkah kita persiapkan bekal untuk&lt;br /&gt;perjalanan yang sangat panjang setelah kematian kita? Pernahkan Anda&lt;br /&gt;dengar Rasulullah Saw menceritakan orang yang paling malang ketika&lt;br /&gt;berhadapan dengan pengadilan Tuhan: itulah mereka yang berdiri di&lt;br /&gt;hadapan Rabbul 'Alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di tangan-tangan mereka bergelantungan orang-orang yang pernah&lt;br /&gt;disakiti hatinya, orang-orang yang pernah disiksa tubuhnya, akan&lt;br /&gt;menghempaskan orang zalim di hadapan Tuhan. Mereka akan mengambil&lt;br /&gt;seluruh amal salehnya, salat, puasa dan hajinya. Dan membebankan di&lt;br /&gt;atas punggungnya seluruh dosa mereka. Mereka akan menertawakannya&lt;br /&gt;ketika (malaikat) Zabaniyah menyeret ubun- ubunnya dan melemparkannya&lt;br /&gt;ke neraka. Ali bin abi Thalib kw. berkata, 'Bi'sa al-zad li al-ma'ad&lt;br /&gt;al-zhulm 'ala al-ibad." Bekal yang paling buruk untuk hari kiamat&lt;br /&gt;adalah berbuat zalim kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda apa bekal yang paling baik buat hari kiamat nanti? Pada&lt;br /&gt;suatu hari Rasulullah melewati pekuburan. Beliau menyapa penghuni&lt;br /&gt;kubur, "Hai ahli kubur, tahukah kalian apa yang terjadi sepeninggal&lt;br /&gt;kalian? Istri-istri kalian sudah dinikahi orang lain, rumah-rumah&lt;br /&gt;kalian sudah dibagi-bagikan. Apakah kalian mau menceritakan apa yang&lt;br /&gt;kalian alami?" kemudian Rasulullah bersabda, "Sekiranya mereka tidak&lt;br /&gt;bisa menjawab, mereka akan berkata bahwa sebaik-baiknya bekal adalah&lt;br /&gt;takwa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa, menurut Al-Quran, ialah menginfakkan harta dalam keadaan senang&lt;br /&gt;dan susah, mengendalikan amarah, memaafkan orang lain, sering berbuat&lt;br /&gt;baik, cepat meminta maaf bila berbuat salah dan tidak mengulanginya&lt;br /&gt;lagi (Q.S. Ali Imran: 133-135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa, masih menurut Al-Qur'an ialah mengisi sebagian besar malam&lt;br /&gt;untuk bermunajat kepada Tuhan, memohon ampunan dari waktu sahur, dan&lt;br /&gt;memberikan harta kepada orang miskin dan orang yang berkekurangan&lt;br /&gt;(al-Dzariyat: 16-29). Secara singkat, bekal terbaik untuk hari mudik&lt;br /&gt;kita yang abadi ialah beribadat untuk memperoleh ridha Allah dan&lt;br /&gt;beramal saleh untuk membahagiakan hamba-hamba Allah. Wa fi dzalika fal&lt;br /&gt;yatanafas al-mutanafisun. Untuk yang demikian inilah hendaknya orang&lt;br /&gt;berlomba-lomba (Q.S. al-Muthaffifin: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita renungkan firman Tuhan dalam surat al-Ghasiyyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nama Allah Maha Pengasih Mahasayang&lt;br /&gt;Apakah telah datang kepada-Mu peristiwa dahsyat&lt;br /&gt;Yang mengguncang semua?&lt;br /&gt;Wajah-wajah hari itu ketakutan&lt;br /&gt;Beramal kepayahan&lt;br /&gt;Terlempar ke dalam api yang menyala&lt;br /&gt;Diberi minum dari mata air yang menggelak&lt;br /&gt;Tidak ada makanan bagi mereka kecuali neraka&lt;br /&gt;Tidak menggemukkan dan tidak melepaskan rasa lapar&lt;br /&gt;Wajah-wajah hari itu berseri-seri&lt;br /&gt;Puas dengan hasil kerjanya&lt;br /&gt;Ditempatkan di surga yang tinggi&lt;br /&gt;Tidak mereka dengar bicara hampa&lt;br /&gt;Di sana ada mata air yang mengalir&lt;br /&gt;Di sana ada pelaminan yang ditinggalkan&lt;br /&gt;Gelas-gelas yang diletakkan&lt;br /&gt;Bantal-bantal yang digelarkan&lt;br /&gt;Permadani yang dihamparkan&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-4849775815661439500?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/4849775815661439500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=4849775815661439500&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/4849775815661439500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/4849775815661439500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/bersiaplah-untuk-mudik-besar.html' title='Bersiaplah untuk Mudik Besar'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-3042906351136790423</id><published>2007-12-02T11:16:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T11:17:26.125+07:00</updated><title type='text'>Mengapa rasulullah dirindukan dan di cintai?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulullah itu adalah orang yang sangat dicintai oleh para sahabatnya, umumnya para sahabat mencintai Rasulullah Saw, walau ada sebagian sahabat yang diam-diam membenci Rasulullah. Tetapi mayoritas sahabat itu sangat mencintai Rasulullah Saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pernah suatu malam Rasulullah mendengar suara beberapa orang di luar kamarnya, Rasulullah menegur: “Kenapa kalian berkumpul di sini?” lalu mereka menjawab: “Ya Rasulullah, kami tidak bisa tidur khawatir ketika kami tidur nanti, orang-orang kafir datang dan membunuhmu.” Mereka sukarela menjadi satpam Rasulullah Saw, datang sendiri, tidak dibayar. Tetapi Rasulullah Saw mengatakan, “Tidak, Allah melindungi aku, pulanglah kamu ke tempat kamu masing-masing.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada seorang pedagang minyak wangi, di Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia hanya mengucapkan salam lalu memandang Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu saat setelah dia ketemu Rasululllah dia pergi, lalu tak lama kemudian balik lagi dari pasar dan dia datang kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak bisa melihat engkau setelah ini.” Dan Rasulullah mengizinkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian, setelah kejadian itu Rasulullah tidak pernah melihat lagi tukang minyak wangi itu. Disuruhnya sahabatnya pergi melihat, ternyata ia sudah meninggal dunia tidak lama setelah dia pergi dari pasan dan memandang wajah Rasulullah Saw itu. Lalu kata Rasulullah Saw: “Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkan dia di hari akhirat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada lagi seorang sahabat Rasulullah bernama Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada malam hari Abu Ayub dan istrinya tidak bisa tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya, semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau atas cinta yang tulus dari Abu Ayub.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah kaget lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!” Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada lagi seorang sahabat, yang setelah Rasulullah meninggal dunia, membanggakan mulutnya yang tidak ada gigi lagi. Saat perang Uhud itu juga, Rasulullah cedera karena rantai pelindung kepalanya menusuk pipinya. Lalu seorang sahabat menarik rantai itu dengan giginya, tapi sebelum rantai itu keluar, seluruh giginya rontok. Dia bangga bahwa giginya itu berjatuhan karena membela Rasulullah yang dicintainya. Sehingga menjadi satu kebahagiaan tersendiri. Ini, sekali lagi masalah cinta, dan cinta itu selalu tidak wajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada satu contoh lagi kecintaan orang kepada Rasulullah Saw. Menjelang suatu peperangan, Rasulullah sedang membariskan pasukannya karena Rasulullah selalu merapikan barisan pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat, mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian Rasulullah lewat dan memukul perutnya itu agar dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu, lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium perutnya. Rasulullah kaget dan berkata: “Ada apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh, mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia, sempat mencium perutmu yang mulia.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan sahabat itu kemudian gugur di medan perang setelah mencium perut Rasulullah Saw. Rupanya ini hanya strategi dia agar bisa mencium perut Rasulullah Saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kelak, setelah Rasulullah meninggal dunia, kecintaan para sahabat itu diungkapkan dengan kerinduan yang luar biasa kepada Rasulullah Saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat Rasulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rasulullah Saw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mengapa Rasulullah dirindukan atau dicintai? Itu bukan hanya karena Allah SWT membuka hati mereka untuk rindu, tetapi karena akhlak Rasulullah yang menarik kecintaan mereka. Dan akhlak itu adalah Sunnah. Sekiranya kita mencontoh akhlak beliau ini, pasti kitapun akan dicintai oleh banyak manusia. Tentu tidak oleh semua manusia, karena Rasulullah juga tidak dicintai oleh sem ua manusia, tidak dicintai oleh semua sahabat dan tidak dicintai oleh semua makhluk. Tapi sekiranya kita mempraktekkan akhlak Rasulullah itu dalam pergaulannya dengan orang banyak, pasti kitapun akan menjadi manusia, yang dicintai oleh kebanyakan umat manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-3042906351136790423?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/3042906351136790423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=3042906351136790423&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/3042906351136790423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/3042906351136790423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/mengapa-rasulullah-dirindukan-dan-di.html' title='Mengapa rasulullah dirindukan dan di cintai?'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-7075756546032137824</id><published>2007-12-02T11:11:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T11:12:13.196+07:00</updated><title type='text'>Meninggalkan Perbedaan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kali ini kita akan menempuh perjalanan mencari hikmah, dengan menyusuri jejak-jejak orang bijak sepanjang sejarah. Salah seorang bijak itu adalah Mulla Nasruddin. Sufi yang mengajarkan kebenaran melalui kisah dan lelucon. la menyuruh kita menertawakan diri dengan cerita-cerita lucunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mulla Nasruddin seperti Bahlul di Timur tengah, atau Kabayan di tanah Sunda. Dengan keluguannya, ia wariskan kebijakan dan kearifan. Berikut adalah salah satu kisah Nasruddin yang dikutip dari The Exploits of The Incomparable Nasruddin, buku yang disusun oleh seorang sufi abad akhir, Idries Shah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Alkisah, para filusuf, ahli ilmu mantiq, dan ahli hukum berkumpul di istana. Mereka bergabung untuk menginterogasi Nasruddin. Perkara Nasruddin telah dianggap sebagai sebuah kasus yang amat serius. Persoalannya adalah; Nasruddin seringkali datang ke berbagai tempat meneriakkan satu khotbah yang sama. Dalam khotbahnya itu, ia menyebut orang-orang berilmu, seperti para filusuf, sebagai mereka yang bodoh, kebingungan, dan tak bisa mengambil keputusan. Tentu saja, ceramah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nasruddin ini dianggap subversif dan mengganggu ketertiban negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Singkat cerita, mereka yang merasa tersinggung meminta Raja untuk mengadili Nasruddin. Digelarlah sebuah pengadilan dengan Nasruddin sebagai terdakwa tunggal. "Hai Nasruddin," ucap Raja, "kau mendapat giliran untuk bicara terlebih dahulu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Nasruddin lalu meminta agar dibawakan beberapa lembar kertas dan pena. Setelah itu ia berkata, "Tolong bagikan kepada para pakar yang ada di ruangan ini, masing-masing secarik kertas dan sebilah pena."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah setiap orang pakar mendapatkan kertas dan pena, Nasruddin berkata lagi, "Aku mohon kepada setiap ahli untuk menuliskan di atas kertas itu jawaban untuk pertanyaan ini; Apa yang disebut dengan roti?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setiap cerdik cendekia yang ada di tempat itu lalu menuliskan apa yang mereka ketahui tentang roti. Jawaban para pakar itu lalu dikumpulkan dan diserahkan kepada Raja. Raja pun membacanya satu demi satu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Orang bijak pertama menulis, "Roti adalah sebuah makanan." Si bijak kedua menjawab, "Roti adalah tepung bercampur dengan air." Si bijak ketiga menulis, "Roti adalah karunia Tuhan." Si bijak selanjutnya menjawab, "Roti adalah terigu yang telah dimasak." Orang berikutnya menulis, "Roti merupakan makanan bergizi." Dan demikian seterusnya. Setiap orang yang terkenal pandai itu, menulis jawaban yang berbeda-beda, masing-masing bergantung pada pemaknaan mereka akan sebuah roti. Salah seorang dari mereka bahkan menulis, "Tak ada seorang pun yang tahu sebenarnya apa yang dimaksud dengan roti."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah mendengar semua jawaban itu, Nasruddin berkata kepada sang Raja, "Ketika mereka dapat menentukan apa yang disebut sebagai roti, barulah mereka bisa menentukan hal-hal selain roti. Misalnya, menentukan apakah khotbahku benar atau tidak."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;la melanjutkan, "Dapatkah Baginda mempercayakan urusan penilaian atau keputusan kepada orang-orang seperti ini? Bukankah amat aneh bila mereka tidak sepakat akan sesuatu yang mereka makan setiap hari, tetapi mereka sepakat untuk menentukan bahwa aku seorang ahli bid'ah?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Cerita Nasruddin di atas sebetulnya merupakan sebuah sindiran orang-orang sufi kepada mereka yang merasa bijak, mereka yang sibuk mempelajari agama lalu ramai berdebat untuk memutuskan mazhab mana yang benar dan mana yang sesat. Bukankah ketika kita belajar fikih, kita dihadapkan kepada berbagai perbedaan pendapat. Kita akan dianggap orang yang paling pandai apabila kita bisa mengetahui segala pendapat yang berbeda itu, lalu memutuskan bahwa pendapat kitalah yang paling benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mulla Nasruddin memberikan pelajaran kepada para pemikir, pakar agama, ahli fikih, dan para filusuf tentang hal itu dengan cara yang amat halus. Menurutnya, mereka yang berilmu itu sebetulnya hanyalah orang-orang jahil, yang kebingungan dan tak bisa mengambil keputusan. Bagaimana kita dapat mempercayakan penilaian tentang orang lain kepada orang-orang seperti itu, bila dalam urusan sepele seperti roti saja, mereka tak bisa mengambil keputusan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kisah Nasruddin seakan hendak menyampaikan kepada kita semua bahwa di atas keberagamaan yang dipecah-pecah ke dalam berbagai mazhab itu, terdapat satu keberagamaan yang disepakati bersama. Seseorang akan menjadi lebih arif apabila ia meninggalkan hal yang dipertengkarkan dan memasuki satu hal yang disetujui bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tidaklah mungkin bagi kita untuk membuat semua orang berpendapat sama tentang cara bagaimana menjalankan keberagamaan yang benar. Banyak orang mengatakan ikhtilaf dalam agama akan segera berakhir bila kita kembali pada AI-Quran dan sunnah Rasulullah saw. Mereka lupa bahwa ketika para ulama kembali merujuk pada Al-Quran dan sunnah, di situlah dimulai perdebatan dan perbedaan pendapat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Masalah tayamum, misalnya. Ketika para ulama kembali kepada Al-Quran untuk membaca ayat tentang tayamum, mereka akan mengambil kesimpulan yang berbeda berdasarkan penafsiran masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hampir semua ulama sepakat akan hadis Nabi, "Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang telah dewasa." Tapi dari satu hadis ini saja, terdapat tak kurang dari tujuh mazhab yang menafsirkan ketentuan ini. Setiap mereka mengklaim bahwa pendapat merekalah yang paling sahih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Seringkali orang awam dibingungkan oleh perbedaan pendapat antar ulama. Terkadang kebingungan itu berujung pada frustrasi; tak tahu harus menjalankan keberagamaan yang mana. Bila ia ikuti mazhab yang satu, mazhab yang lain akan menganggapnya sesat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kepada mereka yang kebingungan, Nasruddin berkata, “Janganlah kau ikuti berbagai macam pendapat yang ada. Kau takkan mungkin dapat mempersamakan para ulama itu." Para ulama yang berbeda paham tersebut hanya mencapai bagian luar dari ajaran agama. Dimensi eksoteris agama akan selalu menghasilkan perbedaan pendapat. Namun bila kita menukik lebih dalam lagi, ke substansi dari ajaran agama, semua mazhab akan menemukan titik temu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ke sanalah para sufi menuju. Meskipun demikian, jalan sufi bukan berarti meninggalkan syariat yang dirumuskan berlainan oleh para ulama. Jalan sufi hanya mengungkap bahwa di balik perbedaan syariat itu, terdapat persamaan tarikat dan hakikat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Secara sederhana, semua ini mengajarkan kepada kita untuk tidak menilai keberagamaan seseorang dari pendapatnya yang bermacam-macam, tetapi dari amal salih yang ia lakukan. Bukankah dalam AI-Quran, Allah swt berfirman, "Dan masing-masing orang memperoleh derajat yang sesuai dengan amalnya. " (QS. AI-An'am; 132)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Janganlah kita lihat saudara-saudara kita dari mazhab yang mereka anut, tapi marilah kita ukur mereka dari akhlak dan amalnya; dari kontribusi mereka bagi kepentingan kaum muslimin dan seluruh manusia. