Kamis, 12 Agustus 2010

Mencari kenikmatan shalat

Saya diminta untuk berbicara tentang nikmat salat. Terlebih dahulu kita akan bertanya, “di mana letak kenikmatan salat itu?

Ada kawan saya yang telah mendatani beberapa guru, belajar beberapa aliran tarekat, dengan maksud ingin merasakan kenikmatan salat. Dia pernah hadir dalam sebuah pengajian. Dari gurunya, dia diberi bermacam macam bacaan yang harus diucapkan sebelum salat; agar salatnya memperoleh kekhusyukan dan kenikmatan

Dia salat bersama kawannya yang lain. Semua orang menangis terisak isak waktu salat. Dia sendiri tidak bias menangis. Dia memandang kenikmatan salat itu berasal dari tangisan. Makin keras menangis diwaktu salat, makin banyak air mata keluar, makin terasa salat itu nikmat baginya.

Kawan saya ini, seorang purnawerawan, sukar sekali menangis kalau salat. Tetapi dia bercerita kepada saya bahwa dia mudah menangis, kalau dia meliaht dalam televisi atau mendengar radio seorang anak manusia yang menderita karena dianiaya atau disakiti hatinya. Dia memperoleh kenikmatan dalam menangis itu, tetapi tangisan yang sama tidak bias dia keluarkan ketika dia salat.

Kawan saya itu bertanya bagaimana caranya menangis dengan keras dalam salat. Dia ingin merasakan kenikmatan salatnya. Pada saat itu saya katakana kepadanya, “bapak lebih baik menangis ketika melihat penderitaan orang lain ketimbang menangis pada waktu salat. Menangis yang pertama lebih bermanfaat ketimbang menangis yang kedua. Menangis di waktu salat mungkin hanya menguntungkan diri anda saja. Boleh jadi, tidak ada bekasnya sesudah itu.

Kawan saya lalu bercerita “betul saya pernah menyaksikan seseorang dalam rombongan jamaah haji. Ketika dia salat di masjidil haram, dia menangis keras. Tetapi begitu keluar dari masjid! Haram, dia tertawa terbahak-bahak. Tidak tampak bekas tangisan itu di luar masjidil haram itu.”

Buat saya, kenikmatan salat tidak diukur dengan kemempuan menanis. Memang tidak ada jeleknya menangis ketika salat. Nabi sendiri mengajarkan kepada kita untuk menangis. Beliau bersabda: “kalau kamu tidak bisa menangis, maka usahakan supaya kamu dapat menangis”.

Siti aisayah pernah bercerita bahwa di tengah malam, pernah Rasulullah saw bangun. Dia menemuinya dan mengatakan :”hai aisyah, izinkanlah saya beribadah pada tuhanku”. Aisyah berkata, “Ya rasulullah, aku senang engkau dekat denganku. Tetapi aku juga lebih senang jika engkau beribadah kepada tuhanmu.” Lalu Rasulullah mengambil wadah air satu satunya perkakas rumah tangga di rumanya untuk berwudu dan melakukan salat.

Siti aisyah bercerita, baru saja rasuullah mengangkat tangannya, ketika dia memasuki surah yang dibacanya, rasulullah terisak isak menagis. Bilal bertanlya, “Ya Rasulullah, mengapa engaku mengais padahal Allha telah mengampui dosa dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian?” waktu itu Rasulullah menjawab, “bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?”

Kemudian rasulullah bersabda:”pada malam ini turun satu ayat al-Quran. Celakalah orang yang membaca ayat al-Quran ini, tapi tidak merenungkan maknyanya. Kemudian Rasulullah membacakan ayat:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS 3:190)

Rasulullah saw salat dalam keadaan menangis. Para awliya’, orang orang saleh juga menangis pada waktu salat. Kita juga dianjurkan, kalau bisa, salat dalam keadaan menangis.

Karena orang melihat contoh dari Rasulullh saw, sahabat, dan para kekasih Allah, maka mereka menduga bahwa kenikmatan salat hanya terletak pada tangisan. Kalau dia tidak bisa menangis pada waktu salat, maka orang membuat cara bagaimana membuat suasana agar bisa menangis ketika berdoa. Sehingga ada yang kita sebut rekayasa spiritual

Dahulu dan mungkin belakanan ini ada anak anak muda yang dididik dalam training training; apakah itu pesantren kilat, atau studi islam intensif, atau apa saja namanya. Pada hari terakhir acara biasanya, pada tengah malam, diadakanlah apa yang disebut renungan suci. Renungan suci ini dinilai berhasil apabila semua peserta menangis terisak-isak. Lebih berhasil lagi kalau dia menangis histeris dan sesudah itu dia dirawat di rumah sakit jiwa.