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda, "Yang paling baik di antara kamu, ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya." Dalam hal ini, semua ulama sepakat; orang seperti itulah yang paling utama, apapun mazhabnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;(Jalaluddin Rahmat)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-7075756546032137824?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/7075756546032137824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=7075756546032137824&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7075756546032137824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7075756546032137824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/meninggalkan-perbedaan.html' title='Meninggalkan Perbedaan'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-4393947667580156159</id><published>2007-12-02T11:06:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T11:07:16.278+07:00</updated><title type='text'>Bayangan Kematian</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Waktu itu, malam tahun baru. Usai sholat maghrib, kami mengadakan pengajian singkat menyambut tahun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;" lang="IN"&gt;baru&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;. Saya menyarankan agar masing-masing merenungkan makna tahun baru bagi dirinya. Jama’ah diam. Pengajian tampak seperti upacara mengheningkan cipta. Kami tesentak ketika wak Haji, yang tertua diantara kami, memecahkan kesunyian, “Saya kira tidak layak menyambut tahu baru dengan pesta. Bukankah tahun baru adalah berita duka ? Bukankah setiap tahun baru mengantarkan kita lebih dekat ke kuburan ? Pada tahun-tahun yang lalu, maut telah mengambil kawan-kawan atau keluarga kita. Lalu, siapa yang akan dijemput maut tahun ini ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Wak Haji sudah berusia 89 tahun, walaupun tampak sehat dan kuat. Ia taat beribadah, selalu sholat berjama’ah. Ia datang ke Mesjid sejam sebelum adzan subuh. Walaupun hidup dalam usai senja, ia senang bercanda. Karena itu agak mengherankan bila tahun ini ia kedengaran pesimis. Mungkinkan itu pertanda bahwa boleh jadi tahun ini ia meninggalkan kami ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;“Apakah orang sholeh takut menghadapi kematian ?” tanya seseorang yang mengarahkan pertanyaanya kepada saya. “Saya selalu dihantu rasa takut mati. Mungkin karena saya tidak sholeh. Wak Haji benar. Tahun baru adalah berita duka. Seperti napi yang akan dihukum gantung, saya melihat, setiap dentang jam membawa saya lebih dekat ke tiang gantungan. Adakah kiat untuk mengobati takut mati ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Saya jawab bahwa orang sholehpun takut mati. Salah seorang cucu Rasulullah dikenal sebagai Wali Allah. Ia banyak beribadah, sehingga diberi gelar Zayn al-’Abidin. Tapi dengarkan doanya, “Kepada-MU aku berlindung dari habisnya usia sebelum siap sedia”. Jadi orang sholehpun takut mati. Yang membedakan kita dengan orang sholeh adalah alasan yang menyebabkan takut mati Kita takut mati karena keterikatan dengan dunia. Kalau saya mati, siapa yang akan menjaga kepentingan anak-anak saya, siapa yang akan mengurus perusahaan saya, siapa yang mengamankan kekayaan saya. Orang sholeh takut mati karena ia merasa belum cukup bekal. Ia khawatir akan “habisnya usia sebelum siap sedia”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Dalam doa yang lain, Zayn al-’Abidin berkata, ” Siapa gerangan yang keadaannya lebih jelek dari diriku, jika dipindahkan dalam keadaanku sepeti ini, aku dipindahkan ke kuburanku. Aku belum menyiapkan pembaringanku. Aku belum menghamparkan amal sholeh untuk tikarku. Bagaimana aku tidak menangis, padahal aku tidak tahu akhir perjalananku. Kulihat nafsu menipuku dan hari-hari melengahkanku. Padahal maut telah mengepak-ngepakan sayapnya di atas kepalaku. Bagaimana aku tidak menangis, kalau kukenang saat aku menghembuskan nafas yang terakhir. Aku menangis karena kegelapan kubur, aku menangis karena kesempitan lahadku, aku menangis karena aku akan keluar dari kuburku dalam keadaan telanjang, hina, sambil memikul dosa di atas punggungku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Walhasil, kalau takut mati karena belum cukup bekal, peliharalah rasa takut itu. Tidak perlu kita menghilangkannya. Ingat kepada kematian mendorong manusia berbuat baik. Ia akan menjadikan amal sholeh sebagai bekal untuk kehidupan sesudah kematian. Sadar akan kematian berarti sadar akan ketiaadaan Ego dan “nonbeing”. Bila kita harus mengakhiri semuanya dengan kematian, masih absahkah kebiasaan kita untuk terus-menerus mengorbankan orang lain buat kepentingan kita ? Bukankah hidup kita menjadi lebih bermakna bila kita “memberikan diri” kita buat kebahagiaan orang lain ? Dengan menghancurkan Ego, kita memasukkan orang lain (the otherness) kedalam eksistensi kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Joel Kovel mengamati dengan cermat dunia modern yang disebutnya sebagai “dunia tanpa ruh”. Dalam “History and Spirit: An Inquiry into the Spirit of Liberation”, Kovel menawarkan pembebasan manusia dari Egonya dengan memasukkan spiritulitas ke dalam kehidupan. Salah satu caranya ialah menyadarkan manusia akan kematian. “Termasuk ke dalam spiritualitas adalah kesediaan untuk mati. Hidup yang bermakna adalah kehidupan yang telah menerima orang lain dan mempersiapkan dirinya untuk mati. Ini tidak berarti bahwa dia adalah wujud yang ingin mati. Sebaliknya, jiwa sempurna memandang hidup ini lebih indah dan lebih intens. Sungguh, kesadaran akan adanya kematian, visi tentang bayangan maut, tidak lain daripada menjadikan kehidupan sebagai titik pandang utama”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Tuhan mendampingkan kematian dan kehidupan pada ayat yang sama, tetapi Dia menyebut kematian lebih dahulu daripada kehidupan. Dia menegaskan bahwa kehidupan hanya bermakna dengan latar belakang kematian. Keduanya didampingkan sebagai ujian untuk mendorong manusia beramal sholeh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;“Dia yang menjadikan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” (QS 67:2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Rasulullah saw mendampingkan maut dengan Alqur’an. Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan bagi kalian dua pemberi peringatan. Yang pertama memberikan peringatan dengan pembicaraannya. Yang kedua memberikan peringatan dengan kebisuannya. Yang pertama, Alqur’an dan yang kedua adalah kematian”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ternyata Wak Haji yang tampak sehat dalam usianya yang hampir seabad adalah orang yang mendengarkan peringatan Alquran tentang kematian. Ketika permulaan tahun baru mengingatkan banyak orang akan rencana hidupnya, Wak Haji mengingatkan kita akan rencana kematian kita. Di dekat Baitullah, saya melihat seorang mantan pejabat tinggi berdoa dengan khusyuk. Air mata tergenang di dipelupuknya. Ia menyadari, ia berada pada hari-hari akhir hidupnya. Ia pulang ke tanah air. Di hadapan anak-anaknya, ia berkata, “Hidup kita akan lebih bermakna bila kita bermanfa’at bagi orang lain”. Seperti Wak Haji, Alquran dan kematian telah memberikan kepadanya kehidupan yang lebih manis dan lebih mendalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-4393947667580156159?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/4393947667580156159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=4393947667580156159&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/4393947667580156159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/4393947667580156159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/bayangan-kematian.html' title='Bayangan Kematian'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-6578067414364198838</id><published>2007-12-02T11:05:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T11:06:11.486+07:00</updated><title type='text'>ISLAM PEMBELA ORANG - ORANG LEMAH</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Ini surat Makkiyah, terdiri dari tiga ayat, diturunkan setelah surat Al-‘Adiyat. Hubungan surat ini dengan surat sebelumnya (surat Al-Ma‘un), adalah bila Allah menjelaskan dalam surat terdahulu tentang orang yang mendustakan agama dengan empat macam sifat, yaitu &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;al-bukhl&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (bakhil), tidak mau melakukan salat, riya, dan tidak mau memberikan pertolongan, maka dalam surat Al-Kautsar Allah menyebutkan sifat-sifat yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikaruniakan kepada Rasulullah Saw. berupa kebaikan dan keberkahan. Disebut-kan bahwa beliau diberi &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Kautsar&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, yang berarti kebaikan yang banyak, dorongan untuk melakukan salat dan membiasakan-nya, ikhlas dalam melakukannya dan bersedekah kepada kaum fuqara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Asbâb al-nuzûl&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: black;"&gt; surat ini ialah sebagai berikut: Orang-orang musyrik Mekkah dan orang-orang munafik Madinah mencela dan mengejek Nabi Saw. dengan beberapa hal. &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, orang-orang yang mengikuti beliau adalah orang-orang dhu‘afa, sementara orang-orang yang tidak mengikutinya adalah para pembesar dan pejabat. Andaikan agama yang dibawakan itu benar, tentu pembela-pembelanya itu ada dari kelompok orang pandai yang memiliki kedudukan di antara rekan-rekannya. Pernyataan mereka seperti itu bukanlah hal yang baru. Dulu, kaum Nabi Nuh a.s. juga berkata demikian kepada nabi mereka. Dikisahkan dalam Al-Quran sebagai berikut: "&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: Kami tidak melihat kamu melainkan (sebagai) manusia biasa seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;" (QS. Hud, 11:27).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: black;"&gt;Memang sudah begitu adanya, orang yang paling cepat memenuhi dakwah Rasul adalah para dhu‘afa. Itu disebabkan, di antaranya, karena mereka tidak memiliki harta sehingga tidak perlu takut hartanya akan tersia-siakan di jalan dakwah. Orang-orang dhu‘afa juga tidak memiliki pangkat atau kedudukan yang menyebabkan mereka takut akan kehilangan pangkat atau kedudukannya di hadapan kedudukan yang dikaruniakan oleh &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Shâhib Al-Da‘wah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 12pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: black;"&gt;Kebersamaan para dhu‘afa itu memang tidak disenangi oleh para tuan dan pembesar. Sehingga, ketika kelak mereka masuk ke dalam agama Allah, mereka masuk dalam keadaan benci. Karena itu seringkali terjadi perdebatan antara mereka dan para rasul. Mereka berusaha untuk melenyapkan dan mengganggu pengikut-pengikut Rasul. Namun Allah menolong rasul-rasul-Nya, memperkuat dan memperkokoh mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: black;"&gt;Sikap para pembesar seperti itu terjadi pula pada Rasul Saw. Karenanya, sungguh para pembesar telah menentang beliau karena kedengkian mereka kepada Rasul dan para pengikutnya yang ber-kedudukan rendah. Kemudian, ketika mereka melihat putra-putra Rasulullah meninggal, mereka pun berkata: "Terputuslah keturunan Muhammad, dan dia menjadi &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;abtar.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;" Mereka mengira wafatnya putra-putra Rasul itu sebagai aib, sehingga mereka mencela beliau dengan hal itu, dan berusaha memalingkan manusia dari mengikutinya. Apabila mereka melihat &lt;em&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;syiddah&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; (kesulitan) yang turun kepada orang-orang Mukmin, mereka senang dan menunggu kekuasaan itu bergeser kepada mereka. Mereka berharap kekuasaan itu hilang dari kaum Muslim, sehingga kedudukan mereka yang sempat digoncang-kan oleh agama baru itu kembali lagi kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: black;"&gt;Atas dasar itu, surat Al-Kautsar ini turun untuk menegaskan kepada Rasul Saw. bahwa apa yang diharapkan oleh orang-orang kafir itu merupakan harapan yang tidak ada kebenarannya; untuk menggoncangkan jiwa orang-orang yang tidak mau menyerah dalam pendiriannya, yang tidak lembut tiang-tiangnya, orang-orang yang berkepala batu; untuk menolak tipuan orang-orang musyrik dengan sebenar-benarnya; dan untuk mengajarkan kepada mereka bahwa Rasul akan ditolong, sementara pengikut-pengikut-nya akan memperoleh kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-6578067414364198838?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/6578067414364198838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=6578067414364198838&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6578067414364198838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/6578067414364198838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/islam-pembela-orang-orang-lemah.html' title='ISLAM PEMBELA ORANG - ORANG LEMAH'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-8858957658859913133</id><published>2007-12-02T11:02:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T11:03:44.381+07:00</updated><title type='text'>TANDA-TANDA ORANG YANG SHALATNYA DITERIMA ALLAH SWT</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya akan memulai pembahasan ini dengan hadis-hadis Rasulullah Saw. yang ada hubungannya dengan shalat dan ada pula hubungannya dengan kemasyarakatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;"&gt;"Akan datang suatu zaman dimana orang­-orang berkumpul di masjid untuk shalat berjamaah tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mukrnin."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sabda Rasulullah yang mulia di atas jelas menarik bagi kita. Akan muncul pertanyaan di benak kita, "Mengapa shalat yang mereka lakukan tidak dianggap sebagai tanda seorang mukmin? Dan mengapa orang yang melakukan shalat di masjid itu tidak dihitung sebagai mukmin?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menunjukkan tanda-tanda seorang mukmin. Shalat bukan­lah tanda bahwa seseorang yang melakukannya dapat dise­but sebagai mukmin, tetapi ia merupakan tanda bahwa yang melakukannya adalah seorang Muslim. Oleh karena itu, tanda seorang mukmin ialah shalat ditambah dengan syarat yang lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya ingin menyebutkan karakteristik seorang mukmin yang dimuat dalam &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Shahih Bukhari. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Rasulullah yang mulia bersabda,&lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Pertarna, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;barangsiapa yang beriman &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;"&gt;(mu'min) &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;kepa Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya dia senang menyambungkan tali persaudaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya dia berbicara yang benar; dan kalau tidak mampu berbicara dengan benar, maka lebih baik dia berdiam diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;tidak dianggap sebagai orang beriman apabila seseorang tidur dalam keadaan kenyang, sementara para tetangganya kelaparan di sampingnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan hanya mengambil empat macam hadis diatas, Anda melihat bahwa tanda seorang mukmin itu terlihat dari tanggung jawabnya di tengah-tengah masyarakatnya. Kalau dia menghormati tetangganya, menyambungkan tali persaudaraan, dan berbicara&lt;sup&gt;-&lt;/sup&gt;dengan benar, atau memiliki keprihatinan di antara penderitaan yang dirasakan oleh saudaranya di sekitarnya, maka barulah dia boleh dikatakan sebagai seorang mukmin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi, dengan kata lain, Rasulullah Saw. menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman, orang-orang berkumpul di masjid untuk mendirikan shalat tetapi tidak akur dengan tetangganya, yaitu tidak menyambung tali persaudaraan di antara kaum Muslim. Mereka menyebarkan fitnah dan tuduhan yang tidak layak terhadap kaum Muslim. Mereka melaksanakan shalat tetapi tidak sanggup mengatakan kalimat yang benar. Mereka melakukan shalat tetapi acuh tak acuh dengan penderitaan yang dirasakan oleh sesamanya. Kata Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang melakukan shalat, tetapi sebetulnya tidak dihitung sebagai orang yang melakukan shalat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rasulullah Saw. juga pernah bersabda, &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;"&gt;"Ada dua orang umatku yang melakukan shalat, yang rukuk dan sujudnya sama, akan tetapi nilai shalat kedua orang itu jauhnya antara langit dan bumi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadis qudsi, juga disebutkan mengenai orang-orang yang diterima shalatnya oleh Allah Swt., &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;"&gt;"Sesungguh&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;nya Aku (Allah Swt.) hanya akan menerima shalat dari orang yang dengan shalatnya itu dia merendahkan diri di hadapan-Ku. Dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Dia tidak mengulangi maksiat kepada-Ku. Dia menyayangi orang-orang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup shalat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan menyuruh malaikat untuk menjaganya. Dan kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Perumpamaan dia dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga."&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam hadis qudsi tersebut disebutkan bahwa tanda-­tanda orang yang diterima shalatnya oleh Allah Swt., adalah: &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dia datang untuk melaksanakan shalat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Dalam Al-Quran, keadaan seperti itu disebut dengan &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;khusyu'. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Dan shalat yang &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;khusyu' &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;adalah salah satu tanda orang yang mukmin. Yang disebut dengan shalat yang &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;khusyu' &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;itu bukan yang tidak ingat apa pun. Karena orang yang tidak ingat apa pun itu disebut pingsan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib&lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;apabila hendak melakukan shalat, tubuh­nya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Sehingga ketika ada orang yang bertanya kepadanya, "Mengapa Anda ya Amirul Mukiminin?" Sayyidina Ali menjawab, "Engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi aku akan menghadapi waktu amanah." Kemudian, Sayyidina Ali membacakan sebuah ayat Al-Quran,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Sesungguhnya Kami telah menazoarkan amanat kepada langit, butni, dan &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;gunung-gunung, &lt;i style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;"&gt;maka semuanya enggan untuk nemikul amanat itu dan mereka khazoatir akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh rnanusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33: 72).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian Sayyidina Ali melanjutkan ucapannya, "Sha­lat adalah suatu amanat Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan bukit untuk memikulnya. Tetapi, mereka menolaknya dan hanya manusia yang sanggup memikulnya. Memikul amanat berarti mengabdi kepada­Nya:"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.4pt;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Jadi, tanda orang yang diterima shalatnya ialah tidak &lt;span style="letter-spacing: 0.2pt;"&gt;takabur. Takabur, menurut Imam Al-Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar daripada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi ia bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak buah, atau kecantikannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Kalau Anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka Anda sudah takabur. Dan shalat Anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Takkan masuk surga seseorang yang dalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali sifat takabur ini menghinggapi para aktivis masjid atau aktivis kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengai ilmunya dan menganggap dirinya paling benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;tanda orang yang diterima shalatnya ialah orang yang tidak mengulangi maksiatnya kepada Allah Swt. Nabi yang mulia bersabda, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Barangsiapa yang shalatnya tidak rnencegahnya dari kejelekan dan kemungkaran, maka shalatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah Swt." &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Dalam hadis yang lain, Rasulullah Saw. bersabda, &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Nanti, pada Hari Kiamat, ada orang yang membawa shalatnya di hadapan Allal Swt. Kemudian shalatnya diterima dan dilipat-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian yang kotor dan usang. Lalu shalat itu dibantingkan ke wajahnya."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;Allah tidak menerima shalat itu karena shalatnya tidal dapat mencegah perbuatan maksiatnya setelah ia melakukan maksiat tersebut. Bukankah Al-Quran telah mengata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;kan&lt;i style=""&gt;,...Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar...(QS 29:45).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.2pt;"&gt;orang yang diterima shalatnya ialah orang yan; menyayangi orang-orang miskin. Kalau diterjemahkan dengan kalimat modern, hal ini berarti orang yang mempunyai solidaritas sosial. Dia bukan hanya melakukan rukuk dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;rezekinya untuk membahagiakan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;Kalau dalam shalat Anda, Anda sudah merasakan kebe­saran Allah dan tidak takabur; dan kalau Anda sudah tidak mengulangi perbuatan maksiat sesudah shalat; dan kalau Anda sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap kesejahteraan orang lain, maka Allah akan melindungi Anda dengan jubah kebesaran-Nya. Allah akan memberi­ kepada Anda kemuliaan dengan kemuliaan-Nya, dan membungkus Anda dengan busana kebesaran-Nya. samping itu, Allah akan menyuruh para malaikat untuk menjaga Anda; dan para malaikat itu akan berkata sebagai­mana yang disebutkan dalam Al-Quran,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: 0.3pt;"&gt;Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Didalamnya kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;(QS 41: 31).[]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-8858957658859913133?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/8858957658859913133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=8858957658859913133&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8858957658859913133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8858957658859913133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/tanda-tanda-orang-yang-shalatnya.html' title='TANDA-TANDA ORANG YANG SHALATNYA DITERIMA ALLAH SWT'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-1502014211880685009</id><published>2007-12-02T10:57:00.001+07:00</published><updated>2007-12-02T10:58:14.560+07:00</updated><title type='text'>Penyakit Hati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kita mengenal tiga macam penyakit; penyakit hati, penyakit jiwa, dan penyakit fisik. Membedakan penyakit fisik dengan penyakit jiwa lebih mudah ketimbang membedakan penyakit jiwa dengan penyakit hati. Walaupun demikian, ketiganya memiliki persamaan. Apa pun yang dikenai oleh ketiga penyakit itu, ia tidak akan mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Tubuh kita disebut berpenyakit apabila ada bagian tubuh kita yang tidak menjalankan fungsinya dengan benar. Telinga Anda disebut sakit apabila ia tidak dapat mendengar lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di antara fungsi hati, menurut Al-Ghazali, adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Allah telah menciptakan hati sebagai tempat Dia bersemayam. Tuhan berkata dalam sebuah hadis Qudsi: Langit dan bumi tidak dapat meliputi-Ku. Hanya hati manusia yang dapat meliputi - Ku. Dalam hadis Qudsi lain, Tuhan berkata: "Hai anak Adam, Aku telah menciptakan taman bagimu, dan sebelum kamu bisa masuk ke taman ciptaan-Ku, Aku usir setan dari dalamnya. Dan dalam dirimu ada hati, yang seharusnya menjadi taman yang engkau sediakan bagi-Ku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis ini menunjukkan bahwa fungsi hati adalah untuk mengenal Tuhan, mencintai Tuhan, menemui Tuhan, dan pada tingkat tertentu, melihat Tuhan atau berjumpa dengan-Nya. Hati yang berpenyakit ditandai dengan tertutupnya mata batin kita dari penglihatan-penglihatan ruhaniah. Ada hubungan antara penyakit jiwa dengan penyakit fisik. Sebagai contoh, penyakit jiwa yang paling populer pada masyarakat modern adalah stres. Stres pada penyakit jiwa adalah seperti sakit flu pada penyakit fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa penelitian ilmiah, diketahui bahwa orang-orang yang stres mengalami gangguan pada sistem immune atau sistem kekebalan dalam tubuhnya. Orang yang banyak mengalami stres cenderung gampang sekali terkena penyakit. Ini menunjukkan bahwa penyakit jiwa amat berpengaruh dalam menimbulkan gangguan fisik. Demikian pula sebaliknya, penyakit fisik dapat menimbulkan gangguan jiwa. Orang yang sakit terus menerus, sudah berobat ke mana-mana, tetapi belum sembuh, juga bisa mengalami penyakit jiwa. Orang tersebut boleh jadi cepat tersinggung, mudah marah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu di antara penyakit jiwa adalah perasaan cemas; takut akan sesuatu yang tidak jelas. Ada dua macam ketakutan; Pertama, takut kepada sesuatu yang terlihat, misalnya ketakutan pada harimau. Kedua, takut kepada sesuatu yang abstrak, umpamanya seorang istri yang takut suaminya akan berbuat macam-macam. Sang istri membayangkan sesuatu yang bersumber dari imajinasinya sendiri. Ini berarti istri tersebut mengalami gangguan psikologis. Ada juga orang yang merasa bahwa semua orang di sekitarnya tidak suka kepada dia dan mereka semua bermaksud mencelakakannya. Dia selalu dibayangi ketakutan seperti itu. Para psikolog menyebut ketakutan seperti ini sebagai anxiety.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit hati menimbukan gangguan psikologis dan gangguan psikologis berpengaruh pada kesehatan fisik. Contoh penyakit hati adalah dengki, iri hati, dan dendam kepada orang lain. Dendam adalah rasa marah yang kita simpan jauh di dalam hati kita sehingga menggerogoti hati kita. Akibat dari menyimpan dendam, kita menjadi stres berkepanjangan. Adapun akibat dari iri hati ialah kehilangan perasaan tentram. Orang yang iri hati tidak bisa menikmati kehidupan yang normal karena hatinya tidak pernah bisa tenang sebelum melihat orang lain mengalami kesulitan. Dia melakukan berbagai hal untuk memuaskan rasa iri hatinya. Bila ia gagal, ia akan jatuh kepada frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali berkata, "Tidak ada orang zalim yang menzalimi orang lain sambil sekaligus menzalimi dirinya sendiri, selain orang yang dengki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menyakiti orang lain, orang yang dengki juga akan menyakiti dirinya sendiri. Ada penyakit hati yang langsung berpengaruh kepada gangguan fisik. Bakhil, misalnya. Bakhil adalah penyakit hati yang bersumber dari keinginan yang egois. Keinginan untuk menyenangkan diri secara berlebihan akan melahirkan kebakhilan. Penyakit bakhil berpengaruh langsung pada gangguan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada orang datang kepada Imam Ja'far as. Dia mengadukan sakit yang diderita seluruh anggota keluarganya, yang berjumlah sepuluh orang. Imam Ja'far berkata dengan menyebutkan sabda Nabi saw, "Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kamu dengan banyak bersedekah." Dalam hadis lain disebutkan, "Di antara ciri-ciri orang bakhil adalah banyaknya penyakit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tanda-Tanda Penyakit Hati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kehilangan cinta yang tulus. Orang yang mengidap penyakit hati tidak akan bisa mencintai orang lain dengan benar. Dia tidak mampu mencintai keluarganya dengan ikhlas. Orang seperti itu agak sulit untuk mencintai Nabi, apalagi mencintai Tuhan yang lebih abstrak. Karena ia tidak bisa mencintai dengan tulus, dia juga tidak akan mendapat kecintaan yang tulus dari orang lain. Sekiranya ada yang mencintainya dengan tulus, ia akan curiga akan kecintaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Matsnawi, Rumi mengisahkan suatu negeri yang mengalami kekeringan yang panjang. Orang-orang salih dan para ulama berkumpul untuk melakukan salat istisqa namun hujan tidak turun juga. Karena hujan tidak turun, akhirnya para pendosa pun turut berkumpul di tanah lapang. Sebagai ahli maksiat, mereka tidak tahu bagaimana cara salat istisqa. Mereka hanya memukul genderang sambil mengucapkan puji- pujian dalam bahasa Persia yang terjemahannya berbunyi: Titik-titik hujan sangat indah untuk para pendosa. Begitu juga kasih sayang Tuhan sangat indah untuk orang-orang durhaka. Mereka hanya mengulang-ulang kata-kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, tanpa diduga, hujan turun dengan lebat. Hal ini terjadi karena orang-orang salih berdoa dengan seluruh zikir dan tasbihnya, sementara para pendosa berdoa dengan seluruh penyesalannya, dengan segala perasaan rendah diri di hadapan keagungan Tuhan. Para pentasbih menyentuh kemahabesaran Tuhan sementara para pendosa menyentuh kasih sayang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kehilangan ketentraman dan ketenangan batin. Ketiga, memiliki hati dan mata yang keras. Pengidap penyakit hati mempunyai mata yang sukar terharu dan hati yang sulit tersentuh. Keempat, kehilangan kekhusyukan dalam ibadat. Kelima, malas beribadat atau beramal. Keenam, senang melakukan dosa. Orang yang berpenyakit hati merasakan kebahagiaan dalam melakukan dosa. Tidak ada perasaan bersalah yang mengganggu dirinya sama sekali. Sebuah doa dari Nabi saw berbunyi: "Ya Allah, jadikanlah aku orang yang apabila berbuat baik aku berbahagia dan apabila aku berbuat dosa, aku cepat-cepat beristighfar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara taubat yang tidak diterima Allah ialah taubat orang yang tidak pernah merasa perlu untuk bertaubat karena tak merasa berbuat dosa. Kali pertama seseorang melakukan dosa, ia akan merasa bersalah. Tetapi saat ia mengulanginya untuk kedua kali, rasa bersalah itu akan berkurang. Setelah ia berulang kali melakukan maksiat, ia akan mulai menyenangi kemaksiatan itu. Bahkan ia menjadi ketagihan untuk berbuat maksiat terus menerus. Ini menandakan orang tersebut sudah berada dalam kategori firman Allah: "Dalam hatinya ada penyakit lalu Allah tambahkan penyakitnya." (QS. Al-Baqarah: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitabnya Ihyâ `Ulûmuddîn, Al-Ghazali berbicara tentang tanda- tanda penyakit hati dan kiat-kiat untuk mengetahui penyakit hati tersebut. Ia menyebutkan sebuah doa yang isinya meminta agar kita diselamatkan dari berbagai jenis penyakit hati: "Ya Allah aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak kenyang, mata yang tidak menangis, dan doa yang tidak diangkat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa yang berasal dari hadis Nabi saw ini, menunjukkan tanda-tanda orang yang mempunyai penyakit hati. Merujuk pada doa di atas, kita bisa menyimpulkan ciri-ciri orang yang berpenyakit hati sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, memiliki ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmunya tidak berguna baginya dan tidak menjadikannya lebih dekat kepada Allah swt. Al-Quran menyebutkan orang yang betul- betul takut kepada Allah itu sebagai orang-orang memiliki ilmu: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang yang berilmu. Jika ada orang yang berilmu tapi tidak takut kepada Allah, berarti dia memiliki ilmu yang tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mempunyai hati yang tidak bisa khusyuk. Dalam menjalankan ibadah, ia tidak bisa mengkhusyukkan hatinya sehingga tidak bisa menikmati ibadahnya. Ibadah menjadi sebuah kegiatan rutin yang tidak mempengaruhi perilakunya sama sekali. Tanda lahiriah dari orang yang hatinya tidak khusyuk adalah matanya sulit menangis. Nabi saw menyebutnya sebagai jumûd al-`ain (mata yang beku dan tidak bisa mencair). Di dalam Al-Quran, Allah menyebut manusia-manusia yang salih sebagai mereka yang ...seringkali terhempas dalam sujud dan menangis terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sahabat-sahabat Nabi, terdapat sekelompok orang yang disebut al-bakâun (orang-orang yang selalu menangis) karena setiap kali Nabi berkhutbah, mereka tidak bisa menahan tangisannya. Dalam sebuah riwayat, para sahabat bercerita: Suatu hari, Nabi Saw menyampaikan nasihat kepada kami. Berguncanglah hati kami dan berlinanglah air mata kami. Kami lalu meminta, "Ya Rasulallah, seakan- akan ini khutbahmu yang terakhir, berilah kami tambahan wasiat." Kemudian Nabi saw bersabda, "Barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku, kalian akan menyaksikan pertengkaran di antara kaum muslimin yang banyak ..." Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda: "Hal pertama yang akan dicabut dari umat ini adalah tangisan karena kekhusyukan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, memiliki nafsu yang tidak pernah kenyang. Ia memendam ambisi yang tak pernah habis, keinginan yang terus menerus, serta keserakahan yang takkan terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ciri keempat dari orang yang berpenyakit hati adalah doanya tidak diangkat dan didengar Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kiat Mengobati Penyakit Hati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Cara pertama untuk mengobati penyakit hati, menurut Al-Ghazali, adalah dengan mencari guru yang mengetahui penyakit hati kita. Ketika kita datang kepada guru tersebut, kita harus datang dengan segala kepasrahan. Kita tidak boleh tersinggung jika guru itu memberitahukan penyakit hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar Ibn Al-Khattab berkata, "Aku menghargai sahabat-sahabatku yang menunjukkan aib-aibku sebagai hadiah untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru harus mencintai kita dengan tulus dan begitu pula sebaliknya, kita harus mencintai guru kita dengan tulus. Apa pun yang dikatakan guru, kita tidak menjadi marah. Kita juga harus mencari guru yang lebih sedikit penyakit hatinya daripada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mendapatkan sahabat yang jujur. Sahabat adalah orang yang membenarkan bukan yang `membenar-benarkan' kita. Sahabat yang baik adalah yang membetulkan kita, bukan yang menganggap apapun yang kita lakukan itu betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, jika sulit mendapatkan sahabat yang jujur, kita bisa mencari musuh dan mempertimbangkan ucapan-ucapan musuh tentang diri kita. Musuh dapat menunjukkan aib kita dengan lebih jujur ketimbang sahabat kita sendiri. Keempat, memperhatikan perilaku orang lain yang buruk dan kita rasakan akibat perilaku buruk tersebut pada diri kita. Dengan cara itu, kita tidak akan melakukan hal yang sama. Hal ini sangat mudah karena kita lebih sering memperhatikan perilaku orang lain yang buruk daripada perilaku buruk kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah dari Jalaluddin Rumi akan menutup tulisan ini; Alkisah, di sebuah kota ada seorang pria yang menanam pohon berduri di tengah jalan. Walikota sudah memperingatkannya agar memotong pohon berduri itu. Setiap kali diingatkan, orang itu selalu mengatakan bahwa ia akan memotongnya besok. Namun sampai orang itu tua, pohon itu belum dipotong juga. Seiring dengan waktu, pohon berduri itu bertambah besar. Ia menutupi semua bagian jalan. Duri itu tidak saja melukai orang yang melalui jalan, tapi juga melukai pemiliknya. Orang tersebut sudah sangat tua. Ia menjadi amat lemah sehingga tidak mampu lagi untuk menebas pohon yang ia tanam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir kisah itu Rumi memberikan nasihatnya, "Dalam hidup ini, kalian sudah banyak sekali menanam pohon berduri dalam hati kalian. Duri-duri itu bukan saja menusuk orang lain tapi juga dirimu sendiri. Ambillah kapak Haidar, potonglah seluruh duri itu sekarang sebelum kalian kehilangan tenaga sama sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud Rumi dengan pohon berduri dalam hati adalah penyakit- penyakit hati dalam ruh kita. Bersamaan dengan tambahnya umur, bertambah pula kekuatannya. Tak ada lagi waktu yang lebih tepat untuk menebang pohon berduri di hati kita itu selain saat ini. Esok hari, penyakit itu akan semakin kuat sementara tenaga kita bertambah lemah. Tak ada daya kita untuk menghancurkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-1502014211880685009?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/1502014211880685009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=1502014211880685009&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1502014211880685009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/1502014211880685009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/penyakit-hati.html' title='Penyakit Hati'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-7500235748102172653</id><published>2007-12-02T10:51:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T10:52:54.777+07:00</updated><title type='text'>Di Manakah Tempat Hatim al-Thayy</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku heran dengan seorang muslim yang didatangi sesama muslim yang memerlukan bantuannya, tapi ia tidak mau melakukan kebaikan. Sekiranya ia tidak mengharapkan pahala dan tidak takut siksa, ia masih pantas bersegera melakukan akhlak yang mulia. Itulah yang akan membawanya ke jalan keselamatan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki bertanya: “Apakah engkau mendengarnya dari Rasul Allah?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ali berkata kepadanya:”Benar. Bahkan aku mendengar yang lebih baik dari itu? Pernah para tawanan dari kabilah Thayy dibawa ke hadapan Nabi saw. Seorang perempuan dari tawanan itu berkata: Ya Muhammad, mengapa tidak kamu lepaskan aku. Janganlah engkau dipermalukan orang-orang Arab karena apa yang kau lakukan padaku. Aku putri pemimpin kaumku. Ayahku melindungi kehormatan, menolong orang yang kesusahan, mengenyangkan yang lapar, membagikan makanan, menyebarkan kedamaian, dan tidak pernah menolak orang yang minta bantuan. Aku putri Hatim al-Thayy. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(Begitu mendengar perkataannya) Rasul Allah bersabda: “Inilah sifat-sifat orang mukmin. Sekiranya sekarang ini bapakmu muslim kami pasti sangat menyayanginya. Bebaskan dia, karena bapaknya mencintai kemuliaan akhlak. Allah mencintai kemuliaan akhlak”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bapak perempuan itu memang pemimpin kabilah Thayy. Kedermawananannya sangat legendaris. Orang-orang Arab sering berkata: Dia dermawan seperti Hatim al-Thayy. Ia sudah meninggal dunia sebelum masuk Islam. Rasul Allah sangat memuliakan al-Thayy, karena kemuliaan akhlaknya. Ia pun menegaskan bahwa Allah pun mencintai dia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Para ulama pernah bingung di mana harus ditempatkan Hatim. Karena ia kafir, kata sebagaian ulama, ia harus ditempatkan di neraka. Tapi ia berakhlak mulia. Ia dimuliakan Allah dan Rasul-Nya.Ia dicintai Allah dan Rasul-Nya “Lakukan kebaikan, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik” (Al-Qur’an 2:195). Karena itu, tidak mungkin Tuhan mengazabnya. Mestinya ia ditempatkan di surga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Akhirnya mereka membuat keputusan yang lucu (dan sejak kapan para ulama menjadi agen surga dan neraka!). Hatim al-Thayy ditempatkan di neraka, tapi ia berada dalam sebuah gedung megah yang &lt;i&gt;fireproof. &lt;/i&gt; Di dalam gedung itu, udaranya sejuk. Rezeki yang berlimpah didtangkan kepadanya. Betul-betul seperti gedung di surga, hanya daerahnya di neraka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Keputusan para ulama itu boleh jadi mengatasi kebingungan mereka. Mereka bingung karena mereka menentang pluralisme. Saya tidak bingung. Orang yang berakhlak baik akan memperoleh keselamatan. Seperti kata Imam Ali, sekiranya orang tidak percaya akan adanya pahala dan siksa, akhlak yang baik akan membawanya kepada keselamatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tuhan berfirman, &lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang beriman (Islam), orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’in (selain Yahudi dan Nashrani) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta beramal baik, maka bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka.dan tidaklah ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak menderita” &lt;/i&gt;(Al-Baqarah 2;62; lihat juga Al-Maidah 5:69)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sayyid Rasyid Ridha dalam &lt;i&gt;Tafsir al-Manar&lt;/i&gt; 1:336 menjelaskan: “Ayat ini menjelaskan perlakuan Allah kepada setiap umat yang mempercayai Nabi dan wahyunya masing-masing, yang mengira bahwa kebahagian pada hari akhirat seakan-akan pasti akan tercapai hanya karena ia Muslim, Yahudi, Nashara, atau Shabiah, misalnya. &lt;b&gt;&lt;u&gt;Padahal Allah berfirman bahwa keselamatan bukan karena kelompok keagamaan (jinsiyyah diniyyah). Keselamatan dicapai dengan iman yang benar yang menguasai jiwa dan amal yang memperbaiki manusia.”&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sayyid Husein Fadhlullah, tokoh Hizbullah Libanon, dalam &lt;i&gt;Tafsir Min Wahy al-Qur’an&lt;/i&gt; 2:23 menafsirkan ayat di atas tanpa kebingungan: “Makna ayat ini sangat jelas. Ayat ini menegaskan bahwa &lt;b&gt;&lt;u&gt;keselamatan pada hari akhirat akan dicapai oleh semua kelompok agama ini &lt;/u&gt;&lt;/b&gt;yang berbeda-beda dalam pemikiran dan pandangan agamanya berkenaan dengan akidah dan kehidupan dengan satu syarat: memenuhi kaidah iman kepada Allah, hari akhir, dan amal saleh” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sekiranya orang seperti Hatim al-Thayy, yakni orang “kafir” yang berakhlak baik,  dilaporkan kepada kita, kita pasti akan mengatakan bahwa ia langsung masuk neraka. Kita bahkan akan menaruh kecurigaan besar kepadanya. Kita akan bergumam: Kasihan ya, walaupun berakhlak baik mereka tetap saja masuk neraka, karena tidak masuk Islam. Tapi ketika anak perempuan Hatim al-Thayy yang kafir dihadapkan kepada Nabi, ia membebaskannya karena penghormatannya kepada akhlak bapaknya yang mulia. Nabi saw mungkin menggumamkan Al-Quran: &lt;i&gt;Innallaha yuhibbul muhsinin&lt;/i&gt;!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-7500235748102172653?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/7500235748102172653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=7500235748102172653&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7500235748102172653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7500235748102172653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/di-manakah-tempat-hatim-al-thayy.html' title='Di Manakah Tempat Hatim al-Thayy'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-3304372394855886784</id><published>2007-12-02T10:49:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T10:50:35.051+07:00</updated><title type='text'>Berdoalah Dengan Rendah Hati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sa’ad bin Waqqas adalah sahabat Nabi saw. Ia berusia panjang sepeninggal Nabi. Pada hari-hari terakhir hidupnya, ia buta dan tinggal di Makkah. Ia sering didatangi orang yang meminta berkah. Tidak semua orang ia berkati. Tapi orang yang diberkati selalu berhasil memperoleh hajatnya atau menyelesaikan urusannya.   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Sa’ad meriwayatkan kepada kita: “Aku mengunjungi dia. Ia selalu baik padaku dan selalu mendoakan aku. Karena aku anak yang selalu ingin tahu, aku bertanya kepadanya: Doa Tuan untuk orang lain tampaknya selalu diijabah. Mengapa Tuan tidak berdoa agar disembuhkan dari kebutaan Tuan? Orang tua itu menjawab: Pasrah kepada kehendak Allah jauh lebih baik dari kenikmatan karena bisa melihat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kisah dari khazanah Islam di atas dikutip oleh dokter Larry Dossey, sebelum ia mengutip perkembangan penelitian tentang efek doa bagi kesembuhan. Ia menyebut doa sebagai “&lt;i&gt;the healing words&lt;/i&gt;”, kata-kata yang menyembuhkan. Berbagai penelitian kedokteran tentang efek doa dilaporkan Dossey dalam bukunya &lt;b&gt;Healing Words: The Power of Prayer and the Practice of Medicine.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tapi tidak setiap doa mujarab. Psikolog LeShan memperkirakan hanya sekitar 20 persen saja sembuh karena doa. George Bernard Shaw, pujangga Inggris, melihat tumpukan kursi roda dan penyangga kaki di Lourdes. Seperti Anda ketahui, Notre Dame de Lourdes adalah kota kecil di Haute Pyrennees, Perancis yang dikunjungi ribuan orang setiap tahun. Mereka datang ke kota itu untuk memperoleh kesembuhan dari penyakitnya. Menurut Shaw, Lourdes bukan kota yang menunjukkan kuasa Allah, tapi kota yang menghujat Allah. Mengapa di situ tidak ada tumpukan satu kaki kayu, kaca mata, dan wig? Artinya, Tuhan tidak dapat menyembuhkan orang yang pincang, penderita myopia atau hiperopia –rabun jauh atau rabun dekat- dan orang-orang botak. Artinya, ada penyakit yang tidak mampu disembuhkan Tuhan. Kota itu menghujat Tuhan, kata Shaw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Baik Shaw maupun LeShan keliru. Doa bukan panacea yang menyembuhkan segala penyakit. Bandingkan dengan penicillin. Penicillin sangat mujarab untuk sakit tenggorokan, tapi tidak ada gunanya untuk mengobati tuberkulosis. Sekiranya penicillin digunakan untuk semua infeksi, paling tinggi ia hanya efektif sekitar 20 persen saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mungkin Anda berkata, jangan bandingkan penicillin dengan karya Tuhan. Bukankah doa berhubungan dengan Yang Mahakuasa? Mestinya Tuhan dapat menyembuhkan semua penyakit? Doa bukan hanya melibatkan kekuasaan Tuhan yang menerima doa. Doa juga menyangkut sifat-sifat makhluk yang berdoa. Bisa jadi doa tidak dijawab bukan karena Tuhan tidak berkuasa, tapi karena pendoa tidak benar dalam berdoa. Hasil doa adalah akibat dari interaksi Khaliq dengan makhluk. Doa gagal bukan karena doanya, tapi karena pendoanya, &lt;i&gt;not of prayer but of the pray-er&lt;/i&gt; . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bisa jadi juga doa tidak dikabulkan karena ada kebijakan ilahi di dalamnya. Tentara Amerika berdoa ketika menyerbu Iraq, dan tentara Iraq berdoa ketika menahan serangan Amerika. Jika Tuhan mengabulkan keduanya, apa yang akan terjadi? Ada lima orang calon Presiden. Semuanya berdoa ingin menang dalam pemilu. Pernah milyaran orang berdoa ingin dipanjangkan umurnya pada ranjang kematiaannya. Bayangkan kalau semua doa itu diijabah? Dunia ini pasti kacau balau. Bumi akan penuh sesak, karena tidak satu pun orang mati. Kalau doa semua yang sakit dikabulkan, seluruh rumah sakit tutup dan ilmu kedokteran bangkrut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; vertical-align: top;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;C.S Lewis, novelis dari Irlandia, menulis, “Jika Tuhan mengabulkan semua doaku yang tolol sepanjang hidupku, aku tidak tahu di mana aku sekarang?” Kenangkan doa-doa kita dahulu. Sekarang kita tahu betapa bijaknya Tuhan, karena Dia tidak menjawab semua doa kita. Guru saya, dosen Unpad, pernah ditolak sebagai pegawai yang dikirim ke Australia untuk training selama tiga bulan. Ia meradang karena doanya pada waktu salat malam tidak diterima Tuhan. Almarhum Guru saya itu memang tidak jadi ke Australia, karena Tuhan kemudian mengirimkannya ke Amerika. Sekiranya waktu itu doanya dikabulkan, ia tidak akan menjadi guru besar di Unpad. Mungkin ia hanya pensiunan pegawai RRI seperti kawan-kawannya yang berhasil ke Australia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Karena itu berdoalah dengan rendah hati, seperti yang kita ucapkan dalam doa hajat: Tuhanku, jangan Kautinggalkan aku di sini dengan dosa kecuali Kauampuni, dengan aib kecuali Kaututupi, dengan rezeki kecuali Kauluaskan, dengan penyakit kecuali Kausembuhkan. Dan penuhi keperluanku itu &lt;b&gt;jika ia mendatangkan kebaikan kepadaku dan memperoleh ridoMu!&lt;/b&gt;.&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-3304372394855886784?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/3304372394855886784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=3304372394855886784&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/3304372394855886784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/3304372394855886784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/berdoalah-dengan-rendah-hati.html' title='Berdoalah Dengan Rendah Hati'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-5174918965227006982</id><published>2007-12-02T10:46:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T10:48:59.566+07:00</updated><title type='text'>Biarkan Dia Berbicara</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt; line-height: 150%; vertical-align: top; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hari itu para pembesar Quraisy mengadakan sidang umum. Mereka memperbincangkan berkembangnya gerakan baru yang diasaskan Muhammad. Ada dua pilihan. &lt;i&gt;To shoot it out&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;to talk it out&lt;/i&gt;. Membasmi gerakan itu sampai habis atau mengajaknya bicara sampai tuntas. Pilihan kedua yang diambil. &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu serombongan Quraisy menemui Nabi saw. Beliau sedang berada di masjid. Utbah bin Rabi'ah anggota &lt;i&gt;Dar al-Nadwah&lt;/i&gt; (parlemen) yang paling pandai berbicara, berkata : "Wahai kemenakanku! Aku memandangmu sebagai orang yang terpandang dan termulia diantara kami. Tiba-tiba engkau datang kepada kami membawa paham baru yang tidak pernah dibawa oleh siapapun sebelum engkau. Kauresahkan masyarakat, kautimbulkan perpecahan, kaucela agama kami. Kami khawatir suatu kali terjadilah peperangan diantara kita hingga kita semua binasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; color: rgb(0, 0, 0);" lang="IN"&gt;Apa sebetulnya yang kau kehendaki. Jika kauinginkan harta, akan kami kumpulkan kekayaan dan engkau menjadi orang terkaya diantara kami. Jika kau inginkan kemuliaan, akan kami muliakan engkau sehingga engkau menjadi orang yang paling mulia. Kami tidak akan memutuskan sesuatu tanpa meminta pertimbanganmu. Atau, jika ada penyakit yang mengganggumu, yang tidak dapat kauatasi, akan kami curahkan semua perbendaharaan kami sehingga kami dapatkan obat untuk menyembuhkanmu. Atau mungkin kauinginkan kekuasaan, kami jadikan kamu penguasa kami semua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw mendengarkan dengan sabar. Tidak sekalipun beliau memotong pembicaraannya. ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, "Sudah selesaikah ya Abal Walid?" Sudah, kata Utbah. Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat: "Ha mim. Diturunkan al-Qur'an dari Dia yang Mahakasih Mahasayang. sebuah kitab, yang ayat-ayatnya dijelaskan. Qur'an dalam bahasa Arab untuk kaum yang berilmu....." Nabi saw terus membaca. ketika sampai ayat sajdah, ia bersujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Utbah duduk mendengarkan sampai Nabi menyelesaikan bacaannya. kemudian, ia berdiri. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kaumnya berkata, "Lihat, Utbah datang membawa wajah yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utbah duduk di tengah-tengah mereka. Perlahan-lahan ia berbicara, "Wahai kaum Quraisy, aku sudah berbicara seperti yang kalian perintahkan. Setelah aku berbicara, ia menjawabku dengan suatu pembicaraan. Demi Allah, kedua telingaku belum pernah mendengar ucapan seperti itu. Aku tidak tahu apa yang diucapkannya. Wahai kaum Quraisy! Patuhi aku hari ini. kelak boleh kalian membantahku. Biarkan laki-laki itu bicara. Tinggalkan dia. Demi Allah, ia tidak akan berhenti dari gerakannya. Jika ia menang, kemuliannya adalah kemulianmu juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Quraisy berteriak, "Celaka kamu, hai Abul Walid. Kamu sudah mengikuti Muhammad". Orang Quraisy ternyata tidak mengikuti nasihat Utbah (Hayat al-Shahabah 1:37-40; Tafsir al-durr al-Mansur 7:309, Tafsir Ibn Katsir 4:90, Tafsir Mizan 17:371). Mereka memilih logika kekuatan, dan bukan kekuatan logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu sudah lewat ratusan tahun yang lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi Saw dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak Nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Yang menakjubkan kita adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh Utbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi saw. dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat kaum kafir. Kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Seperti pembesar-pembesar Quraisy, kita lebih sering memilih &lt;i&gt;shoot it out&lt;/i&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-5174918965227006982?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/5174918965227006982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=5174918965227006982&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/5174918965227006982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/5174918965227006982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/biarkan-dia-berbicara.html' title='Biarkan Dia Berbicara'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-8630837846525128949</id><published>2007-12-02T10:41:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T10:45:44.515+07:00</updated><title type='text'>Basmalah: Tinjauan Sufistik</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Rasulullah saw bersabda, “Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus.” Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya.Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi.Menurut Syekh Jawad Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal itu akan berujung dengan hamdalah pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Berkenaan dengan hadis di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal tersebut ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik dari segi perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi’li. Yang termasuk kriteria hasan al-fi’li misalnya adalah menolong orang lain, membantu orang yang sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan itu sudah termasuk perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi pelakunya atau disebut hasan al-fâ’il. Orang yang melakukan suatu perbuatan itu memang terhitung baik dan ia memulai pekerjaannya dengan niat yang ikhlas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada Perang Shiffin, tentara ‘Amr bin Ash dan Mu’awiyah mendapatkan kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij menolaknya seraya berkata, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.” Ketika Imam Ali bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian, orang Khawarij marah dan berkata, “Mengapa harus membuat pengadilan, karena semua hukum itu milik Allah.” Imam Ali lalu berkata, “Ucapan orang Khawarij bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah adalah ucapan yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud yang buruk.” Dalam pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah benar dari segi perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang mengucapkannnya. Pada saat itu Imam Ali as menggolongkan kelompok Mu’awiyah dan Khawarij dengan perkataan yang indah, “Orang-orang Khawarij lebih baik daripada orang Mu’awiyah, karena orang Khawarij adalah orang yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih baik orang yang mencari kebenaran walaupun tidak menemukannya daripada orang yang mencari kebatilan dan keburukan seperti Mu’awiyah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi’li. Jika orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah, berarti ia menisbahkan fâ’il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi’li sekaligus menjadi hasan al-fâ’il.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jadi, ada perbuatan yang fi’li-nya baik tetapi fâ’il-nya tidak baik, karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat dikategorikan terputus atau batal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Suatu perbuatan harus hasan al-fi’li dan hasan al-fâ’il; masuk dan keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia dalam amal sehari-hari: Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. Al-Isra 80)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS. Al-Rahmân 78) Allah menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan. Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: Sucikan nama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;MS Mincho&amp;quot;;" lang="IN"&gt;　&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A’la 1)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku’ kamu.” Dan ketika turun surat Al-A’la ayat 1: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi, Rasulullah berkata, “Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ada sebuah riwayat di kalangan ‘irfani yang menyebutkan bahwa kata basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lafad kun yang diucapkan Allah. Maksudnya, ketika Allah berkehendak dengan sesuatu, Dia hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu. (Lihat QS. Yasin 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar, ia berkata, “Bismillâhi majrehâ wa mursâhâ” (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu, majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah. Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan nama Allah, dan bahwa yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya, tetapi kehendak Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kakinya yang berjalan adalah kaki Allah, matanya yang melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah. Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya. Jadi, hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun. Ucapan basmalahnya sama dengan kata kun dari Maula-nya, Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ada sebuah cerita di kalangan sufi. Pada suatu hari Junaid Al-Baghdadi mikraj, naik ke langit. Pada perjalanannya, ketika sampai pada langit pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku’ dan zikir. Junaid ditanya oleh para malaikat, “Hai Junaid, bergabunglah bersama kami dengan berzikir mensucikan nama Tuhanmu.” Junaid menjawab, “Tidak. Ajakan kalian tidak aku kehendaki.” Lalu ia naik ke tingkat yang kedua. Ia melihat ada kumpulan orang sedang ruku’. Junaid diseru, “Hai Junaid, bergabunglah bersama kami.” Junaid menjawab, “Tidak. Aku tidak ingin bergabung dengan kalian.” Lalu ia naik ke tingkat ketiga. Ia melihat ada sekelompok orang yang sedang sujud. Junaid diseru oleh mereka untuk bergabung. Junaid menjawab, “Aku tidak ingin bergabung denganmu.” Lalu sampailah ia pada suatu tempat yang lebih tinggi, yang disebut Sidhratul Muntahâ. Pada tempat itu, ia mendengar perkataan, “Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid?” Junaid berkata, “Aku berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat ini, kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika orang sudah sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah), ucapannya adalah sebuah kebenaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Syekh Jawad Amuli menyebutkan contoh orang seperti ini adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Semua perkataan Abu Dzar adalah kebenaran. Rasulullah bahkan pernah bersabda, “Di bawah naungan langit dan di atas permukaan bumi ini tidak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abu Dzar.” Mengapa Abu Dzar sampai pada tahap seperti itu? Karena, ia sudah sampai pada tingkat tawakal kepada Allah; ia menyerahkan seluruh kehendaknya hanya untuk Allah. Dalam kitab Nur Al-Tsaqalain disebutkan: Sesungguhnya basmalah itu lebih dekat dengan nama Allah yang Mahaagung daripada dekatnya hitam mata dengan putihnya. Basmalah adalah nama agung bagi orang yang sudah mencapai derajat tertentu. Allah: Antara Kasih Sayang dan Murka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam basmalah itu terdapat asma-asma Allah yang menunjukkan sifat jalâliyyah dan jamâliyyah. Asma-asma yang disebut dalam Basmallah adalah Allah,Al-Rahmân, dan Al-Rahîm. Menurut Al-Razi, asma Allah menunjukkan lafzh al-jalâlah. Allah adalah nama zat yang menunjukkan kebesaran-Nya. Dengan kata Allah itu, ditunjukkanlah kekuasaan, ke-Mahabesaran, dan ke-Mahatinggian Allah. Sesudah itu, Allah menyebut Al-Rahman dan Al-Rahim. Dan itulah sifat jamâliyyah (sifat kasih sayang). Allah hanya menggunakan satu nama untuk menggambarkan kebesaran-Nya, yaitu kata Allah. Tapi untuk menggambarkan kasih sayang-Nya, Allah menggunakan dua nama, yaitu Al-Rahman dan Al-Rahim. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar, lebih banyak, dan jauh lebih tinggi daripada ke-Mahakuasaan-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kita tahu ada dua wajah Allah. Pertama, wajah Allah yang keras, yang berat siksaan-Nya (Syadîd Al-’Iqâb). Inilah yang menunjukkan sifat jalâliyyah. Kedua, wajah lain dari Allah yang Pengasih dan Penyayang; wajah yang selalu siap mendengarkan keluhan dan penderitaan kita; wajah yang setiap malam menunggu kita untuk datang berdialog dengan-Nya; wajah yang selalu melimpahi setiap makhluk dengan anugerah-Nya, walaupun makhluk-Nya itu setiap saat bertambah kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Itulah wajah yang dalam istilah tasawuf disebut sebagai sifat-sifat jamâliyyah, yakni sifat-sifat keindahan Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Dalam basmalah ditunjukkan bahwa sifat jamâliyyah Allah lebih besar daripada sifat jalâliyyah-Nya. Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi diriwayatkan: Aku ingin murka melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk-Ku. Tetapi Aku melihat orang-orang tua yang ruku’ dan sujud, anak-anak yang menyusu pada ibunya, dan binatang-binatang yang mencari makanan. Maka berhentilah kemarahan-Ku. Jadi, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Sehingga di dalam doa Kumayl, disebutkan Wahai Zat yang lebih cepat rida-Nya. Tuhan memang murka juga. Tetapi rida-Nya jauh lebih cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di majalah Ummat, saya membaca tulisan Bapak Alwi Shihab. Di universitasnya, di Amerika Serikat, beliau menyaksikan orang-orang kafir yang akhlaknya sangat bagus, yang mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dengan tidak memperhatikan hal-hal duniawi. Mereka masih kafir. Lalu dalam pikiran beliau bergulat berbagai masalah: Bagaimana orang kafir bisa begitu baik akhlaknya dan mengabdi kepada Allah? Bagaimanakah (nasib) mereka di akhirat nanti? Yang menarik dari kesimpulan Alwi Shihab adalah beliau menunjuk kepada besarnya kasih sayang Allah swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kalau kita memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah daripada murka-Nya, maka besar dugaan kita, kasih sayang Allah tidak hanya meliputi orang-orang Islam, tetapi juga orang-orang kafir. Ustad Alwi Shihab menduga bahwa orang-orang saleh yang agamanya berlainan akan mendapat limpahan kasih sayang Allah swt juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebagian ulama mengatakan bahwa azab Allah juga berarti percikan kasih sayang-Nya. Dalam hidup ini, seringkali Allah memberikan pelajaran, baik berupa ujian maupun azab, kepada kita. Sebetulnya itu adalah percikan dari kasih sayang Allah. Siksaan dan ujian yang kita terima dalam kehidupan ini, tetap berasal dari samudera kasih sayang Allah swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kita pernah menceritakan keluhan seorang sahabat kepada Nabi saw. Ia mengeluh karena setelah masuk Islam dagangannya rugi dan tubuhnya sering ditimpa penyakit. Ia berkata, “Ya Rasulallah, tubuhku sakit dan hartaku hilang.” Lalu Nabi menjawab bahwa ujiannya itu adalah tanda dari kasih sayang Allah, bukan tanda dari kemurkaan-Nya. Tak ada baiknya seseorang yang tubuhnya tidak pernah sakit dan hartanya tidak pernah rugi. Karena, apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan coba ia dengan berbagai ujian, Ujian adalah percikan kasih sayang Allah. Begitu juga halnya dengan azab Allah yang Ia berikan pada hari akhirat nanti, ia masih merupakan percikan dari rahmân rahîm-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mungkin kita bisa memahami bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita di dunia adalah salah satu jalan guna mengangkat diri kita menjadi orang yang lebih baik. Dan itu sudah merupakan sunatullâh. Orang yang memiliki kualitas yang tinggi adalah orang-orang yang sudah teruji berkali-kali. Seperti sebuah peribahasa di negeri Barat yang menyatakan: Badailah yang membuat kuat bangsa Viking.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-8630837846525128949?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/8630837846525128949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=8630837846525128949&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8630837846525128949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8630837846525128949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/basmalah-tinjauan-sufistik.html' title='Basmalah: Tinjauan Sufistik'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-7621154866684398137</id><published>2007-12-02T10:13:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T10:34:25.090+07:00</updated><title type='text'>Lailatul Qadr, Malam Ampunan</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;PARUH ketiga bulan Ramadhan, kata Nabi Muhammad SAW, adalah pembebasan dari api neraka. Di dalamnya, ada malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatul qadar). Para malaikat turun menaburkan kasih sayang Tuhan dan menyampaikan salam kepada kaum beriman sampai terbit fajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lailatul Qadar sangat istimewa, bukan karena ibadat di malam itu mempunyai nilai yang sama dengan ibadat seribu bulan. Malam Qadar istimewa karena di situ Tuhan membebaskan tengkuk-tengkuk hambanya dari hukuman Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lailatul Qadar artinya malam keagungan, the night of glory. Keagungan Tuhan ditampakkan dalam maaf-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Karena itu, jika malam-malam yang lain adalah waktu audiensi bagi para kekasih Tuhan, Lailatul Qadar adalah malam bagi musuh-musuh-Nya; malam untuk para pendosa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di langit, ketika para malaikat menengok Kitab catatan amal manusia, mereka terpesona dengan amal yang hanya khusus dilakukan penduduk bumi. Malaikat pun tidak ada yang dapat menirunya. Salah satu di antara amal itu adalah rintihan para pendosa. Tuhan berfirman, ”Aku lebih suka mendengarkan rintihan para pendosa ketimbang gemuruh suara tasbih. Gemuruh suara tasbih menyentuh kebesaran Kami, sedangkan rintihan para pendosa menyentuh kasih sayang Kami.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka, malam itu, dengan deraian air mata, musuh-musuh Allah itu merundukkan punggungnya di hadapan pintu-Nya: Tuhanku, para pengemis telah singgah di hadapan pintu-Mu. Orang-orang fakir telah rebah memohon perlindungan-Mu. Perahu orang-orang miskin telah berlabuh pada tepian lautan kebaikan dan kemurahan-Mu, berharap untuk sampai ke halaman kasih dan anugerah-Mu. Tuhanku, jika pada bulan yang mulia ini, Engkau hanya menyayangi orang-orang yang mengikhlaskan puasa dan shalat malamnya, maka siapa lagi yang menyayangi pendosa tercela yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tuhanku, jika Engkau hanya mengasihi orang-orang yang menaati-Mu, siapa yang akan mengasihi para penentang-Mu. Tuhanku, jika Engkau hanya menerima orang-orang yang tekun beramal, maka siapa yang akan menerima orang-orang yang malas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tuhanku, beruntunglah orang-orang yang berpuasa sebenarnya. Berbahagialah orang-orang yang shalat malam sebaik-baiknya. Selamatlah orang-orang yang beragama dengan tulus. Sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu yang hanya berbuat dosa. Sayangilah kami dengan kasih-Mu. Bebaskan kami dari api neraka dengan ampunan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami dengan kasih-sayang-Mu. Wahai Yang Paling Penyayang dari semua yang Menyayangi. (Dhiya al-Shalihin) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kerendahan Hati&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ironisnya, doa yang kita kutip di atas sebetulnya bukan doa yang kita rekam dari rintihan para pendosa. Doa itu datang dari orang-orang suci. Mereka yang rebah di depan pintu Tuhan hanyalah orang yang sudah meruntuhkan seluruh kepongahannya. Orang yang paling saleh adalah orang yang merasakan dirinya paling berdosa. Orang yang paling berdosa adalah orang yang merasa dirinya paling saleh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada suatu hari, para sahabat memperbincangkan rekannya yang sangat saleh di hadapan Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak memberikan komentar sedikit pun, padahal ia adalah manusia yang senang memuji kebaikan orang betapapun kecilnya. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu muncul. Mereka semua berkata, ”Inilah orang yang kami bicarakan, wahai rasul Allah.” Nabi yang mulia berkata, “Tetapi aku melihat bekas usapan setan di wajahnya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang itu mengucapkan salam, kemudian duduk di majelis Nabi. Beliau mendekatinya dan bertanya, “Apakah setiap kamu masuk ke dalam kumpulan orang, kamu merasa bahwa kamulah yang paling baik di antara mereka?” Ia menjawab, “Benar.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tidak lama kemudian, ia bangkit dan pergi shalat ke masjid. Nabi berkata, “Siapa yang akan membunuh orang itu?” Abu Bakar menyatakan kesediaannya. Beberapa saat kemudian, Abu Bakar kembali. “Bagaimana mungkin saya membunuhnya. Ia sedang shalat dengan rukuk yang sangat khusyuk,” katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika Rasulullah mengulangi pertanyaannya, Umar berdiri menuju orang itu. Ia juga kembali dengan mengajukan keberatan, “Tidak mungkin saya membunuhnya. Ia sedang meratakan dahinya di atas tanah, bersujud dengan sangat khidmat.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kali yang terakhir adalah giliran Ali. Ia bertekad untuk membunuhnya dalam keadaan apa pun. Tetapi ia kembali, masih dengan pedang yang bersih. Ia melaporkan bahwa orang itu sudah tidak berada lagi di masjid. Nabi bersabda, “Jika kalian membunuh dia, umatku tidak akan terpecah setelah ini.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kisah ini, yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, lebih merupakan parabel ketimbang dipahami dalam makna harfiahnya. Hadis ini tidak mengajarkan kepada kita untuk membunuh orang yang shalat. Nabi mengajarkan umatnya untuk tidak mudah terpesona dengan tontonan kesalehan. Kamu tidak akan menjadi orang saleh selama dirimu merasa menjadi orang yang paling saleh. Kamu bukan orang yang benar selama kamu merasa menjadi orang yang paling benar. Keberagamaan bukan show business. Tidak untuk membusungkan dada di hadapan orang banyak. Kesalehan yang sejati adalah kerendahan hati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bersujudlah dan dekatkan dirimu kepada-Ku, kesalehan tidak berasal dari penilaian orang luar. Ia berasal dari kedalaman hati. Ia muncul sebagai perasaan betapa rendahnya ia dibandingkan dengan orang lain. Tuhan berfirman, “Bersujudlah dan dekatkan dirimu kepada-Ku.” (Al Quran, Surat Al Alaq:19) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk menjelaskan firman Tuhan ini, Jalaluddin Rumi bercerita, alkisah, pada tepian sebuah sungai, terdapat dinding yang tinggi. Di atas benteng itu terbaring seseorang yang tengah menderita karena kehausan. Tembok itu menghalangi dia untuk mendapatkan air yang ia rindukan seperti rindunya seekor ikan akan air lautan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dengan susah payah, ia lalu melemparkan pecahan batu kerikil dari tembok itu ke dalam air. Suara percikan air yang tertimpa kerikil terdengar di telinganya seperti suara seorang sahabat yang indah dan lembut. Ia begitu bahagia mendengar suara percikan air itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena bahagianya, ia mulai merobohkan batu bata benteng itu satu per satu. Suara gemercik air di bawah seakan berkata kepadanya, “Apa yang kau lakukan?” Lelaki yang kehausan menjawab, “Aku memperoleh dua hal dan aku takkan pernah berhenti melakukannya. Pertama, aku ingin mendengar bunyi gemercik air. Suara percikan air bagi orang yang kehausan sama seperti suara terompet Israfil yang membangunkan kehidupan bagi orang mati; sama seperti bunyi hujan di musim semi yang membuat kebun merekah dengan segala kemegahannya; sama seperti hari-hari sedekah bagi seorang pengemis; atau sama seperti berita kebebasan bagi seorang tawanan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Kedua, setiap kali aku merobohkan bebatuan benteng dan melemparkannya ke bawah, aku menjadi lebih dekat dengan air yang mengalir. Setiap bongkah tembok yang aku jatuhkan membuat benteng ini menjadi lebih rendah. Menghancurkan dinding pemisah ini akan membawaku kepada kesatuan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Meruntuhkan benteng pemisah adalah makna dari bersujud. Bukankah Tuhan berkata, bersujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada-Ku. Selama tembok itu berdiri tegak, sepanjang itulah tegak penghalang yang menyebabkan orang tak bisa menundukkan kepalanya di dalam shalat. Engkau takkan pernah bisa benar-benar bersujud kepada air Kehidupan selama engkau belum membebaskan dirimu dari tubuh fisikmu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Makin haus orang yang berada di atas benteng, makin cepat pulalah ia meruntuhkan bebatuan. Makin besar cintanya kepada suara gemercik air, makin banyak pulalah bongkahan batu bata yang ia runtuhkan….” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam kelanjutan kisah ini, Rumi bercerita, orang yang kehausan itu kini telah berhasil meruntuhkan seluruh tembok pemisah. Ia telah dekat dengan sungai yang mengalir. Namun, ia merasa malu karena seluruh tubuhnya kotor berdebu, sementara air itu begitu bersih, bening, dan suci. Sungai itu lalu bertanya, “Bukankah kau telah berusaha keras untuk merobohkan bebatuan. Sekarang setelah kau dekat denganku, mengapa kau tak mau menghampiriku?” Lelaki itu menjawab, “Tidak mungkin bibirku yang kotor aku tempelkan kepada air yang begitu suci.” Sungai itu berkata lagi, “Tanpa airku, mana mungkin kau bisa membersihkan dirimu.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rumi mengajarkan kepada kita bahwa Air Kehidupan tak bisa didekati tanpa bersujud. Tembok-tembok yang menghalangi kita untuk dekat kepada Tuhan adalah tembok keangkuhan dan kesombongan kita. Selama kita masih sombong, kita tak akan pernah mampu untuk mendekati Dia. Sujud adalah lambang kerendahan diri. Semakin seseorang merendahkan dirinya, makin dekat pula ia dengan Yang Mahatinggi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Saat ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah saat ketika ia tengah bersujud.” Ketika ia bersujud, ia menempatkan kepalanya-yang menjadi lambang kepongahan-pada tempat yang serendah-rendahnya. Bahkan dalam shalat, kita disunahkan agar merebahkan kepala kita di atas tanah, yang dari situ kita diciptakan dan ke tanah pula kita dikembalikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar kita dekat dengan Allah SWT. Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar debu saja.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Para sufi tidak menggambarkan surga sebagai tempat yang dialiri sungai susu dan khamar, penuh dengan buah-buahan yang ranum dan para bidadari rupawan. Mereka menganggap gambaran seperti itu hanya perlambang saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menurut para sufi, hal yang paling indah dari surga adalah pertemuan dengan Allah SWT; persatuan dengan Tuhan yang penuh kasih. Ini takkan pernah bisa dicapai apabila masih ada satu titik keangkuhan, sebesar biji sawi pun. Akhirnya, yang mendapat Lailatul Qadar adalah para perintih pilu yang datang ke hadapan Tuhan dengan segala kehinaan dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-7621154866684398137?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/7621154866684398137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=7621154866684398137&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7621154866684398137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/7621154866684398137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/lailatul-qadr-malam-ampunan.html' title='Lailatul Qadr, Malam Ampunan'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-8449956066619494048</id><published>2007-12-02T10:02:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T10:05:58.275+07:00</updated><title type='text'>Mati Syahid</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;TULISAN ini saya mulai dengan penyampaian takziah sedalam-dalamnya kepada bunga-bunga Ibu Pertiwi yang telah gugur sebelum mekar karena kecintaan mereka kepada kebenaran dan keadilan. Kita percaya bahwa arwah mereka yang suci telah dijemput para malaikat dan ditempatkan di sisi Allah pada tempat yang sebaik-baiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;   &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya ingin mengajak para pembaca kembali kepada suatu peristiwa yang terjadi pada 1356 tahun yang lalu. Peristiwa yang bisa kita sebut sebagai demonstrasi menentang kezaliman itu berlangsung di tengah-tengah padang pasir kira-kira beberapa kilometer dari kota Kufah. Ada rombongan kecil yang tergesa-gesa menyele-saikan ibadah haji mereka, hanya karena mereka memperoleh undangan penduduk Kufah untuk melakukan reformasi politik di dunia Islam. Pemimpin rombongan adalah cucu Rasul saw, Al-Husein as. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada waktu itu, dunia Islam baru saja berada pada akhir Rezim Baru. Rezim Lama adalah rezim para Khulafâur Râsyidîn, yang berakhir pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib kw. Itulah rezim yang menegakkan keadilan yang memihak rakyat dan mendahulukan orang-orang yang tertindas. Pada rezim sebelumnya, dunia Islam diperintah oleh orang-orang seperti Abu Bakar Shiddiq, yang setelah menjadi khalifah masih diketemukan orang berjualan di pasar karena tidak ingin memperoleh pendapatan dari jabatannya sebagai pemimpin negara. Rezim Lama juga ditandai oleh Umar bin Khattab, yang pernah berkata kepada rakyatnya dengan suara keras, “Demi Allah, sekiranya di dalam pemerintahanku ada seorang rakyat yang kehilangan kambingnya, Umar bin Khattab tidak akan pernah bisa tidur sebelum ia mengembalikan kambing itu kepada pemilik-nya.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Rezim Lama ialah rezimnya Ali bin Abi Thalib, yang dipuji Rasul sebagai “Bapak Fakir Miskin”. Inilah Ali yang datang ke gudang negara, kemudian melihat tumpukan emas dan perak seraya berkata, “Hai Kuning dan hai Merah, tipulah orang selain aku.” Inilah Ali yang ketika memegang pemerintahan, ketika ia menjadi Presiden, Amirul Mukminin, ia membagikan kekayaan negara dengan cara yang seadil-adilnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Suatu saat Aqil, saudara tua Ali, meminta bagian yang lebih banyak. Ali berkata kepadanya, “Kalau engkau ingin harta yang lebih banyak, berangkatlah kamu datangi toko-toko itu dan ambil harta-harta mereka.” Aqil bertanya, “Apakah engkau menyuruhku merampok harta orang lain?” Ali segera menjawab, “Dengan permintaan fasilitas yang kau lakukan, engkau sebetulnya menyuruh aku merampok harta kaum muslimin.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Inilah Ali yang tidak pernah memejamkan matanya setiap malam karena memikirkan penderitaan kaum muslimin di sekitarnya. Inilah Ali yang dipuji Nabi saw sebagai pembela fakir miskin, yang kelak gugur di mihrabnya karena kecintaannya kepada keadilan. Inilah Ali yang perlahan-lahan ditinggalkan sahabatnya seorang demi seorang hanya karena ia tidak mau memberi-kan fasilitas tambahan kepada keluarga dan kawan-kawan dekatnya. Ali dibunuh oleh para sahabatnya ketika shalat subuh pada tanggal 19 Ramadhan tahun 40 Hijriah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orde lama yang diperintah oleh Khulafâur Râsyidîn, kemudian digantikan oleh Orde Baru yang diperintah oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Abu Sufyan adalah penentang Nabi saw sejak awal dan baru masuk Islam pada Hari Kemenangan Rasulullah saw. Khittah Abu Sufyan dilanjutkan oleh Muawiyah. Abul A’la Al-Maududi, dalam bukunya Al-Khilâfah wa Al-Mulk, mencerita-kan karakteristik pemerintahan orde baru Muawiyah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1. Pemerintahan ditegakkan diatas nepotisme. Negara ditegakkan di atas asas kekeluarga-an. Makin dekat dengan pemimpin kekua-saan, makin banyak hak-hak istimewa yang diperolehnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2. Pemerintahan ditegakkan di atas pelecehan hak-hak rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Muawiyah memerintahkan para ulama untuk mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. Karena Ali, walaupun sudah meninggal dunia, dianggap punya pengaruh yang besar terhadap kaum muslimin. Ada suatu mesjid di Kufah. Di sana terdapat serombongan orang yang tidak mau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Muawiyah lalu mengerahkan pasukannya untuk menangkapi orang-orang di mesjid itu. Sebagian orang ditebas tangannya dan sebagian lagi dikubur hidup-hidup hanya karena tidak mau mengecam Ali bin Abi Thalib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Muawiyah membangun istana yang megah. Salah seorang sahabat Nabi, Abu Dzar Al-Ghifari, jengkel melihat betapa rakyat sengsara sementara Muawiyah membangun istana. Setiap hari Abu Dzar berteriak di depan Muawiyah dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbunyi, “Orang-orang yangmenumpuk emas dan perak, kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah, gembira-kanlah mereka dengan azab yang pedih” (QS. At-Taubah 34). Akhirnya Muawiyah tidak tahan dan menganggap Abu Dzar sebagai penghasut massa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Satu saat Abu Dzar berteriak di pasar di hadapan rakyat kecil di sekitarnya. Abu Dzar berkata, “Saya heran melihat mereka yang hidup kelaparan, tetapi tidak membawa pedang-pedang mereka dan mendatangi orang-orang kaya itu untuk mengambil harta mereka.” Abu Dzar ditangkap, diikatkan ke dalam punggung unta, dan dikembalikan ke Madinah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada akhir pemerintahannya, Muawiyah meninggal dunia. Bagaimana pun ia menjaga kekuasaannya, usia tuanya tetap tidak dapat ia pertahankan. Dia digantikan oleh anaknya, Yazid bin Muawiyah. Anaknya pun meneruskan perjuangan bapaknya untuk menegakkan kekuasaan di atas nepotisme, penindasan, dan perampasan hak-hak rakyat kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada zaman itulah, 1356 tahun yang lalu, berangkat serombongan kecil orang untuk menentang kezaliman. Rombongan itu dipimpin oleh Al-Husein. Ia berangkat karena ia menemukan ulama-ulama sudah tidak lagi bicara tentang kebenaran. Mereka malah menggunakan mimbar-mimbar untuk membenarkan kezaliman. Ia berangkat karena ia tidak menemukan lagi para cendekiawan yang mampu menceritakan kenyataan. Ia berangkat karena menemukan begitu banyak orang yang menjajakan kepalsuan. Ia ingin tunjukkan bahwa pemerintahan waktu itu ialah pemerintahan yang zalim. Ia ingin menunjukkan kebenaran, demonstrate the truth. Sekarang kita sebut demonstrasi. Berangkatlah Al-Husein. Sampai di suatu padang pasir, datanglah pasukan pemerintah dalam jumlah banyak yang dipimpin oleh seorang prajurit bernama Al-Hurr yang mendesak para demonstran ini kembali ke tempat semula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tanggal 9 Muharram mereka ter-desak, dijauhkan dari sumber air minum. Mereka berkemah di situ dalam keadaan lapar dan dahaga. Saya tidak akan merinci peristiwa ini yang kemudian dilupakan orang. Orang berusaha melupakan karena bila peristiwa ini dikenang, maka semangat untuk menegakkan keadilan akan bangkit sepanjang sejarah. Para penguasa di mana pun berkepentingan agar semangat ini tidak pernah tumbuh. Oleh sebab itu, mereka membungkam siapa saja yang mau menceritakan peristiwa ini. Sebagai gantinya, kepada kita diajarkan sesuatu yang dapat melumpuhkan semangat perjuangan sama sekali, yaitu kepercayaan kepada takdir bahwa apa pun yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan Allah swt. Bahkan kekuasaan pun ditentukan Allah. Sehingga kalau kita ditindas, hal ini juga merupakan kehendak Allah dan kita harus menerima kehendak Allah itu dengan seluruh kepasrahan. Karena muslim seperti itulah yang mereka katakan sebagai muslim yang sejati. Mereka menafsir-kan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai kepentingan itu, Misalnya, “Katakanlah: Ya Allah, Engkaulah pemilik segala kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapa saja yang engkau kehendaki dan Engkau ambil kekuasaan dari siapa saja yang Engkau kehendaki. Pada tangan-Mu ada kebaikan” (QS. Ali Imran 26). Saya tidak bermaksud menolak ayat ini, yang saya tolak ialah penafsiran ayat ini untuk membenarkan penindasan dan bahwa penindasan itu ialah kehendak Allah swt. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketika ada orang-orang yang menentang penindasan itu, segera mereka dituduh sebagai penolak takdir yang tidak mau menerima ketentuan Allah swt. Bahkan pemberontakan sekelompok kecil ini, yang masih memiliki hati nurani dan kebenaran, disebut oleh para ulama sebagai Bughat yang berarti tindakan melawan kekuasaan yang sah. Hukum melakukan tindakan ini sama dengan kafir. Sampai Imam Husein as disebut kafir hanya karena dia ini menentang kezaliman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya ingin memfokuskan pada satu peristiwa saja. Yaitu pada pemimpin pasukan pemerintah yang bernama Al-Hurr. Kata Al-Hurr berarti sang merdeka, Mr. Freedom. Al- Hurr inilah yang menghalangi rombongan Al-Husein dan mendesak sampai ke satu tempat di mana terjadi peristiwa Sepuluh Muharram. Al-Hurr mendapat bantuan pasukan tambahan dengan jumlah yang lebih banyak dipimpin oleh seorang jenderal bernama Umar bin Sa’ad. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Al-Hurr melihat rombongan itu benar-benar mau membunuh cucu Rasulullah saw. Ia melihat kepada rombongan Al-Huseinsegelintir demonstran yang berada dalam kehausan. Ia melihat pasukan Ibnu Sa’ad yang merintangi mereka untuk memperoleh seteguk air minum. Al-Hurr bingung. Ia harus memilih di antara dua pilihan, mendukung perjuangan Imam Husein betapa pun lemah-nya mereka, atau ia tetap harus berpihak pada janjinya sebagai prajurit yang harus taat kepada atasan. Lalu ia bertanya kepada Ibnu Sa’ad, “Wahai putra Sa’ad, apakah betul kalian akan membunuh mereka ini, orang-orang yang tidak bersalah, yang dosanya hanya karena ingin mengungkapkan kebenaran?” Lalu Ibnu Sa’ad menjawab, “Demi Allah, aku akan bantai mereka. Walau-pun tangan-tangan berjatuhan dan kepala-kepala bergeletakan.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Waktu itu Al-Hurr tersentak, tiba-tiba ia menghentakkan sanggur di kudanya menuju rombongan Al-Husein. Begitu tiba di hadapan Imam, Al-Hurr turun dari kudanya seraya merebahkan diri bersujud di kaki Husein. “Wahai cucu Rasulullah, inilah aku si Jahat yang menggiringmu sampai ke tempat ini. Tadi aku dihadapkan kepada dua pilihan antara surga dan neraka. Demi Allah, aku tidak akan mendahulukan apa pun di atas surga. Apakah masih ada maaf bagiku, wahai putra Rasulullah?” Al-Husein memandangnya dan berkata, “Insya Allah, Allah akan meng-ampunimu.” Al-Hurr berkata, “Kalau begitu, izinkan aku sekarang mempersembahkan nyawaku untuk menebus dosa-dosaku. Hari ini aku telah memutuskan untuk memihak kebenaran.” Kemudian Al-Husein mengusap wajah Al-Hurr dan berkata, “Engkau seperti nama yang diberikan ibumu, Engkau adalah Al-Hurr, Sang Merdeka.” Al-Hurr memilih kemerdekaan hati nuraninya daripada kedudukannya sebagai pemimpin pasukan. Ia meninggalkan pasukannya karena ia tahu pasukannya dikirim untuk menghancurkan para pejuang keadilan. Ia lalu bergabung dengan para pejuang keadilan. Pada 1356 tahun yang lalu, yang pertama kali gugur di padang Karbala ialah prajurit yang memilih hati nuraninya ketimbang perintah atasan-nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Banyak orang kecewa dan sedih dengan kejadian di Universitas Trisakti. Tapi hendaknya kita ingat juga, bahwa di antara para prajurit di sekitar kita itu, ter-dapat banyak Al-Hurr, yang insya Allah akan memilih hati nuraninya. Mereka tahu bahwa yang diperjuangkan oleh Husein-Husein baru adalah perjuangan untuk kepentingan rakyat. Mereka tidak berjuang untuk sebuah konsep. Karena untuk apa mereka merumuskan konsep yang memerlukan satu Pelita lagi dan reformasi hanya bisa dilaksanakan tahun 2003? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Permintaan para mahasiswa adalah permintaan sederhana yang dirumuskan dengan kata yang singkat saja, yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan. Lalu, kalau ada orang yang bertanya, “Bukankan menegakkan keadilan dan kebenaran itu terlalu abstrak?” Coba rumuskan lebih terperinci. Jika kita rinci, banyak orang akan tersinggung. Untuk menghindari itu, kita berbicara pada dataran yang sangat abstrak. Keadilan bukanlah masalah filosofis untuk dipikirkan, keadilan adalah sesuatu yang bisa dirasakan oleh hati nurani setiap orang. Kita tidak memerlukan definisi keadilan. Kita memerlukan kepekaan hati nurani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tanyakan kepada para petani yang dirampas tanahnya untuk dijadikan lapangan golf, “Apa definisi keadilan?” Tidak seorang pun yang dapat mengatakannya. Tapi mereka dapat merasakannya. Keadilan bukanlah something to think about, keadilan ialah something to feel about. Keadilan bukanlah a matter contemplation, melainkan a matter of emotion, feeling, and conscience. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi, saya hanya memohon kepada kita semua untuk menelan pil sabar. Para prajurit-prajurit itu juga sama dengan kita, orang-orang kecil yang harus berhadapan dengan anak-anak kita sendiri. Bahkan harus berhadapan dengan hati nurani mereka sendiri. Anda harus membayangkan betapa hancurnya hati mereka sebetulnya. Ketika mereka berhadapan dengan Anda. Sekiranya Anda mampu melihat lebih tajam, Anda akan lihat gelegak air mata mereka yang sebetulnya tidak rida melakukan penindasan terhadap Anda. Mereka tahu bahwa Anda juga berjuang untuk kepentingan mereka. Sekali lagi, saya mohon kita semua bersabar dan marilah kita berdoa supaya di antara mereka, muncul Al-Hurr-Al-Hurr baru, sang kemerdekaan yang memilih untuk memihak hati nuraninya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mereka adalah saudara-saudara kita, air mata kita adalah air mata mereka juga. Kita juga berduka cita bukan hanya untuk mahasiswa Trisakti, tapi juga buat aparat yang meninggal karena dipukuli massa. Kalau orang meninggal dunia dalam upaya mene-gakkan keadilan, menegakkan hati nurani-nya, di dalam Islam di sebut Syahid. Di dalam bahasa Arab Syahida berarti menyaksikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam Al-Qur’an kaum Muslimin disebut sebagai Syuhadâ ‘Alan Nâs, yang harus menjadi saksi-saksi kebenaran di tengah-tengah manusia. Seorang yang mati syahid adalah seorang yang menjadi bukti dari kecintaan kepada kebenaran. Dengan kata lain kebenaran itu hanya dapat disaksikan melalui darah yang dicurahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi tentang syahid. Dalam Islam, orang yang syahid disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa mereka itu tidak mati. Al-Qur’an mengulang hal ini dua kali. Pertama dalam surat Al-Baqarah dan kedua dalam dalam surat Al-Imrân. Allah berfirman: “Jangan kamu kira orang-orang yang dibunuh di jalan Allah itu mati, mereka hidup di sisi Allah dan diberi rezeki” (QS Ali Imrân 169).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Seluruh ulama sepakat bahwa kematian orang yang syahid berbeda dengan kematian kita semua. Kalau kita mati, kita pindah ke alam Barzakh dan menunggu hari kiamat dalam penantian panjang yang mengerikan —atau membahagiakan sesuai dengan amal-amal yang kita lakukan. Orang yang mati syahid tidak mengalami penantian yang panjang seperti itu, mereka berada di alam yang lain dan tetap diberi rezeki. Berdasarkan beberapa hadits, orang yang mati syahid diberikan hak untuk berkunjungmenziarahi keluarganya, bahkan bisa berdoa untuk kesejahteraan keluarganya. Pada hari kiamat, orang-orang yang mati syahid diberikan hak oleh Allah untuk memberikan syafa’at kepada tujuh puluh orang dari keluarganya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 154, Allah swt berfirman: “Janganlah kamu berkata kepada orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, mereka itu hidup tapi kalian tidak merasakannya.” Kebahagiaan seperti itu diberikan kepada para syuhada, karena para syuhada itu telah menyiramkan darahnya di taman sari umat Islam agar di atasnya mekar bunga-bunga keadilan dan kebenaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Berikut ini hadits-hadits tentang keutamaan mati syahid;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;1. “Pada setiap kebaikan itu, ada kebaikan yang lebih utama dari itu. Sampai seseorang terbunuh di jalan Allah, tidak ada kebaikan yang lebih baik daripada kematian seperti itu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2. “Tak ada tetesan yang paling dicintai Allah selain dua tetesan. Tetesan darah di jalan Allah dan tetesan air mata yang jatuh dalam kegelapan malam dari seorang hamba yang tidak mengharapkan apa-apa kecuali rida Allah.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;3. Pada peristiwa perang Uhud banyak sekali di antara para sahabat Rasulullah yang terbunuh, di antaranya ayah dari Jabir. Kemudian Rasulullah berkata menghibur Jabir, “Sesungguhnya Allah tidak pernah bicara kepada seseorang pun kecuali lewat tirai, tetapi Allah berkata kepada bapakmu secara langsung. Allah berkata kepada bapakmu, “Mintalah sekarang kepadaku, Aku akan beri permintaanmu.” Kemudian bapakmu berkata,”Aku mohon kepada-Mu Ya Allah, Engkau kembalikan lagi aku ke dunia supaya aku berjihad dan terbunuh lagi.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;4. “Tidak seorang pun yang masuk surga ingin kembali lagi ke dunia ini atau memperoleh sesuatu di dunia, kecuali orang yang syahid, karena ia berharap kembali lagi ke dunia ini dan terbunuh lagi puluhan kali, karena kemuliaan Allah yang diberikan kepada mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;. Terakhir saya ingin mendefinisikan siapa saja yang syahid dan bagaimana yang mati syahid itu. Dalam hadits yang diriwayat-kan oleh Bukhari dan Muslim, “Siapa yang berperang dan terbunuh untuk mendekatkan kalimat Allah, maka dia termasuk orang yang mati syahid.” Lalu apa yang di maksud dengan kalimâtullâh? Menegakkan kebenaran adalah menegakkan kalimat Allah, dan siapa saja yang menegakkan kebenaran kemudian terbunuh, dia mati syahid. “Jihad yang paling utama adalah kau katakan kebenaran di depan hadapan penguasa yang zalim.” Menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang adil adalah termasuk jihad, tapi risikonya kecil malahan akan disambut “Alhamdulillah, masih ada orang seperti orang seperti kamu.” Ketika Umar bin Khattab menjadi presiden, dia meminta penduduk untuk membenarkan kelakuannya yang salah. Kemudian salah seorang berdiri mencabut pedangnya dan berkata, “Kami akan mendukung engkau kalau engkau membela kebenaran dan kami akan mem-betulkannya dengan pedang ini, kalau engkau berbuat salah.” Umar tidak menangkap orang itu, bahkan dia memeluknya. Jadi, berbicara kebenaran di depan penguasa yang zalim adalah jihad yang paling utama, dan mati karena mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim itu adalah mati syahid. Karena itu, saya tidak henti-hentinya mengatakan bahwa mahasiswa Trisakti yang gugur itu sebagai orang yang mati syahid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hak-hak keluarganya yang dizalimi, dia termasuk mati syahid.” Hadits yang lain, “Barangsiapa yang terbunuh karena ingin mengambil hartanya yang dirampas oleh orang lain dengan zalim, ia juga mati syahid.” Hadits yang ketiga, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela kepentingan tetangganya yang dizalimi, ia termasuk mati syahid.” Nabi juga bersabda, “Siapa yang terbunuh karena membela agama Allah, ia pun mati syahid.” Dengan penuh keyakinan saya katakan bahwa para mahasiswa yang gugur itu termasuk orang yang mati syahid, karena mereka membela kepentingan saudara-saudara mereka, tetangga-tetangga mereka yang sangat menderita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lantas, kezaliman apa yang sudah dilakukan oleh penguasa di Indonesia ini? Saya yakin kita semua sudah tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7692214341349792271-8449956066619494048?l=rasniardhi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasniardhi.blogspot.com/feeds/8449956066619494048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7692214341349792271&amp;postID=8449956066619494048&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8449956066619494048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7692214341349792271/posts/default/8449956066619494048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasniardhi.blogspot.com/2007/12/mati-syahid.html' title='Mati Syahid'/><author><name>ardhi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00375375617501619899</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7692214341349792271.post-8982100232676041764</id><published>2007-12-02T09:58:00.000+07:00</published><updated>2007-12-02T10:00:25.549+07:00</updated><title type='text'>Berbuka Dengan Racun</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;SETENGAH abad yang lalu, aku adalah anak kecil yang tinggal di kampung. Pada bulan puasa, aku menghabiskan waktu dengan “berburu” makan untuk berbuka. Aku memetik puluhan buah jambu dari pohon-pohon jambu yang tumbuh di pinggir kali. Aku juga mengantongi beberapa buah mangga yang kupetik dari pohon mangga di halaman rumah nenekku. Menjelang Maghrib, bersama anak-anak kampung lainnya aku berbaris menunggu pembagian nagasari dari kakekku. Nagasari itu tepung yang di dalamnya ada pisang, manis dengan gula aren, dan dibungkus dengan daun pisang. Buah-buahan plus makanan-makanan yang home made adalah menu berbuka kami. Minuman kami cukup dengan air teh saja atau sekali-sekali air aren. Lauk-pauknya biasanya sayuran, tempe , dan ikan asin. Kami mengubah fasting menjadi feasting, puasa menjadi pesta, kalau kami melihat daging ayam (kampung) dan ikan (dari sungai atau kolam) pada tikar jamuan kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Puluhan tahun setelah itu, aku membangun keluarga. Tinggal di kota besar sebagai anggota kelas menengah. Tentu saja aku memandang rendah menu makanku dulu. Aku tidak ingin anak-anakku makan yang sama seperti yang dahulu aku makan. Mereka harus makan makanan orang kota . Bersamaan dengan kenaikan status sosial ekonomiku, menu buka puasa kami makin lama makin “internasional”. Minuman kami terdiri dari soft drinks, aneka jus, dan susu. Di kulkas tersimpan jenis-jenis minuman dan makanan dalam kaleng atau kantong plastik. Di atas meja dihidangkan berbagai jenis makanan -termasuk daging-dagingan- yang sebagian besar diproduksi di pabrik-pabrik industri makanan. Semua makanan itu –baik bahannya atau sudah jadi- dibeli di pasar swalayan atau mal-mal yang terdekat. Jenis-jenisnya beragam, tapi rasanya sama: lezat-lezat! Ada yang lupa aku sebut. Sebagai pengganti daun pisang, pembungkus makanan kami sekarang plastik atau alumunium foil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pola makan yang moderen ini makin kuat setelah semua keluargaku sering berada di luar negeri. Sekali-sekali kami berbuka bersama di restoran-restoran internasional, sejak McDonald, Kentucky Fried Chicken, sampai Hokka-hokka Bento, Pizza Huts, atau … Mercantile. Kami cuma berpuasa siang hari. Malam hari kami menjadi pelahap makanan yang rakus. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai aku menemukan bahwa makanan moderen ternyata membunuh kami sekarang dengan malnutrisi dan keracunan . Makanan yang “kampungan” itu ternyata makanan Adam dan Hawa di surga Aden . Makanan yang menghidupkan kami dahulu dalam kebugaran dan kesehatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tom McGregor, dalam The Perfect Diet, menulis:&lt;br /&gt;“Kita telah jauh meninggalkan keindahan surga Aden . Telah lama kita lupakan diet sempurna yang bergantung matang dari setiap cabang pohon. Buah-buahan segar yang dirancang dengan susunan molekul yang tepat untuk memelihara tubuh sudah digantikan dengan makanan yang dikemas secara kreatif, diawetkan secara kimiawi, diberi rasa buatan, ditingkatkan teksturnya, diberi warna, diberi lemak (fattened), dimaniskan, difortifikasi secara sintetik, dan dapat dihangatkan di mikrowiv. Dengan begitu, dalam beberapa menit, makanan sudah pindah dari kulkas ke meja makan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Makanan itu begitu enak sehingga kita lupa pada unsur-unsur bahannya (ingredients). Begitu lezat sehingga kita bersedia memasukkan ke dalam perut kita ribuan zat-zat kimia dengan nama-nama aneh seperti preservatives, chemical flavors, buffers, noxious sprays, alkalizers, acidifiers, deodorants, moisteners, drying agents, expanders, modifiers, emulsifiers, stabilizers, thickeners, clarifiers, disinfectants, defoliants, fungicides, neutralizers, anticaking and antifoaming agents, hydrolyzers, hydrogenators, herbicides, pesticides, synthetic hormones, antibiotics, dan steroid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sekiranya kita membawa Adam ke pusat kota moderen, ia pasti akan syok. Reaksi pertamanya mungki batuk-batuk dan mata yang berair karena buangan karbon monoksida. Bunyi lalu lintas akan mengganggu pendengarannya. Orang-orang berwajah pucat dan muram lalu lalang di hadapannya. Iklan-iklan neon yang menawarkan makanan yang dibakar api dan penuh minyak pasti tidak akan dipahaminya. Apotik akan membuatnya bingung. Begitu banyak pil untuk begitu banyak penyakit, padahal Adam hanya tahu kesehatan. Ketika ia berdiri di depan rumah sakit yang dipenuhi orang-orang yang sakit karena tubuh-tubuh mereka yang makin rusak, ia akan merindukan kembali ke Aden .” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menurut McGregor, yang membedakan makanan moderen dengan makanan Adam adalah banyak bahan kimia yang ditambahkan pada makanan. Bahan-bahan penambah itu disebut additif. Ada ribuan bahan kimia di dalamnya. Ambil satu jenis makanan di pasar swalayan. Baca tulisan di bungkusnya. Anda membaca unsur-unsur kimia yang lebih pantas untuk meluncurkan roket daripada membentuk makanan. Additif dimasukkan ke dalam makanan supaya makanan terasa lebih enak, lebih tahan lama, dengan ongkos produksi semurah mungkin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk menyedapkan makanan, produsen memasukkan MSG, monosodium glutamat. MSG adalah asam amino yang dipergunakan untuk otak. Dr. John W. Olany dari the University School of Medicine, St. Louis , mengetes MSG dengan menginjeksikannya pada anak tikus. Sel-sel syaraf tikus, terutama pada hipothalamus, membengkak secara dramatis. Dalam beberapa jam, sel-sel itu mati. Karena laporan penelitian ini, Gerber, Beech-Nut, dan Heinz menghilangkan MSG dari produk makanan bayi mereka. Produsen-produsen lainnya memasang iklan agar ibu-ibu memasukkan racun itu ke mulut bayi-bayinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk mengawetkan sayuran dan daging ditambahkan sodium nitrat. Itulah bahan yang membuat sosis dan bologna awet dan kelihatan merah. Tanpa pengawet itu, daging akan membusuk dan kelihatan jelek. Dalam perut kita, sodium nitrat itu diubah menjadi asam nitrat, yang keras diduga sebagai penyebab kanker perut. Jerman dan Norwegia sudah melarangnya. Negara-negara lain masih menggunakannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Agar “ayam sayur” tumbuh subur dan berkulit kuning, arsenikum dimasukkan ke dalam pakannya. Arsenikum masuk ke dalam makanan dan minuman kita melalui perkakas masak, kaleng minuman, dan alumunium foil. Sekarang diketahui bahwa pada otak penderita Alzheimer bertumpuk arsenikum. Menurut kamus, arsenikum adalah zat kimia beracun dengan nomor atom 33.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Supaya minuman Anda segar, ke dalam botol jus buah, produsen memasukkan minyak brominat. Dengan minyak itu minuman tahan sampai 6 bulan. Penelitian menunjukkan bahwa minyak ini menimbulkan perubahan pada jaringan hati, pembesaran thiroid, kerusakan ginjal, menurunnya metabolisme liver, dan merusak testikel. Kanada, Belanda, dan Jerman sudah melarang semua produk dengan kandungan brominat di negeri-negeri mereka. Tetapi mereka mengizinkan produsen untuk mengimpornya terutama ke negara-negara dunia ketiga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Diperlukan berlembar-lembar tulisan lagi untuk menjelaskan hampir tiga ribu bahan kimia yang ada pada makanan orang moderen. Pende