Mereka berkata bahwa dengan tangisan itu orang merasakan kenikmatan salat. Sekali lagi, itu tidak salah. Kalau bisa menangislah ketika salat itu. Sadari segala dosa-dosa dan perbuatan yang tercela. Mohonkan ampunan di waktu salat.

Akan tetapi, biasanya dari pengalaman banyak orang dan juga dicontohkan oleh Rasulullah saw, salat dengan menangis itu umumnya hanya bisa dilakukan kalau kita sedang melakukan salat malam. Saya belum membaca keterangan hadis Rasulullah saw bahwa beliau menangis pada waktu salat fardu. Kita hanya mendengar riwayat tangisan Rasulullah itu ketika beliau melakukan salat sunat, terutama sekali salat malam.

Nabi mengajarkan kepada kita bagaimana cara menangis ketika Salat malam. Akan saya sampaikan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dan lakukanlah apa yang diajarkan oleh Rasulullah itu. Saya menjamin bahwa saudara akan terisak-isak menangis ketika melakukannya.

Pertama, ketika salat malam, salatlah dua rakaat, dua rakaat, karena Rasulullah saw paling sering melakukan salat malam dua rakaat. Sesudah empat kali dua rakaat, anda lakukan lagi salat dua rakaat lagi yang disebut dengan salat syafa’. Pada rakaat pertama, anda baca surah al-fatihah dengan al-kafirun; dan pada rakaat yang kedua, anada baca surah al-fatihah dengan al-iklas. Kemudian lakukanlah salat witir.bacalah surah al-fatihah, surah al-falaq dan surah an-nas. Kemudaian bacalah istighfar tujuh puluh kali. Aku memohon ampun kepada Allah dan kembali kepada-Nya.

Memohon ampounan di waktu dini hari, pada saat salat malam ditegaskan di dalm al-Quran sebagai salah satu tanda orang-orang yang bertakwa.

Dan di akhir-akhir malam mereka memohon kepada Allah (QS 51:18)

Setelah istigfar, sebelum ruku’, bacalah doa:”hadza maqamul aidzi bika minannar” yang artinya, “Ya Allah, inilah saya yang berlindung kepada-Mu dari api neraka,” sebanyak 7kali

Sesudah itu, doakan kaum mukminin dan mukminat. Sebut nama mereka satu per satu. Paling sedikit empat puluh orang. Kamudian kita berdoa untuk diri kita sendiri. Lalu kita ruku, iktidal, sujud, tahyat kamudian salam

Insya Allah, anda akan merasakan kenikmatan menangis pada waktu dini hari. Menangis di hadapan Allah SWT.

Mengapa? Pada waktu salat fardhu kita malah dianjurkan untuk memperpendek bacaan salat, karena boleh jadi ada orang yang hendak melakukan keperluannya di tempat lain. Mungkin juga ada orang yang sangat tua, atau ada di antara pengikut salat yang sedang sakit. Karena itu Rasulullah hanya memperpanjang salatnya pada saat beliau melakukan salat malam. Pada salat fardu Rasulullah tidak melazimkan melakukan salat yang panjang.

Saya kira bahwa menangis yang tulus, tanpa rekayasa, adalah menanis pada waktu kita menangis dalam keadaan ramai-ramai, maka boleh jadi sebab tangisan itu adalah sugesti kelompok; karena kita mendengar orang lain sesenggukan, kita ikut menangis juga.

Mungkin ada oaring yang tulus juga dalam menangis pada salat bersamaan itu, tetapi saya kira lebih tulus lagi kalau anda menangis pada waktu sendirian, ketika kita berduaan dengan Allah SWT. Tangisan yang keluar spontan. Tangisan yang iklas. Dan mata yang menangis karena Allah SWT. Artinya, kalau seseorang menemukan tanda-tanda seperti yang diungkapkan oleh hadis tersebut dalam salatnya, maka insyaAllah dia akan menemukan kenikmatan salat dalam bentuk yang lain. Dia akan merasakan manfaat di dalam kehidupannya. Ada kenikmatan tertentu yang dia peroleh dari salatnya. Bukan hanya kenikmatan menangis saja, tetapi juga kenimatan yang lain.

Kalau selama ini salat kita belum mendatangkan kenikmatan, maka besar kemungkinan salat kita belum diterima oleh Allah SWT. Rasulullah saw yang mulia bersabda:”pada hari kiamat nanti ada orang yang membawa salatnya kepada Allah SWT. Bahkan ada yang celaka dengan salatnya. Allah SWT berfirman:

Celakalah orang-orang yang salat. yaitu orang orang yang melalaikan salatnya(QS 107:4-5)

sumber: at-tanwir

Tidak ada komentar: